
Menempuh perjalanan darat dengan menggunakan kereta api membutuhkan waktu kurang lebih lima jam bagi Marsha, Abraham, dan Mira untuk tiba di Semarang. Perjalanan darat yang cukup lama dan panjang dengan membawa seorang bayi. Akan tetapi, rupanya selama lima jam, Mira juga tidak begitu rewel ketika berada di dalam kereta api.
"Untung enggak rewel ya Mas," ucap Marsha yang sedang menidurkan Mira dengan cara menggendongnya.
"Iya Sayang ... senang mungkin Mira mau diajak jalan-jalan Mama dan Papanya, dan juga senang karena akan bertemu dengan Eyang Diah di Semarang," balas Abraham.
Lantas Abraham kembali bertanya kepada Marsha, "Capek enggak Sayang? Biar aku yang gendong Miranya?" tanya Abraham kini kepada Marsha.
"Enggak Mas ... nanti ndak terganggu boboknya. Biar Mira juga bisa bobok dulu," balas Marsha.
Mengingat bahwa sekarang Mira sedang tidur, sehingga memang sayang saja jika mengganggu Mira yang sedang terlelap. Lebih baik, jika Mira bisa tidur untuk sejenak sampai tiba di Semarang nanti.
"Mau makan sesuatu? Kita beli di kereta saja. Mie instant seduh mungkin?" tawar Abraham kemudian kepada istrinya.
Perjalanan menuju Semarang masih kurang lebih dua jam, sehingga memang Abraham menawarkan kepada Marsha untuk membeli makanan di kereta api. Membeli mie instans seduh di kereta api rasanya sangat enak. Menikmati mie dengan melihat pemandangan yang terlihat dari jendela kereta.
"Boleh ... mau. Hanya saja, makannya gimana dong? Aku gendong Mira tuh," balas Marsaha kemudian.
"Aku suapin. Aku pesankan yah," balas Abraham.
"Hmm, iya ... boleh."
__ADS_1
Abraham kemudian memesan dua cup mie instans seduh rasa Baso Sapi dan juga Teh hangat yang akan mereka nikmati bersama. Selang sepuluh menit, petugas kereta datang dan mengantarkan pesanan Abraham. Tampak Abraham membayar pesanannya, dan kemudian mengambil satu mie instant dalam kemasan cup itu kemudian menyuapi Marsha di sana.
"Yuk Shayang ... aku suapin," ucap Abraham.
"Serius, Mas. Malu ... itu ada yang lihatin," balas Marsha.
"Biarin saja ... orang kita juga sudah suami dan istri. Santai saja," balas Abraham.
Dengan malu-malu pun Marsha menerima saja, ketika Abraham dengan telaten menyuapinya, dan meniup mie yang masih panas itu. Sampai Abraham menyuapi Marsha hingga separuh porsi itu.
"Sudah dulu aja Mas ... kamu juga makan dulu. Nanti mie-nya jadi mengembang loh," balas Marsha.
"Inilah yang bikin aku suka naik kereta. Di kanan-kiri sawah-sawah. Kalau perkotaan kan tinggal di kota, jadi ya sawah seperti ini rasanya indah banget," ucapnya.
"Ya, ada pemukiman warga juga Shayang ... cuma ya enggak sepadat di kota yah. Di Semarang saja sekarang sudah padat, Yang. Di Simpang Lima itu sudah penuh," balas Abraham lagi.
Marsha menganggukkan kepalanya, "Iya ... jalanan juga penuh. Cuma rasa pulang ke kampung halaman itu selalu bikin seneng, Mas. Kayak rasanya tuh otak aku sudah menyusun nanti di Semarang mau ngapain aja. Ya, menikmati liburan kita, Mas," balasnya.
"Benar banget. Rasa untuk pulang ke kampung halaman itu yang rasanya beda yah. Di hati itu rasanya seneng banget. Udah kebayang nanti ke Gang Lombok beli Lumpia, atau main-main ke Ungaran ke rumah Eyang," balas Abraham.
Di dalam kereta itu banyak cerita yang mereka ungkap. Sembari menggendong Mira dan sesekali memberikan ASI karena Mira masih berusia 8 bulan dan belum lepas ASI. Akhirnya, kereta api itu pun berhenti di Semarang. Mira yang sudah bangun akhirnya digendong dengan menggunakan Hipseat. Sementara Abraham menggendon ransel di punggungnya dan mendorong koper. Mereka menaiki taksi dari stasiun dan menuju ke rumah Abraham. Kali ini, mereka benar-benar memberikan kejutan kepada Mama Diah.
__ADS_1
"Sudah satu tahun enggak pulang ya Sayang ... terakhir waktu pernikahan kita dulu," balas Abraham.
"Iya, sudah lebih deh kalau setahun. Mira saja sudah delapan bulan," sahut Marsha.
Hampir setengah jam mereka menaiki taksi, dan kini mereka sudah tiba di rumah Mama Diah. Abraham membuka gerbang rumahnya dan mengetuk pintu perlahan.
"Permisi ... Eyang Diah," ucap Abraham dengan masih mengetuk pintu.
Tidak berselang lama, pintu rumah pun terbuka. Mama Diah begitu kaget melihat anak, menantu, dan cucunya yang datang tiba-tiba. Sampai Mama Diah malahan menangis di sana.
"Ya ampun ... pada datang kenapa enggak memberitahu terlebih dahulu sih?" tanya Mama Diah.
Jika Abraham tertawa, Marsha justru menunjukkan wajah berkaca-kaca di sana. Marsha yang masih menggendong Mira pun segera memeluk Mama Diah.
"Mama sehat kan? Kangen sama Mama," ucapnya.
"Sehat ... sehat. Kalian ini nakal banget sih. Pulang ke Semarang enggak ngasih kabar dulu. Kalau ngasih kabar kan Mama bisa membelikan makanan kesukaan kalian," ucapnya.
"Namanya juga kejutan Eyang ... kami kangen Eyang. Juga ... selamat ulang tahun Eyang Diah," ucap Marsha.
Ya, hari itu adalah hari ulang tahun untuk Mama Diah. Sehingga untuk alasan ini jugalah, Abraham mengajak Marsha untuk pulang ke Semarang. Memberikan kejutan untuk Mama tercintanya. Walau tanpa kue ulang tahun dan meniup lilin, tetapi melihat kedatangan anak, cucu, dan menantu bukankah sudah menjadi perayaan ulang tahun yang begitu indah?
__ADS_1