
Semakin bertambahnya usia kehamilan, Marsha un sekarang menyempatkan diri di pagi hari untuk jalan-jalan pagi. Sekalipun hanya sekadar berjalan-jalan di sebuah taman yang ada di sekitar apartemen itu. Hanya sebuah taman kecil dengan jogging track di sana. Jalan kaki di pagi hari begitu baik untuk ibu yang tengah mengandung dan juga untuk bayi yang masih di dalam kandungannya.
Sebagai suami siaga, Abraham pun selalu setia menemani istrinya berjalan-jalan pagi mengelilingi jogging track yang ada di taman kecil yang berada di dekat apartemennya itu. Memang ada sedikit lahan terbuka hijau di sana. Bahkan jika mau, Marsha dan Abraham bisa berenang di fasilitas yang sudah disediakan oleh pihak pengembang. Sebab Abraham tidak akan membiarkan istrinya itu sendirian. Selama dia bisa, sudah pasti Abraham akan terus mengusahakan untuk menemani istrinya itu.
"Jalan-jalan pagi sekarang Sayang?" ajak Abraham kepada istrinya itu.
Marsha mengangguk, "Iya Mas ... biar sehat. Lagipula kan Dokter Indri juga mulai disuruh jalan-jalan pagi. Yang penting kan enggak naik turun tangga," ucapnya sembari keluar dari unit apartemen bersama dengan suaminya itu.
Masih pagi buta, tetapi keduanya sudah berjalan-jalan dan terkadang saling bergandengan tangan. Hanya sebatas cuci muka dan gosok gigi saja, kemudian keduanya berjalan-jalan bersama kurang lebih 15 menit.
"Semoga saja, persalinan nanti lancar ya Shayang," ucap Abraham sembari merangkul bahu istrinya itu.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... aku juga berdoanya gitu. Sama kalau bisa sih enggak begitu sakit. Walaupun namanya persalinan, melahirkan bayi pasti sakit," ucapnya sembari tertawa.
Tidak dipungkiri bahwa melahirkan itu sangat sakit, bahkan penelitian medis mengatakan bahwa saat melahirkan seluruh tulang wanita rasanya seperti diremukkan. Maka dari itulah, Marsha pun jika bisa meminta akan meminta supaya melahirkannya nanti tidak akan begitu sakit. Pengalaman pertama, tentu Marsha lebih deg-degan jadinya.
"Sabar ya Shayang ... aku cuma bisa bilang gini saja. Gak bisa ngapa-ngapain. Yang pasti aku akan selalu mensupport kamu. Sebisaku, aku akan selalu menemani kamu," ucap Abraham sembari menggenggam tangan istrinya itu.
Keduanya menelusuri area jogging track itu, udara pagi yang masih segar sangat bagus untuk ibu hamil. Selain bisa melakukan relaksasi, tetapi udara pagi juga baik untuk mempertahankan mood ibu hamil. Jika pagi hari diawal dengan sesuatu yang nyaman dan menenangkan, mood bisa terjaga sepanjang hari.
Keduanya yang berjalan-jalan, terkadang juga menyapa beberapa tetangga yang cukup Marsha kenal saat belanja sayur di pagi hari. Mungkin tetangga yang tinggal di unit apartemen yang lainnya.
"Mari Bu …," sapa Marsha yang memang ramah kepada beberapa orang saja dengan orang yang dia kenal dan sering bertemu saat berbelanja sayur.
Tidak jarang juga, beberapa tetangga yang mendoakan kehamilannya. "Sama-sama ya Bu Marsha... sudah besar sekali perutnya. Semoga lancar sampai melahirkan nanti. Benar, jalan-jalan pagi biar ibu dan bayinya sehat."
__ADS_1
Mendengar berbagai perkataan yang baik dari beberapa tetangganya sudah pasti Marsha merasa senang, banyak orang yang mendoakan bahwa kehamilannya bisa lancar dan keduanya sehat. Tidak ada yang lebih indah selain bisa melahirkan dengan lancar, ibu dan bayinya sama-sama sehat dan selamat.
Akan tetapi, saat melewati sebuah taman yang tidak jauh dari area jogging track itu ada segerombolan ibu-ibu yang mulai menatap keduanya dan mulai berbisik.
"Tuh, pasangan yang selalu harmonis. Beberapa pagi ini keduanya jalan-jalan pagi terus, keliatannya istrinya mau melahirkan."
"Keliatannya suaminya siaga ya, sampai jalan-jalan pagi saja ditemenin."
"Suaminya udah cakep, baik juga. Kapan punya suami kayak gitu."
Rupanya ibu-ibu nyinyir saling berkomentar, dan tidak jarang memuji-muji Abraham.
