Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Putusan Perceraian


__ADS_3

Hari berganti dengan hari, hingga tiga pekan pun telah dilalui. Kini Marsha akan kembali bersiap untuk mendatangi Pengadilan Agama tempatnya mendaftarkan gugatan perceraiannya dengan Melvin. Sejak berada di dalam apartemennya, Marsha mempersiapkan dirinya. Marsha kali ini tampil rapi dengan celana bahan berwarna hitam dan sebuah kemeja berwarna merah muda. Rambutnya yang panjang, dia urai begitu saja.


Menjelang siang, Marsha mulai keluar dari apartemennya dan kemudian menuju ke parkiran basement untuk mengambil mobilnya dan akan segera menuju ke Pengadilan Agama. Namun, sebelum sampai di tempat mobilnya berada, ada Abraham yang menghentikan Marsha.


"Sha," panggil Abraham sembari tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Marsha.


Tersekiap, Marsha pun menoleh dan melihat Abraham yang ada di belakangnya.


"Eh, Bram," balasnya dengan menatap ke pria itu.


"Mau ke Pengadilan Agama sekarang?" tanya Abraham kepada Marsha.


Perlahan Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... persidangan selanjutnya akan digelar hari ini," balas Marsha.


"Langsung putusan?" tanya Abraham lagi. Sebab, dari proses persidangan Marsha yang Abraham butuhkan adalah putusan bahwa Pengadilan Agama sudah memutuskan keduanya resmi bercerai.


"Aku tidak tahu, hanya saja aku berharap bisa secepatnya selesai," balas Marsha. Ya. Marsha pun tak ingin berlarut-larut, jika bisa segera selesai, lebih saja cepat untuk diselesaikan.


Abraham pun menganggukkan kepalanya dan menatap Marsha, "Aku antar yah?" tawar Abraham kali ini.


"Aku sendiri saja, Bram," balas Marsha.


Namun, Abraham segera menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku akan temenin kamu. Aku tunggu di mobil saja tidak masalah," balas Abraham.

__ADS_1


Pria itu terlihat begitu bersikeras untuk mengantar Marsha ke Pengadilan Agama. Sehingga akhirnya Marsha mau menerima tawaran dari Abraham itu.


Kali ini Marsha datang lebih awal di Pengadilan Agama. Wanita itu meminta kepada Abraham untuk menunggunya di luar saja, sementara Marsha memilih memasuki ruang sidang dan duduk di barisan agak belakang. Tidak berselang lama, Melvin pun datang. Kali ini Melvin datang tidak dengan kuasa hukumnya, melainkan bersama Lista. Bahkan pria itu begitu mesranya menggandeng tangan Lista.


Seolah menghiraukan Marsha yang sedang duduk di sana. Melvin dan Lista pun duduk bersama. Sesekali mereka berbisik-bisik sembari tertawa. Sementara Marsha memilih diam dan sesekali melihat gadget di tangannya.


Tidak berselang lama Majelis Hakim dan petugas lainnya mulai memasuki ruangan. Majelis Hakim menunjuk ke dua kursi yang ada di depan, mengisyaratkan supaya Tergugat dan Penggugat bisa sama-sama menduduki kursi yang berada di hadapan Majelis Hakim.


"Selamat siang semuanya ... mengingat dan menimbang sidang guguatan cerai yang dilayangkan oleh Penggugat atas nama Marsha Valentian terhadap Tergugat yaitu Melvin Andrian, serta keputusan dari kedua belah pihak yang menolak adanya mediasi untuk mencari jalan tengah atau solusi dari permasalahan rumah tangga yang kini dijalani, maka:


Pertama, Pengadilan Agama Negeri Provinsi DKI Jakarta memutuskan bahwa perceraian dari Saudara Marsha Valentina dan Saudara Melvin Andrian sebagaimana yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, maka perceraian ini pun dikabulkan. Sah!


Marsha memejamkan matanya perlahan saat Hakim mengatakan sah dan mengetok palu sebanyak tiga kali. Dengan ketokan palu itu, berakhir pulalah rumah tangga Marsha dan Melvin.


"Kamu puas dengan apa yang kamu minta?" tanya Melvin kali ini.


