Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Momen Dramatis


__ADS_3

Menyelesaikan urusannya memotret Arman dan calon istrinya, Abraham memilih menikmati udara segar di ketinggian 1200 meter di atas permukaan lau itu. Gunung Ungaran yang menjulang tinggi, dan kabut yang mulai turun menjadi tempat itu terlihat kian menawan. Berada di Candi Gedong Songo memang membuat seolah berada di Negeri di atas awan. Benar-benar indah.


Kali ini, Abraham memilih turun dan memotret beberapa spot terbaik di sana. Di lain waktu, Abraham bisa merekomendasi tempat ini sebagai salah satu tempat pemotretan outdoor yang indah dan juga menawan.


Dari Candi Gedong Empat. Abraham turun melihat spot foto yang dibuka oleh salah satu pengembang hotel dan wisata. Terdapat 35 spot foto yang berbayar di area foto. Abraham pun memasuki area itu dan mengambil gambar beberapa spot foto di sana.


“Kalau datang sama kamu di tempat kayak gini … kamu pasti suka, Sha. Lihat, spot-spot foto bahkan kamu bisa foto di dalam balon gelembung. Pasti kamu suka, Sha,” kata Abraham dalam hatinya.


Mengingat spot-spot foto ini membuat Abraham benar-benar merindukan Marsha. Mengelilingi spot-spot foto itu, Abraham kemudian mengambil tempat duduk untuk melihat hasil jepretannya. Pria itu menggeser hasil jepretannya di kamera DSLR miliknya, dan melihat apakah hasil jepretannya bagus. Foto demi foto dia geser, ada beberapa foto yang bagus menurutnya, tetapi ada juga foto yang kurang bagus. Sehingga Abraham pun menggeser dan menekan tanda hapus untuk menghapus foto yang menurutnya kurang bagus.


Setelahnya, Abraham kembali naik, dan dia akan memotret candi di Gedong Empat, Lima, dan seterus. Lagipula, meluangkan waktu sejenak untuk menikmati pemandangan tidak ada salahnya. Rute yang diambil Abraham adalah dari candi yang berada paling tinggi, setelahnya dia akan turun ke bawah sembari kembali ke parkiran untuk mengambil mobilnya.

__ADS_1


Jika Candi Gedong Empat adalah candi dengan view terbaik dan laksana berada di atas awan. Untuk ke candi berikutnya justru menimbulkan kesan mistis, dan kabut yang lebih tebal menyelimuti area candi itu, sehingga Abraham juga memilih tidak berlama-lama berada di atas. Sebab, kabut turun begitu tebal. Abraham memilih kembali ke gedong empat, dan mengabadikan view di sana sebelum pulang. Dengan mempercepat langkah kakinya, Abraham terus berjalan. Walau dadanya kembang kempis karena medan yang menanjak dan tergesa-gesa karena menghindari kabut yang begitu tebal, akhirnya sampailah Abraham kembali di Gedong empat.


Menetralkan nafasnya yang menderu, dan jantungnya yang berdebar lebih kencang karena buru-buru mencapai bawah. Abraham memilih duduk dan kemudian pria membidik beberapa titik view terbaik dengan kamera DSLR miliknya.


Matanya mendekat ke viewfinder (alat yang dipakai untuk mengeker apakah objek sudah memiliki fokus sempurna atau belum). Satu mata Abraham terpejam dan hendak membidik view yang jaraknya beberapa meter di depannya, tetapi kali ini justru Abraham menangkap objek yang mengganggu view tersebut.


Abraham lantas beringsut, dan mencari view yang lain. Sayangnya, objek yang terlihat dengan viewfinder kameranya seakan mengikuti pergerakannya. Hasrat hati, Abraham ingin berkata kepada orang yang sosoknya tertangkap viewfindernya itu, dan meminta untuk menyingkir sejenak.


Namun, Abraham tak melakukannya. Alih-alih kesal, Abraham justru memperhatikan wanita dengan rambut sepunggung yang hitam dan lurus itu. Wanita yang kala itu mengenakan cardigan berwarna hijau toska, dan rok panjang. Hari itu sudah mulai sore, tetapi masih ada seorang wanita di sana.


Abraham merasakan dadanya bergemuruh riuh. Kali ini yang dia cari selama lebih dari dua bulan terakhir, akhir ada di depan matanya. Abraham segera melepaskan kamera miliknya, dan menaruhnya kembali ke dalam ransel. Selebihnya, Abraham berjalan berusaha untuk tidak terdengar bunyi telapak kakinya, dan menuju ke sosok wanita yang masih berada di pelataran Candi Gedong Empat itu.

__ADS_1


Dari jarak beberapa meter yang tersisa, sosok yang begitu ingin dia temui itu masih tidak mengetahui ada orang lain yang menuju ke arahnya.


Sampai akhir Abraham berada tepat di belakang wanita itu. Tak perlu menunggu lama, Abraham memangkas jarak, tangannya bergerak dan segera melingkari pinggang wanita itu.


"Marsha ... Sha ... Yang ... aku menemukanmu. Aku menemukanmu, Sha ... Yang," ucap Abraham dengan mendekap wanita yang tidak lain adalah Marsha itu.


Sungguh pertemuan yang tak terkira dan begitu dramatis. Candi yang elok dan laksana negeri di atas awan ini justru menjadi saksi bagaimana keduanya bertemu kembali.


"Bram," suara Marsha begitu lirih. Sampai angin dari perbukitan yang bertiup menyamarkan suaranya.


Tubuh Marsha rasakan membeku, tidak mengira bahwa di Candi Gedong Songo tanpa sengaja dia bertemu lagi dengan Abraham.

__ADS_1


Jantung Marsha pun berdebar-debar tak menentu, air matanya berderai begitu saja. Ada rasa sesak, rasa kalut, dan kebingungan yang mendominasi perasaan Marsha sekarang ini. Menurutnya dirinya sudah lari begitu jauh, tetapi nyatanya di sini ... di tempat yang elok dan jauh dari perkotaan ini justru dirinya bertemu lagi dengan Abraham.


"Aku menemukanmu, Sha ... aku menemukanmu. Oh, Marsha ... aku kangen kamu, Sha ... Yang," ucap Abraham dengan kian mendekap erat tubuh Marsha itu.


__ADS_2