Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Vitamin Booster


__ADS_3

Rasanya sudah berendam dengan penuh sensasi kenikmatan yang tiada tara itu. Abraham terus-menerus tersenyum. Rasanya pria itu seolah mendapatkan vitamin booster yang sungguh bernutrisi tinggi untuk tubuhnya.


"Makasih Shayang ... kamu itu candu banget buat aku," balas Abraham dengan membantu Marsha untuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah dengan menggunakan handuk kecil.


"Lalu, nanti kalau sehabis lahiran, kan aku tidak bisa disentuh dulu tuh Mas ... terus emangnya kamu bisa tahan?" tanya Marsha dengan menatap wajah suaminya yang terpantul dari cermin di hadapannya.


Terlihat Abraham menghela nafas panjang, "Berapa lama Shayang?" tanyanya kali ini.


"Ya, selama masa nifas. Itu pun, pasti aku takut juga kalau sudah selesai langsung gitu-gitu. Ngebayangin aja ngilu," balasnya.


Akan tetapi, Abraham dengan cepat tersenyum, "Ya, kalau aku harus nahan dulu ya sudah lah ... aku tahan dulu. Buat kamu apa sih yang aku enggak bisa nahan," balasnya kemudian.


"Baiklah ... soalnya kan masih sakit juga, Mas ... jadinya ya maaf," ucap Marsha terlebih dahulu meminta maaf kepada suaminya.


"Kalau aku pusing, gimana Shayang? Ada cara lain enggak?" tanya Abraham.


Dengan cepat Marsha mengedikkan bahunya, "Enggak tahu ... aku kan gak tahu cara-cara kayak gitu. Atau kamu main sendiri?" tanya Marsha dengan menatap tajam wajah suaminya.


Dengan cepat pula Abraham menggelengkan kepalanya, "Ah, mana enak main sendiri. Udah deh, pusing-pusing dulu enggak apa-apa. Penting buat kamu dan si baby dulu," jawabnya.


Tiba-tiba saja Marsha terkekeh geli melihat wajah suaminya itu, "Yang kuat ya Mas ... yang sabar. Kan buat anak sendiri dan buat recovery istri sendiri, jadi harus sabar," sahut Marsha.

__ADS_1


"Iya ... aku kuat dan sabar kok. Cuma sebelum kamu melahirkan, sering-sering dulu olahraga sama aku ya Shayang ... biar nanti bisa melahirkan normal," balas Abraham.


"Ya, jangan sering-sering Mas ... mana aku kuat? Gini saja udah lemes kok," balas Marsha dengan bibirnya yang sudah manyun beberapa centimeter.


"Ya kan, aku mau vitamin booster sebelum puasa nanti. Tenang saja, yang penting kedua belah pihak sama-sama nyaman kok," balas Abraham.


Marsha menghela nafas dan menatap tajam suaminya itu, "Ah, kamu ah ... yang dibahas masalah ranjang terus. Sebel," sahut Marsha.


Dengan cepat Abraham mendekap tubuh istrinya itu, "Mana ada ... cuma kan aku mau membahas hal yang penting dan krusial dalam kehidupan berumah tangga. Kita harus memiliki kehidupan suami istri yang sehat," balas Abraham.


Mendengar jawaban dari Abraham, nyatanya Marsha masih saja cemberut. Sampai akhirnya Abraham kian mendekap erat tubuh Marsha, pria itu kemudian mencuri satu kecupan di pipi Marsha.


Chup!


Dalam hatinya Marsha tertawa, bisa-bisa Abraham menyamakan dirinya dengan matahari. Begitu pintarnya suaminya itu berbicara manis kepadanya. Berusaha menenangkan dirinya yang memang agak sebal dengan suaminya itu.


"Aku cuma mau bilang ... kamu itu candu banget buat aku. Setiap bersamamu, melakukan pergumulan denganmu, aku serasa mendapat suntikan vitamin booster. Aku bukan hanya lebih sehat, tetapi juga bahagia. Sudah, kamu perlu tahu itu saja," ucap Abraham.


Itu adalah ucapan yang sangat jujur dari Abraham bahwa dirinya menginginkan Marsha dan juga bayinya untuk sehat-sehat. Walaupun hasratnya memang ada kalanya meletup-letup. Akan tetapi, dia akan berusaha untuk menahan dan tidak akan memaksakan hasratnya kepada Marsha. Sepenuhnya, Abraham akan menjaga Marsha dan memastikan kenyamanan istrinya itu.


"Sudah yah marah dan ngambeknya ... Sekarang istirahat saja. Kamu lemes dan kecapekan bukan? Aku buatkan susu untuk Ibu hamil dulu buat kamu," balas Abraham.

__ADS_1


Pria itu mengurai dekapannya di tubuh Marsha, kemudian berniat untuk membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Marsha. Bahkan Abraham meminta Marsha untuk menunggu dirinya saja di dalam kamar. Sebab, memang selama kehamilan istrinya, Abraham seolah memiliki tugas baru yaitu membuatkan susu untuk istrinya.


Hanya kurang lebih Abraham keluar dari kamarnya, dan kini Abraham sudah kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu membawa segelas susu khusus untuk Ibu hamil dengan rasa cokelat, kemudian memberikannya kepada Marsha.


"Ini Shayangku ... diminum dulu," ucap Abraham.


"Makasih," balas Marsha dengan masih setengah cemberut.


Abraham pun tersenyum, pria itu kini bergabung dengan istrinya untuk duduk di sofa dan kemudian merangkul bahu Marsha.


"Aku tuh cinta banget sama kamu ... cintaku melebihi hanya sebatas penyatuan aku dan kamu. Penyatuan kita itu penting, tetapi jangan sampai memberatkan salah satu pihak. Toh, kamu menolakku pun aku tidak akan marah," ucap Abraham.


Marsha melirik sejenak kepada Abraham dan berkata, "Iya, enggak marah ... cuma kecewa," sahutnya.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Marsha, membuat Abraham pun tertawa. Tidak mengira bahwa istrinya itu bisa memberikan jawaban seperti itu.


"Udah ... udah ... gak akan kecewa juga," balas Abraham yang memang memilih untuk mengalah.


"Janji?" tanya Marsha.


Abraham menganggukkan kepalanya, "Iya ... janji," ucapnya dengan yakin.

__ADS_1


Setidaknya Marsha merasa lega, karena suaminya bisa memahaminya. Walaupun memang benar hubungan suami istri begitu penting untuk suami dan istri. Akan tetapi, ada kalanya tidak bisa memaksakan semuanya. Ada kalanya memang harus menahan terlebih dahulu. Terlebih dengan usia kandungannya yang semakin besar dan juga menjelang persalinan yang tidak lama lagi.


__ADS_2