Akan tetapi, Marsha hanya diam dan enggan untuk menjawab pertanyaan Melvin itu. Walau perih, tetapi perpisahan adalah jalan terbaik yang Marsha ambil sekarang ini. Lagipula, untuk apa menyesali pernikahan yang hanya memberi duka, dan selalu menyakitinya baik itu secara fisik, mental, dan juga seksual. Marsha berpikir perceraian adalah jalan terbaik yang dia ambil kali ini.


"Tenang saja, kamu masih akan mendapatkan kompensasi dan harta gono-gini dariku. Kamu sudah sah menjadi Janda Melvin Andrian," ucap Melvin lagi dengan senyuman menyeringai.


Sungguh, pria itu justru terlihat begitu jumawa dan juga terlihat bahagia karena pernikahan sudah berakhir. Lantas, Melvin menarik tangan Lista, membuat wanita itu kian mendekat ke arahnya.


"Tidak lama lagi aku akan menikahi, Lista, jadi datanglah jika kamu bisa," ucap Melvin kali ini.

__ADS_1


"Tidak perlu berlagak seperti itu di hadapanku ... aku tahu pasti dengan apa yang terjadi. Jangan terlalu bahagia, karena terlalu bahagia juga tidak baik. Jadi, nikmati saja kehidupanmu mulai sekarang ini," sahut Marsha.


"Tentu aku akan bahagia karena lepas darimu. Wanita sialan!" sahut Melvin pada akhirnya dan berlalu begitu saja dari hadapan Marsha.


Sungguh getir rasa hati Marsha sekarang ini. Terlebih dengan ucapan kasar yang diucapkan Melvin kepadanya. Namun, Marsha tak ingin ambil pusing. Alih-alih meladeni setiap ucapan Melvin, lebih baik Marsha menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Untuk melawan Melvin yang arogan, Marsha tak ingin main hakim sendiri. Melainkan Marsha akan menempuh jalur hukum, memperjuangkan keadilan untuk dirinya sendiri. Sungguh, di luar kesempatan saat ini pun, Marsha tak ingin bertemu lagi dengan Melvin.


Marsha tak ingin melibatkan media, yang Marsha tempuh sekarang adalah jalur hukum. Semoga saja hukum akan memberikan keadilan kepadanya. Jika nyatanya hukum tidak bisa memberikan keapdanya, maka Marsha akan menempuh jalan lainnya.


Membiarkan Melvin dan Lista untuk keluar dari ruangan sidang, barulah Marsha keluar. Wanita itu berjalan gontai. Bukan perpisahan yang membuatnya terluka, tetapi ada setiap perbuatan kasar yang selalu Melvin lakukan padanya. Bisa Marsha lihat dan rasakan bahwa Melvin bisa memperlakukan Lista dengan baik, tetapi tidak kepadanya. Apa salahnya, hingga Melvin tak pernah memperlakukannya sebaik itu.


Sampai akhirnya Marsha berjalan dan menghampiri Abraham, yang sudah menunggu di depan mobil. Abraham tersenyum dan memberikan anggukan samar kepada Marsha yang berjalan masih beberapa meter di hadapannya. Marsha mempercepat langkahnya, dan kemudian wanita itu kini tersenyum menatap Abraham.


“Sudah diputuskan Bram,” ucapnya kali ini.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Abraham kepada Marsha.


Sampai akhirnya Marsha menghela nafas sejenak, dan kemudian mulai berbicara menjawab pertanyaan dari Abraham tersebut.


“Kami sudah bercerai. Aku sudah bebas darinya,” balas Marsha kali ini.


Abraham tersenyum, satu tangannya terangkat dan mulai memberikan usapan di puncak kepala Marsha.


“Akhirnya … i am happy for you, Sha,” balas Abraham dengan begitu tulus. Tidak dipungkiri Abraham justru bahagia saat Marsha mengakhiri rumah tangganya dengan Melvin. Abraham mau dan rela untuk segera menggantikan posisi Melvin di dalam hidup Marsha. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang, tetapi Abraham akan berupaya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Kali ini pun Abraham merasa bahagia karena akhirnya peliknya rumah tangga Marsha sudah berakhir. Abraham kini bisa melanjutkan rencananya untuk menikahi Marsha begitu masa iddah bagi wanita telah usai. Sungguh, Abraham akan mewujudkan janjinya untuk menikahi Marsha.


__ADS_2