Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Resmi Menjanda


__ADS_3

Tidak ingin berlama-lama di luar, Abraham segera membukakan pintu bagi Marsha dan mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelahnya Abraham mengitari mobil dan kemudian masuk ke kursi di belakang kemudi. Perlahan, Abraham membawa mobilnya dan meninggalkan Pengadilan Agama itu perlahan.


“Ada tempat yang ingin kamu tuju?” tanya Abraham kepada Marsha.


“Tidak, aku ingin pulang saja … tapi, bolehkah aku main di unitmu? Aku hanya perlu berjaga-jaga jika saja Melvin menuju ke apartemen Lista. Sebab, tadi dia datang bersama dengan Lista,” jawab Marsha.


“Aku tahu, aku melihat mereka berdua dari dalam mobil,” balas Abraham.


Rupanya Abraham yang memilih di luar, Abraham juga melihat bagaimana Melvin datang ke sidang putusan cerai itu bersama dengan Lista. Bahkan Abraham pun melihat bagaimana Melvin berjalan sembari menggandeng tangan Lista.


“Kamu boleh bermain, bahkan tidur di unitku dulu tidak masalah,” balas Abraham. Tentu saja Abraham tidak keberatan. Justru Abraham merasa bahagia bisa memiliki waktu bersama Marsha. Bisa dekat dengan Marsha, memberikan perhatian demi perhatian kepada wanita itu membuatnya begitu bahagia dan selalu saja ingin menghabiskan waktu bersama dengan Marsha setiap saat.


Marsha yang tersenyum, sembari mengalihkan pandangannya pada panorama yang terlebih dari kaca jendela mobil Abraham itu. Berkendaraan sekian waktu lamanya, sampai sekarang Abraham dan Marsha sudah tiba kembali ke unit apartemennya. Keduanya juga berjalan bersisian menuju lantai 12, tempat di mana unit milik Abraham berada.


Begitu sudah memasuki unit milik Abraham itu, Marsha pun menaruh sling bagnya di sofa, dan kemudian wanita itu menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seolah meregangkan tubuhnya. Setelahnya, Marsha melirik Abraham yang tengah mengambil dua botol air mineral dingin dari lemari es.


“Minum dulu, Sha,” ucap Abraham sembari menyerahkan botol air mineral kepada Marsha.


Marsha menganggukkan kepalanya dan menerima botol air mineral itu. Akan tetapi, Marsha hanya menaruhnya begitu saja di atas meja. Setelah itu Marsha memilih duduk di sofa, menyandarkan punggungnya di punggung sofa.


“Akhirnya,” ucap Marsha dengan memejamkan matanya perlahan.


“Kenapa Sha?” tanya Abraham yang saat itu duduk di samping Marsha.

__ADS_1


Marsha yang masih menyandarkan punggung hingga kepalanya di sandaran sofa pun perlahan menoleh ke arah Abraham.


“Akhirnya rumah tanggaku usai juga … dulu, aku membenci perceraian dan menjadi korban dari berakhirnya rumah tangga Mama dan Papa, sekarang aku sendiri yang mengalaminya.”


Ada dengkusan ketika Marsha menceritakan semua itu. Terkadang hidup memang begitu ironis. Sesuatu yang dulu selalu dia benci sampai akhirnya sekarang Marsha merasakannya. Dulu, Marsha begitu terluka dengan perceraian kedua orang tuanya. Berhari-hari sampai Marsha tidak bisa tertidur dengan nyenyak dan kehilangan selera makan.


Abraham yang melihat Marsha perlahan mengisi jaraknya, dan segera memeluk Marsha di sana. Tidak peduli dengan posisi Marsha yang masih bersandar, Abraham segera setengah menindih tubuh Marsha dan mengusapi puncak kepala Marsha dengan tangannya.


“Sabar ya, Sha … aku tahu kamu sangat terluka. Namun, aku tahu kamu pun memiliki kemampuan untuk melewati semua itu,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


Marsha menganggukkan kepalanya, tangannya pun terangkat dan balas memeluk Abraham. Sebab, Marsha tahu saat ini di sampingnya hanya ada Abraham yang bisa memahaminya. Sehingga Marsha pun membalas pelukan Abraham itu.


