Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Mengetahui Fakta Tersembunyi


__ADS_3

Dengan hati-hati Marsha mengemudikan mobilnya, turun dari area Candi Gedong Songo dan kembali ke rumah Eyangnya di kawasan Ungaran. Gerimis yang turun menjelang sore itu, membuat Marsha lebih berhati-hati mengemudikan mobilnya. Sementara di belakang Abraham pun mengekori mobil Marsha dengan mobilnya sendiri.


Perjalanan hampir satu jam, kini mereka telah tiba di rumah Eyang Partinah. Abraham pun rupanya bukan hanya mengekori Marsha, tetapi pria itu turut ingin masuk ke dalam rumah Eyang Putri terlebih dahulu, karena masih ada yang ingin tanyakan kepada Marsha.


“Aku mampir sebentar yah,” balas Abraham.


Marsha pun menyipitkan matanya, menatap Abraham. Marsha kira sudah cukup Abraham tahu di mana dia tinggal sekarang. Rupanya itu saja belum cukup, Abraham masih ingin mampir.


Sementara Eyang Partinah yang saat itu keluar dari rumah pun justru menyapa Abraham dan mempersilakan pria yang dianggap sebagai teman cucunya itu untuk mampir terlebih dahulu.


“Sha, temannya diajak masuk to … di luar gerimis, nanti pusing kena air hujan loh. Mari Mas, masuk,” ucap Eyang Partinah dengan begitu ramahnya.


“Nggih, Eyang, (Iya, Eyang - dalam bahasa Indonesia),” jawab Abraham.


Merasa mendapat lampu hijau dari Tuan Rumah, Abraham pun masuk dan menyapa Eyang Partinah itu.


“Selamat sore Eyang,” sapanya dengan berjabat tangan dengan wanita yang rambutnya putih itu. Mungkin usianya di atas 60 tahun, tetapi Eyang Partinah masih terlihat cantik. Cantik khas orang Jawa.


“Masuk Mas … di luar dingin,” balas Eyang Partinah.


Marsha pun menghela nafas, sebal sebenarnya, tapi agaknya Abraham menghiraukannya dan justru ingin mampir.


“Sha, temannya dibuatkan minum dulu … minuman hangat. Di luar gerimis, udaranya semakin dingin,” ucap Eyang Partinah.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, dan menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Abraham. Baru beberapa menit di dapur, Eyang Partinah sudah kembali berbicara. “Pisang Goreng yang masih hangat itu, dibawa sekalian, Sha … biar dimakan sama Mas Bram ini,” pinta Eyang.


“Ya Eyang,” sahut Marsha dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


Hampir lima menit berlalu, Marsha pun keluar membawa nampan berisikan tiga gelas Teh Hangat dan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Kemudian, menaruhnya di atas meja. Marsha kemudian menggunakan nampan itu menutupi perutnya, dengan menaruhnya tepat di depan perut.


“Diminum Mas Bram … mumpung masih hangat. Pisang goreng dimakan juga, dihabiskan tidak apa-apa,” ucap Eyang.


“Matur nuwun (terima kasih - dalam bahasa Jawa) Eyang,” balasnya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


“Ya sudah … kalian ngobrol saja … Eyang masuk dulu,” ucap Eyang Partinah yang memberi waktu bagi Marsha dan Abraham untuk ngobrol bersama.


Begitu Eyang Partinah sudah masuk ke dalam, mulailah Abraham berpindah tempat duduk di samping Marsha. Pria itu menatap wajah Marsha dari dekat. Sementara Marsha yang ditatap dan diperhatikan menjadi salah tingkah.


“Jadi, kamu tinggal di sini ya Sha? Sejak pergi dari Jakarta?” tanya Abraham.


“Hmm, iya,” jawab Marsha dengan singkat.


“Masih akan di sini berapa lama?” tanya Abraham.


“Entahlah … mungkin aku akan di sini selamanya. Aku sudah tidak punya tempat tinggal dan tempat tujuan,” balas Marsha.


