
Lima Belas Menit Usai Mandi Panas ....
Abraham membantu Marsha untuk mengenakan bajunya, pria itu terlihat telaten untuk mengaitkan besi kecil di balik punggung Marsha. Lantas, dia membopong Marsha untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Abraham tersenyum melihat wajah Marsha yang sayu.
"Capek Shayang?" tanyanya.
"Hm, iya ... sekarang capeknya. Kamu sih, dikasih tahu saran dari Dokter, langsung dipraktikkan. Semangat banget Mas," balas Marsha dengan menghela nafas.
"Ya, sudah habis ini bobok saja ... capek kan?"
"Mau minum Mas ... tenggorokanku kering," pinta Marsha dengan memegangi lehernya yang merasakan tenggorokannya begitu kering sekarang.
Abraham pun tersenyum di sana, "Kamu kebanyakan mende-sah Shayang ... jadinya tenggorokannya kering deh. Tunggu di sini yah, aku ambilkan minum dulu," balas Abraham.
Kemudian Abraham turun ke dapur untuk mengambil air minum, dalam perjalanan menuju ke kamar wajah Abraham full senyum. Dia merasa begitu senang dan juga tentunya terpuaskan. Bercinta dengan Marsha selalu saja bisa memperbaiki mood Abraham, dia menjadi begitu semangat dan wajahnya begitu cerah, tak jarang pria itu bersenandung lirih sembari menuju ke dalam kamarnya.
"Shayang, diminum dulu ... sekalian vitamin dan kalsiumnya yah," ucap Abraham.
Marsha pun menerima segelas air putih itu dan kemudian sembari meminum dua jenis obat yang diberikan oleh Abraham, meneguknya bersamaan dengan air yang dia minum. Setelahnya, Marsha tampak bersandar di head board dengan mata yang sudah begitu berat.
__ADS_1
"Ngantuk Shayang?" tanya Abraham lagi.
"Iya Mas ... sekarang usai bercinta sama kamu, jadi ngantuk deh," balasnya.
Abraham tertawa di sana, pria itu segera berbaring di samping Marsha, dengan menelisipkan tangannya di bawah kepala Marsha, "Cuma enak Shayang ... kan sekarang sudah menjelang trimester akhir, justru harus olahraga bagi jiwa. Olahraga super mantap," balas Abraham.
"Hobinya kamu ya Mas?" tanyanya.
"Iya, hobi ... sejak sama kamu dan terhanyut dalam hasrat terlarang, udah deh ... aku ambyar," balas Abraham dengan menggunakan bahasa Jawa yang membuat Marsha terkekeh geli di sana.
"Bisa-bisanya loh Mas ... geli aku mendengar kamu memakai bahasa Jawa," balas Marsha.
"Mau enggak Shayang, sering-sering olahraga bersama? Ya, itu pun kalau kamu mau, kan kamu tahu sendiri kalau aku tidak akan memaksa kamu. Selama menjadi suami kamu, aku tidak pernah memaksa kamu kan. Aku cuma mau mendukung kamu saja, kali saja kamu ingin persalinan normal lagi, sehingga nanti otot-otot panggul kamu sudah kuat," balasnya.
"Itu aslinya sih Modus ... cuma mengatasnamakan dukungan untuk persalinan normal aja," balas Marsha.
"Enggak ... serius. Aku enggak bohong, kan tadi Dokter Indri bilang gitu. Mana ada aku modus?"
Abraham menjawab dan mengelak karena memang sebenarnya dia tidak modus. Dia ingin bisa membantu istrinya itu menjelang persalinannya.
__ADS_1
"Ya, lihat saja nanti ya Mas ... aku juga kurang tahu dan tidak bisa menjanjikan. Cuma ya kalau pengen bilang saja, tidak usah ditahan-tahan. Kalau kamu bilang, pasti aku kasih kok," balasnya.
Abraham tersenyum, "Yah, aku mah bilang terus sama kamu Shayang ... dari tatapan saja, kamu sudah tahu kalau aku sedang mendamba," balas Abraham.
"Kamu itu mudah ditebak, Mas ... dari wajah kamu sudah bisa ditebak," balas Marsha.
"Ya kan yang bisa menebak cuma kamu saja," balas Abraham.
"Karena aku begitu mengenal kamu luar dalam, jadi ya sudah tahu. Satu tatapan saja, aku bisa menebaknya," balas Marsha.
Keduanya pun tertawa bersama, dan Marsha segera memposisikan dirinya untuk berbaring di samping suaminya, dengan mencerukkan wajahnya di dada suaminya. Menghirupi aroma woody bercampur dengan Citrus yang memberikan kesan maskulin dan sporty.
"Nanti aku melahirkan normal atau caesar ya Mas?" tanya Marsha kemudian.
"Senyaman kamu saja, Shayang ... mau normal atau caesar tidak masalah. Hanya mitos yang mengatakan bahwa ibu sepenuhnya itu yang melahirkan normal. Faktanya semua ibu adalah ibu yang sepenuhnya dan sempurna, mereka yang mengandung selama 9 bulan 10 hari dan juga mereka yang berjuang untuk melahirkan bayinya. Mau normal atau caesar sih aku tidak masalah sama sekali," balas Abraham.
"Nunggu pemeriksaan bulan depan ya Mas ... kalau memang posisi bayinya bagus dan bisa normal ya aku akan persalinan normal saja. Cuma, kalau posisi bayinya melintang dan ada lilitan, kelihatannya aku memilih untuk normal deh Mas ... boleh kan?" tanyanya.
"Boleh Shayang ... mau normal atau caesar yang pasti aku akan selalu mendampingi kamu Shayang ... tinggal menghitung beberapa minggu lagi ya Shayang ... gak sabar untuk bertemu dengan baby boy," balas Abraham.
__ADS_1
"Iya, beberapa minggu lagi ... sudah engap dan juga rasanya di pinggang sudah lebih pegal," balasnya.
"Sebentar lagi ya Shayang ... semangat biar nanti bisa bersalin dengan tenang dan lega," balas Abraham.