
“I really miss u, Sha,” aku Abraham kali ini.
Tarik ulur hati yang baru saja terjadi benar-benar membuat Marsha kian menekan perasaannya sendiri. Tidak ingin larut dengan kenangan lama yang sesungguhnya hanya cerita lama yang telah usai, tetapi seakan setelah mendengar ucapan rindu dari Abraham kian menyulut rasa di hati Marsha.
Bahkan sekarang, Marsha seakan hanya diam, tidak melawan atau mencoba melepaskan tangan Abraham dari tangannya. Justru hangatnya tangan Abraham seolah membuat Marsha merindukan sosok orang yang akan menggandeng tangannya dan memberikannya kehangatan dan kasih sayang seperti ini.
Akan tetapi, semua hanya ada di dalam angan-angan Marsha saja, karena bersama Melvin yang Marsha dapatkan hanya sikap hambar. Kasih sayang antara suami dan istri seolah sudah hilang begitu saja.
“Jika kamu diam, berarti kamu juga merindukanku,” ucap Abraham saat ini.
Pria itu menatap Marsha dengan tatapannya yang dalam. Mengamati wajah ayu dari wanita yang menggoda dirinya dengan pesonanya itu sendiri.
“Aa … aku,” balas Marsha. Akan tetapi, ucapannya terasa kelu. Kata-kata yang tersusun di kepalanya seakan hilang begitu saja. Tidak dipungkiri bahwa Marsha pun sangat gugup sekarang ini.
Melihat dengan jelas bagaimana Marsha gugup, nyatanya Abraham kian justru memberikan remasan di tangan Marsha, menautkan jari jemarinya di sana, dan mengusapi punggung tangan Marsha. Bagi Abraham sendiri, dirinya sudah kehilangan kacanggungan. Pesona yang dimiliki Marsha, membuat Abraham ingin menyentuh wanita itu. Membelainya, menyatakan perasaan gila yang seakan tertahan di dadanya.
“Bram, sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita,” balas Marsha dengan terbata.
Sebatas mengatakan kalimat saja membuat Marsha benar-benar kepayahan. Padahal saat ini yang ada di hadapannya hanyalah sosok Abraham.
“Untuk pekerjaan kita bisa bahas belakangan, Sha … bagaimana kita membahas tentang kita,” ucap Abraham dengan begitu santainya.
__ADS_1
“Semua tentang kita hanya masa lalu, Bram,” balas Marsha kemudian.
“Memang masa lalu, Sha … hanya saja masa lalu itu belum usai. Masa lalu itu terajut kembali,” balas Abraham dengan sangat yakin.
“Ya sudah, aku tidak akan memaksamu. Hanya saja, kita nikmati saja semuanya. Biarkan semua mengalir apa adanya,” sambung Abraham lagi.
Pria itu lantas melepaskan tautan tangannya dari tangan Marsha, kemudian tersenyum menatap Marsha.
“Sudah, lupakan saja … kalau kamu canggung seperti itu, aku akan kembali menciummu. Aku bisa menciummu di sini,” balas Abraham.
Ya Tuhan, di saat Marsha berusaha menekan hatinya, menekan perasaan terlarang yang bisa saja muncul dan menyulut dirinya, justru Abraham dengan begitu santainya melancarkan kata-kata penuh godaan. Kata-kata yang membuat hati Marsha berdebar-debar rasanya.
Abraham tersenyum dan merespons dengan menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu menyodorkan tablet miliknya kepada Marsha.
“Coba kamu lihat konsep foto-foto, Sha … tema subkultur sekarang mendominasi kayak foto di jalanan gitu. Outfit yang bisa mix and match dan diambil di jalanan,” jelas Abraham kepada Marsha.
“Kayak Citayam Fashion Week yah?” tanya Marsha kemudian.
“Tepat sekali, coba kita bikin tema foto seperti itu. Lebih keren waktu malam sebenarnya, terkadang lampu kota itu membuat sebuah potret menjadi lebih artistik,” jelas Abraham lagi.
“Boleh sih … kita bisa coba,” balas Marsha.
__ADS_1
Konsep fotografi terkadang bisa mencoba apa yang hits di kalangan masyarakat sekarang ini. Membuat jepretan lensa yang bisa mengabadikan momen yang tengah naik daun tersebut.
Marsha lantas menggerakkan jari telunjuknya, menggeser satu demi satu contoh konsep fotografi dengan tema subkultur itu dari tablet Abraham. Setidaknya dia memiliki gambaran bagaimana konsep padu padan outfit, dan juga gaya fotografi di jalanan yang sedang hits belakangan ini.
“Oke, deal yah … nanti kita akan cari waktu dan segera lakukan pemotretan selanjutnya,” balas Abraham.
Marsha kemudian menganggukkan kepalanya, lantas Marsha mulai meminum Black Americano yang dibelikan Abraham untuknya. Sementara Abraham sendiri tersenyum saat Marsha meminum minuman yang dia pesankan khusus untuknya.
“Euhm, Sha … kapan-kapan apa bisa kita jalan bersama?” tanya Abraham kepada Marsha.
“Untuk?” sahut Marsha dengan singkat karena setidaknya dia ingin tahu kemana Abraham hendak mengajaknya.
“Jalan berdua aja, Sha … rileksasi. Aku yakin kamu banyak pikiran dan membutuhkan waktu berlibur. Aku tidak keberatan kok mengantarkanmu jalan-jalan,” balas Abraham.
Dalam hatinya, lagi-lagi Marsha berdesir bagaimana bisa Abraham mengerti bahwa dirinya memang membutuhkan waktu relaksasi, tetapi Marsha rasanya enggan untuk pergi bersama dengan Abraham.
“Tidak perlu, Bram,” sahut Marsha dan seolah mengatakan bahwa dirinya tidak perlu untuk pergi bersama dengan Abraham.
“Tidak perlu terburu-buru. Sesempatnya kamu saja,” balas Abraham kemudian.
Marsha lagi-lagi hanya diam, wanita itu mengalihkan perhatiannya pada tablet yang masih dipegangnya dan sesekali meminum Americano yang dibelikan Abraham untuknya. Ya Tuhan, hatinya benar-benar gamang saat ini. Akan tetapi, Marsha sendiri bingung dengan semua yang terjadi dan seolah memang Abraham datang di saat rumah tangganya seakan terasa stagnan.
__ADS_1