“Bram, itu tidak mungkin,” balas Sara dengan lirih.


“Apanya yang tidak mungkin? Restu dari Mamaku kan?” tanya Abraham.


Marsha diam dan tidak memberikan jawaban. Walaupun perasaannya yang dulu bersemi bagi Abraham masih ada, tetapi kelihatan jalan yang terjal pun harus siap dia lalui jika menerima Abraham.


“Apa yang kamu takutkan Sha? Kamu punya aku, cukup … jadikan aku rumahku. Di rumahku yang akan ada aku dan kamu,” ucap Abraham lagi.


Tidak sengaja, Marsha menaruh nampan yang semula dia pakai untuk menutupi perutnya itu, dan kemudian Marsha menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, dengan keadaan yang bersandar, ada sesuatu yang aneh di bagian perut Marsha itu, sesuatu yang kecil, tetapi tetap terlihat berbeda.

__ADS_1


Abraham yang memperhatikan perut Marsha pun, membawa tangannya untuk mengusap perut itu.


“Marsha … kamu?” tanya Abraham dengan begitu terkejut.


Refleks, Marsha segera menghempaskan tangan Abraham di perutnya, dan membawa kedua tangannya bersidekap di depan perut untuk menutupi tonjolan di perutnya yang tidak seberapa itu. Namun, biasa memiliki perut yang rata, dan kini ada yang berbeda, tentu saja tonjolan kecil bisa terlihat.


“Marsha, katakan … dia anak aku, kan?” tanya Abraham dengan memejamkan matanya.


“Bukan,” sahut Marsha dengan cepat sembari membuang wajahnya.


“Itu tidak mungkin Sha … aku yakin bahwa dia adalah anakku. Waktu itu, benihku bersemi di sini, Sha. Ya ampun, Marsha ….”


Abraham terkejut, tetapi sebenarnya dia bahagia. Sepenuhnya Abraham yakin bahwa Marsha tengah hamil. Benaknya seolah menghubungi dengan saat Marsha mual dan muntah di Candi Gedong Songo tadi. Abraham semakin yakin bahwa itu bukan sekadar masuk angin, tetai gejala kehamilan yang diidap oleh Marsha.


“Bukan Bram,” sahut Marsha lagi.


Kali ini wanita itu meneteskan air mata. Harus dengan cara apa lagi dia mengelak? Elakan demi elakan yang dia katakan nyatanya tidak meruntuhkan keyakinan Abraham. Semakin Marsha mengelak, justru semakin Abraham merasa yakin.


Tidak disangka, ada sebuah Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang berwarna pink tergeletak tidak jauh dari tempat Abraham duduk, dengan cepat Abraham pun menyahut buku itu.


“Bram, jangan ….”


Sara berusaha menyergah, tetapi Abraham sudah terlebih dahulu membukanya. Begitu membuka sampulnya yang berwarna pink magenta itu, Abraham membaca di halam selanjutnya, di sana tertera nama Ibu, nama NIK Ibu, dan selanjutnya nama Suami.


Begitu Abraham mendapatkan jawaban yang dia cari.


“Di sini … nama suami kamu A. Narawangsa. Itu sudah pasti aku, Sha … Abraham Narawangsa. Aku adalah Ayah dari bayi kamu kan?” tanya Abraham.

__ADS_1


Kali ini dada Abraham berdebar … selama Marsha pergi, rupanya Marsha tengah mengandung. Memang Marsha tidak memberikan pengakuan secara verbal, tetapi bukankah tulisan tangan Marsha di buku KIA itu sudah memberikan jawaban yang jelas bahwa Ayah dari bayi yang tertera di sana berusia 12 minggu adalah dirinya. Abraham Narawangsa.


Air mata Marsha pun luruh, wanita itu terisak … tak bisa lagi mengelak kepada Abraham. Sebab, di saat dia mengelak, yang ada justru Abraham menemukan jawabannya sendiri.


__ADS_2