
Semalam benar-benar menjadi malam yang penuh kenangan untuk Marsha dan Abraham. Bagaimana tidak, malam pertama di rumah baru dilewati mereka berdua dengan memadu kasih bersama. Seolah melakukan ritual di rumah baru. Malam yang bergelora dengan penuh cinta. Setelah masa nifas berakhir, baru kali ini keduanya memadu kasih bersama.
"Makasih Shayang ... emangnya sejak kapan kamu selesainya?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Udah sepekan yang lalu sih ... cuma aku memang enggak ngomong sama kamu," balas Marsha.
Rupanya Abraham pun merespons dengan mencubit hidung istrinya itu, "Kamu ini ... tahu gitu kan aku bisa mengakhiri puasa dengan lebih cepat. Kok, enggak langsung bilang sih?" tanya Abraham. Seolah pria itu ingin protes pada Marsha yang tidak memberitahunya sejak sepenak yang lalu.
"Kita masih hectic banget untuk pindahan rumah. Jadi yah, fokus ke pindahan dulu saja Mas ... lagian kan justru kita sama-sama melakukannya lagi di rumah baru," balas Marsha.
"Ya iya sih ... dua pekan terlalu singkat untuk pindahan. Untung saja Pak Belva dan Bu Sara nolongin kita," balas Abraham.
Ya, dengan barang-barang yang dipindahkan, mendesain rumah, menata beberapa furniture, dan juga membuat kamar baby untuk Mira yang semuanya benar-benar dikebut hanya dalam waktu dua pekan rasanya begitu mendadak. Sehingga, memang selama dua pekan ini dihabiskan mereka untuk packing dan mengurus pindahan rumah.
"Perumahan di sini lebih sepi ya Mas ... kalau di unit kan, dari jauh udah jalan raya Ibukota," balas Marsha.
"Iya Shayang ... karena unitku itu letaknya di kawasan strategi dan dekat jalan raya. Perumahan ini juga tidak jauh dari jalan raya kok. Tenang tempatnya. Semoga kamu dan Mira betah di sini yah," balas Abraham.
"Aku selalu betah kok Mas ... sama seperti yang pernah aku bicarakan sebelumnya bahwa rumahku adalah kamu. Bangunan ini tidak ada artinya, jika tidak ada kamu di samping aku," balas Marsha dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Abraham tersenyum, pria itu kini dengan cepat mendaratkan kecupan di kening Marsha dengan begitu tulus. "Makasih Shayang ... saat mengetahui bahwa hidup kita berharga untuk orang lain, untuk pasangan kita, rasanya hidup itu jauh lebih bermakna. Terima kasih karena kamu memberikan makna baru di dalam hidup aku," balas Abraham.
"Sama-sama Mas ... kamu pun begitu. Kamu memberikan makna baru di dalam hidup aku. Semula aku begitu takut untuk menghadapi kenyataan yang ada. Aku hidup dalam ketakutan, dan sekarang bersama pria yang tepat aku menemukan makna hidup bahagia yang sesungguhnya. Ya, aku tahu bahwa hidup bahagia itu relatif. Satu orang dengan orang yang lainnya berpendapat berbeda, hanya saja cukup denganmu, aku merasa bahagia," balas Marsha.
Marsha menyampaikan ungkapan perasaannya dengan sungguh-sungguh bahwa menemukan orang yang tepat membuatnya menemukan makna hidup bahagia. Bersama pria yang tepat dan mencintainya dengan tulus, semua harta di dunia ini seakan tak ada artinya. Lebih bermakna untuk selalu bersanding dengan suaminya itu.
Sementara Abraham menyadari bahwa memang kebahagiaan dalam hidup itu relatif. Hanya saja, Abraham sangat yakin bahwa dia dan Marsha akan selalu berusaha untuk menghadirkan kebahagiaan dalam hidup mereka sendiri. Rumah baru dan istana baru ini akan terisi dengan kebahagiaan yang mereka berdua ciptakan bersama.
"Ya sudah ... sudah malam Shayang. Kamu mau tidur sekarang?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Iya ... penting dipeluk saja Mas. Aku tidak bisa tidur jika tidak kamu peluk," balas Marsha.
Malam pertama di rumah baru yang sangat indah. Ada cinta, ada ucapan hangat, semoga saja hal-hal manis seperti ini bisa selalu hadir dalam hidup mereka berdua. Kali ini mereka akan sama-sama tertidur, membiarkan malam membuainya, dan pelukan hangat dari suami tercinta yang akan membingkai sepanjang malam ini.
***
Keesokan harinya ....
Pagi ini Marsha bangun lebih pagi. Hal yang pertama dia pegang di pagi hari tentu adalah Mira. Memberikan ASI secara eksklusif untuk bayinya dan juga menyiapkan untuk mandi bayi kecil itu. Sementara itu di bawah ada Mama Mira yang rupanya sudah menyiapkan sarapan. Begitu selesai mengurus Mira, Marsha segera membawa bayi kecilnya itu untuk turun ke bawah menyapa Mama Diah yang sudah berkutat di dapur.
__ADS_1
"Pagi Eyang," sapanya dengan menggendong Mira.
"Pagi Marsha ... pagi cucunya Eyang yang cantik. Udah pagi banget sudah mandi ... Mira anak yang rajin yah," balas Mama Diah.
"Iya Eyang ... bangun tidur Mira terus mandi," balas Marsha dengan tersenyum dan menggendong bayinya itu. "Mama, kalau di sini belanja sayur di mana yah? Kalau di apartemen kan ada mobil yang jualan sayur keliling itu. Kira-kira di sini ada tidak ya Ma?" tanya Marsha.
Padahal mereka sama-sama baru tinggal di situ. Sudah pasti Mama Diah pun tidak tahu apakah ada tukang sayur yang lewat. Hanya saja, keluarga pun obrolan yang tidak penting pun bisa diobrolkan bersama.
"Coba saja nanti jalan-jalan ke luar dulu, Sha ... biar Mama yang pegang Mira. Sapa tahu di depan pos sekuriti itu ada penjual sayur yang jualan," balas Mama Diah.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, ya mungkin saja di dekat pos sekuriti ada tukang sayur yang berjualan keliling sehingga Marsha bisa belanja sayur. Bagaimana pun kebutuhan sayur itu adalah kebutuhan pokok. Jika bisa mendapatkannya dengan mudah tentu akan sangat menyenangkan bukan?
"Lebih enak pagi di sini Marsha ... udaranya juga sehat," ucap Mama Diah dengan tiba-tiba.
"Iya Ma ... cuma kerasa sepi ya Ma ... biasanya di unit sana udah ramai banget," balas Marsha.
"Cuma kalau untuk berkeluarga enak di sini Sha ... udaranya bersih dan sehat untuk Mira," balas Mama Diah.
Marsha pun mengangguk setuju. Sungguh, rasanya begitu senang bisa menempati rumah baru. Bukan hanya lingkungannya yang enak dan nyaman, tetapi tentu rumah ini akan menjadi tempat tumbuh kembang yang baik untuk Mira nantinya.
__ADS_1