Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Perasaan Abraham


__ADS_3

“Ya sudah Ma … Mama bisa istirahat. Di dalam kamar ini bersih kok, Ma karena Marsha selalu membersihkannya. Sprei dan selimutnya juga bersih, walau sederhana bisa untuk beristirahat dulu,” ucap Marsha.


“Makasih banyak Sha … makasih banyak telah menolong Mama,” ucapnya.


Begitu Mama Saraswati memasuki kamar tamu yang ada di lantai satu. Kemudian Marsha dan Abraham masuk ke dalam kamarnya. Tampak Abraham yang masih bersifat biasa saja dan menggenggam tangan istrinya itu.


“Are you okay Hubby?” tanya Marsha kepada suaminya.


Sebagai istri yang mengenal karakter Abraham, sudah pasti Marsha tahu bahwa Abraham memang memproses segala sesuatu terlebih dahulu. Kemudian barulah Abraham akan bisa bercerita banyak hal. Abraham pun sering kali menjadi orang yang tertutup, tetapi bersama Marsha, Abraham selalu bisa menjadi orang yang terbuka.


Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya di sana, “I am fine. I am okay,” balasnya.


Tidak banyak bicara, Marsha segera memeluk suaminya itu. Melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh suaminya. Rasanya, Marsha begitu bersyukur dan juga bangga dengan karakter Abraham.


“Aku tahu ini tidak mudah, hanya saja kamu mau melakukan yang terbaik. Aku tahu di hatimu pasti bergejolak. Hanya saja kamu mau melupakan semuanya itu,” ucap Marsha perlahan.

__ADS_1


“Aku sudah tidak apa-apa, Shayang. Lagipula, cara terbaik untuk hidup bahagia adalah melupakan dendam. Membiarkan semua yang sudah terjadi, toh apa yang mau diributkan lagi. Setiap orang akan terluka dengan sudut pandangnya masing-masing. Akan tetapi, aku tidak mau terluka lagi dengan masa laluku. Biarkan saja, aku ingin hidup bahagia dan menganggap semua yang terjadi di masa lalu adalah cara Tuhan untuk mendewasakan aku,” balasnya.


Mendengar apa yang disampaikan suaminya, Marsha mengurai pelukannya dan tersenyum menatap Abraham, “Aku suka kamu yang seperti ini. Pria yang dewasa dan tidak menyimpan dendam. Kamu panutan banget buat aku dan pasti Mira juga senang memiliki Best Daddy,” balasnya.


“Biasa saja Shayang … aku dulu juga mendendam. Namun, setelah dipikir-pikir untuk aku terus-terusan mendendam dan membuatku rugi sendiri. Cuma, aku tetep pada keputusanku, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakiti kamu dan Mira. Jika, sampai itu terjadi … aku tidak akan segan-segan Shayang. Prioritasku adalah melindungi kamu dan Mira,” balas Abraham dengan yakin.


“Aku dan Mira akan baik-baik saja. Kami memiliki sosok yang menjaga kami. Makasih banget Mas Abrahamku,” balas Marsha.


Abraham terkekeh geli di sana. Ada kalanya, ucapan Marsha yang seperti ini yang membuatnya terkekeh geli dan merasa bahagia. Kemudian keduanya kini sama-sama berbaring di atas ranjang mereka, Abraham menelisipkan tangannya di bawah kepala Marsha, supaya wanitanya itu bisa bertumpu dan bersandar di lengannya.


“Dulu, aku tuh sebel dan benci sama dia, Yang. Bukan hanya karena dia sudah merebut Papa dari Mama. Dia juga menutup pintu supaya Papa benar-benar lupa denganku dan Mama. Ditambah, omongan kasar dia kepadamu saat kita bertemu di Mall dulu banget. Aku ingat semuanya, tetapi aku memutuskan tidak dendam. Lagipula, sekeras dan sebesar apa pun dendamku di masa lalu, itu juga tidak akan mengubah yang sudah terjadi di belakangku. Aku bukan pria dewasa yang seperti kamu ucapkan. Aku masih pria yang menaruh dendam dulu dan juga masih banyak hal-hal lain yang harus kuperbaiki,” cerita Abraham kepada istrinya.


Marsha kemudian memilih diam, dan barulah sesaat kemudian dia kembali berbicara, “Aku tidak bisa sepertimu, Mas. Aku masih merasa kecewa dengan orang tuaku yang memilih berpisah. Aku juga tidak bisa memaafkan Melvin untuk semua yang dia lakukan kepadaku. Cuma, akhir-akhir ini aku berusaha untuk mengelola emosiku dengan baik. Mencoba mengampuni dan melupakan walaupun sakit. Melihat kamu, agaknya akau didorong untuk bisa melakukan hal yang baik,” balas Marsha.


“Tidak apa-apa. Kadang kita juga butuh waktu untuk memproses semuanya. Yang penting jangan terlalu memaksakan saja. Kamu adalah istriku, tetapi kamu juga tidak harus sama seperti aku. Kamu tetap pribadi yang diciptakan Tuhan spesial dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Tidak apa-apa, Shayangku.”

__ADS_1


Abraham memberikan nasihat dan juga memdekap tubuh Marsha dengan begitu eratnya. Satu yang Abraham pahami bahwa mereka adalah dua yang sudah menjadi satu. Akan tetapi, untuk Marsha, Abraham memahami bahwa bagaimana istrinya itu adalah pribadi dengan berbagai keunikannya, kekurangan, dan kelebihannya. Dia pun tidak menuntut supaya Marsha menjadi pribadi yang sama sepertinya.


“Tidur yuk Shayang … malam ini libur dulu yah, ada tamu di bawah. Di sana Tante Saraswati diusir karena anaknya mau ***-***, masak di sini juga mantan menantunya mau ***-***, walau pun kita adalah pasangan yang sah,” balas Abraham.


Marsha pun tersenyum, “Iya Mas Abrahamku … libur dulu. Tidak apa-apa. Lagian aku juga capek, udah ngantuk, mungkin sudah mau haid ini,” balas Marsha.


“Masak? Belum lah, baru dua minggu kemarin kamu palang merah kok. Masak mau palang merah lagi? Kecapekan saja Shayang,” balasnya.


Marsha justru tertawa di sana, “Kamu menghitungi masa palang merahku ya Mas?” tanyanya.


“Bukan menghitungi, cuma aku masih ingat, palang merahnya saja baru dua minggu yang lalu kok. Masak iya, mau palang merah lagi? Pasti biar aku enggak menyentuhmu yah?” balas Abraham.


Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak begitu. Lagian aku pun juga gak pernah menolak sama kamu,” balasnya.


“Makanya, jangan begitu. Aku itu bisa mengingat. Ya sudah, bobok yah … besok pagi bangun pagi dan buat sarapan untuk Tante Saraswati juga ya Shayang. Biar perasaannya membaik,” balas Abraham.

__ADS_1


Marsha kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya, besok aku buatkan masakan untuk Mama Saras. Dia sukanya nasi goreng sih kalau sarapan. Biar besok aku buatkan nasi goreng deh,” balas Marsha.


Sekarang keduanya memilih untuk tidur dan esok Marsha akan bangun dan mulai membuatkan sarapan untuk Mama Saraswati juga. Yang dikatakan Abraham benar, setidaknya dengan sarapan menu yang disukai, bisa membuat perasaan menjadi lebih baik.


__ADS_2