Namun, tidak berselang lama, Abraham menarik tubuhnya, pria itu menegakkan punggung Marsha, dan membenamkan wajah wanita itu di dadanya.


Marsha menarik kepalanya yang semula bersandar di dada Abraham, wanita itu menghela nafas dan melihat wajah Abraham.


“Bram, belum ada satu jam aku bercerai dan kamu akan melamar wanita yang baru saja menyandang predikat Janda ini?” tanya Marsha.


“Iya, aku mau melamarmu, Sha … habiskan hidupmu bersamaku. Aku memang tidak sekaya Melvin Andrian, tetapi aku memiliki cinta yang cukup untuk kita berdua di sepanjang hidup kita,” balas Abraham.


Senyuman pun terbit di sudut bibir Marsha, tidak mengira belum ada satu jam dirinya menjanda, dan sekarang sudah ada Abraham yang secara terang-terangan memintanya untuk menerimanya. Marsha tersenyum dan tampak geli.


“Biarkan masaku berlalu dulu, Bram … aku juga harus menanyakan pada diriku sendiri dan hatiku. Aku tidak mau main-main, aku tidak mau gegabah lagi dengan masa depanku,” balas Marsha.

__ADS_1


Sebagai wanita yang pernah merasakan kegagalan berumahtangga, kali ini Marsha harus lebih bijak dan menimbang segala sesuatu dengan matang. Jangan sampai petaka rumah tangganya bergulir lagi.


“Baiklah … aku akan menunggumu,” balas Abraham.


Keduanya lantas sama-sama diam. Banyak pikiran yang memenuhi kepala keduanya. Marsha dengan menata kembali masa depan, sementara Abraham yang segera ingin menikahi Marsha. Sampai akhirnya, Abraham pun kembali bersuara.


“Marsha, apa kamu tidak merasakan hal yang aneh dalam dirimu. Masa menstruasimu lancar?” tanya Abraham kali ini.


Marsha diam, mengingat-ingat periode merahnya. Namun, menurut Marsha memang belum waktunya untuk kembali memasuki periode haid.


“Belum waktunya haid sih,” balas Marsha.


“Oh, baiklah … jika nanti kamu terlambat dan merasakan hal yang aneh ditubuhmu seperti masuk angin, mual, dan muntah … kuharap jangan asal meminum obat sembarangan ya, Sha … periksa ke Dokter lebih dulu,” ucap Abraham kali ini.


“Iya, memangnya kenapa?” tanya Marsha lagi.


“Bisa saja, terjadi pembuahan di dalam tubuhmu, Sha … aku yakin itu adalah benihku. Jadi, beritahu aku yah … aku akan bertanggung jawab,” ucap Abraham.


Ya, Abraham akan menunggu sampai Marsha memberitahunya perihal masa periode haidnya. Sebab, hanya saja Abraham yakin bahwa jikalau sampai Marsha mengandung, ini adalah benihnya.


“Bagaimana bisa?” tanya Marsha lagi.


“Tiga pekan lalu terjadi sesuatu di antara kita … dan, kita … melakukannya … tanpa … pengaman,” jawab Abraham.

__ADS_1


Seketika kedua mata Marsha membola. Barulah sekarang dia sadar, bahwa tiga pekan yang lalu adalah percikan hasrat terlarangnya bersama Abraham. Hasrat terlarang yang berakhir di ranjang bersama dengan Abraham. Wanita itu lebih kaget, karena yang diucapkan Abraham sepenuhnya benar bahwa mereka berdua melakukannya tanpa pengaman. Marsha menggigit bibir bagian dalamnya perlahan, semoga saja apa yang disampaikan Abraham tidak terjadi. Hatinya kini berdebar-debar usai mengingat semua kekhilafan terlarang antara dirinya dengan Abraham tiga pekan yang lalu. Ya, waktu itu keduanya bergumul tanpa mengenakan pengaman sehingga peluang terjadinya pembuahan lebih besar bukan?


__ADS_2