Mendengar ocehan dari ibu-ibu di taman yang sedang bersiap untuk senam sehat gembira tersebut, sontak Marsha menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
"Mas, besok kalau jalan-jalan pagi, aku sendirian aja deh. Tuh, ibu-ibu hebring muji-muji kamu," gerutunya pagi itu.
"Lha itu, Ibu-ibu malahan muji-muji kamu. Aku kan sebel," ucapnya kali ini dengan jujur. "Apa karena aku hamil ini jelek sih Mas? Aku gendut banget sekarang, sudah naik 18 kilogram," ucapnya yang kehamilan kali ini memang mengalami lonjakan berat badan cukup banyak.
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah Shayang ... toh ya, aku tidak pernah mempermasalahkan berat badanmu. Di mataku tetap kamu yang paling cantik,” ucapnya kali ini dengan serius.
"Gombal," sahut Marshadengan singkat.
"Aku jujur kok Shayang ... enggak peduli mau bagaimanapun kamu, di mataku dan di hatiku nilaimu tetap sama kamu tetap Marsha, satu-satunya wanita yang aku cintai," jawabnya lagi.
Marsha merasakan bahwa ucapan Abraham kali ini benar-benar menghangatkan hatinya. Sembari berjalan, wanita hamil itu pun sedikit memperhatikan suaminya dari sudut pandangnya sekarang.
__ADS_1
"Euhm, kamu memang cakep sih Mas ... sementara aku cuma pake baju rumahan dan perut sebesar ini sudah keliatan kayak ibu-ibu," ucap Marsha dengan lirih.
"Kan kamu memang seorang Ibu, Sayang ... kamu akan menjadi Mama bagi bayi kita. Sudah jangan insecure gitu, toh ya aku cuma milikmu. Sepenuhnya, milik kamu," jawab Abraham.
Dalam pandangan Abraham sekarang ini, mungkin saja istrinya tengah merasa insecure di tengah-tengah masa kehamilan. Merasa gendut, terlihat seperti ibu-ibu, dan lebih parah ada beberapa ibu hamil yang merasa dirinya jelek, kecantikannya pudar, dan tidak layak bersanding dengan suaminya. Dengan cepat Abraham ingin menyadarkan istrinya, bahwa di matanya istrinya tetap memiliki value yang sama dan tidak berubah. Mau hamil dan tidak hamil. di matanya Marsha tidak berubah.
"Jangan merasa insecure Sayang ... justru, hamil itu membuatmu lebih cantik. Sebab, kamu kian menawan setiap harinya, menjalani proses demi proses untuk jadi rumah pertama bagi buah hati kita. Di mataku, kamu tetap yang tercantik," ucapnya lagi dan kian menegaskan kepada istrinya itu.
"Serius?" tanya Marsha perlahan.
Abraham pun mengangguk, "Iya serius ... kalau kamu merasa insecure dan tidak mau mendengar ucapan ibu-ibu tadi, besok kita cari rute yang lain aja Sayang ... kan ya banyak jalan yang lain. Jalan pagi kan biar kamu dan baby kita sehat, mood kamu baik seharian, nanti bisa persalinan dengan lancar. Jadi, terus jalan-jalan pagi ya ... aku temenin. Oke."
Perlahan Marsha pun tersenyum, "Oke Mas Abraham yang jadi idola ibu-ibu setaman samping apartemen," sahutnya sembari mencubit pinggang suaminya itu.
“Apa sih Sayang,” sahut Abraham yang terlihat tidak terima dengan perkataan istrinya itu.
“Lha itu tadi, apa coba. Nasib punya suami cakep,” gerutunya lagi.
Abraham justru tersenyum, “Kalau kamu kayak gini terus, aku kiss di sini sekarang, biar diliatin ibu-ibu itu. Toh, omongan ibu-ibu atau wanita mana pun tidak ada pengaruhnya buatku. Aku cakep cuma buat kamu saja,” sahutnya dengan serius.
Mendengar ancaman dari suaminya, Marsha pun bergidik ngeri, “Udah cakep, hobi main ngekiss-kiss aja, gitu gimana enggak klepek-klepek coba,” sahutnya lagi.
“Kamu kan yang klepek-klepek?” sahut Abraham dengan cepat.
“Enggak ya … aku biasa aja kok.” jawab Marsha dengan wajah yang sudah bersemu merah.
__ADS_1
“Dari wajah kamu saja udah keliatannya, ya sudah yuk … cepet diselesaikan jalan-jalan paginya. Abis ini mandi bareng Shayang.” ucap pria itu dengan begitu entengnya.
Marshahanya geleng-geleng kepala mendengar celotehan suaminya itu, “Ya ampun Mas … kenapa kamu terang-terangan sih, malu tahu,” ucap Marsha sembari berbisik dan mengelus dadanya melihat tingkah suaminya itu.