
Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Rasanya baru beberapa minggu berjalan dan sekarang mereka berdua sudah melihat Marvel yang berusia dua bulan. Dalam dua bulan ini seakan semuanya berjalan lancar, semuanya ada di tempatnya masing-masing. Sebagai seorang ibu, Marsha pun pulih lebih cepat.
"Sudah dua bulan berlalu, Shayang ... lihatlah bayi kita sudah semakin Chubby," ucap Abraham dengan mengamati Marvel yang memang kian chubby saja.
"Iya, kian gemoy ya Papa baby kita," balas Marsha yang kala itu dengan menimang Marvel.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Mira juga cantik, Shayang. Kamu banget. Tahun depan mulai kita sekolahkan Mira yah," ucap Abraham.
Ya, mengingat sekarang Mira sudah empat tahun, sehingga tahun depan sudah saatnya bagi Mira untuk sekolah. Marsha pun juga setuju, Mira perlu sekolah, bukan hanya mendorong kecerdasan kognitifnya untuk tetap berkembang, tapi juga untuk mengembangkan kecerdasan sosialnya supaya Mira belajar untuk berteman. Jika hanya di rumah, kemampuan sosial Mira hanya terasah dengan orang tua, nenek, dan juga adiknya saja. Sementara jika di sekolah kan, banyak teman yang dia temui, sehingga semakin banyak juga teman yang akan dikenal oleh Mira.
"Aku sudah pengen untuk mengantar Mira sekolah tahu enggak Shayang ... seru dan sweet saja seorang Papa yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah," balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Sweet banget loh. Aku dulu diantarkan oleh pembantuku loh Mas ... Papa sibuk bekerja, jadi aku dianter pembantu atau Pakdhe yang menjadi tukang kebun di rumah," balas Marsha.
Ya, dulu ketika teman-teman sebayanya ke sekolah dan diantar oleh Papanya, Marsha hanya diantar oleh tukang kebun atau pembantu yang ada di rumahnya. Kadang ada ibu-ibu yang menunggu di sekolah, Marsha juga tidak merasakannya karena Mamanya sibuk juga. Memorinya masa sekolah menjadi tidak menyenangkan.
"Gak apa-apa, Shayang ... penting waktu kamu sekolah ada Mas Ganteng yang jemput kamu," balas Abraham.
__ADS_1
Marsha pun tertawa di sana, "Mas Ganteng namanya Abraham," balasnya.
Abraham pun tertawa di sana, "Bisa saja sih ... tapi kan fakta kalau aku jemputin kamu waktu kuliah dulu, dengan kuda besiku, aku jemput dan antar menyusuri jalanan di Kota Lumpia," balas Abraham.
"Sudah beberapa tahun yang lalu ya Mas ... pernah putus, dan aku menikah dengan pria lain dan pada akhirnya, aku kembali berlabuh kepadamu. Ah, jadi mellow," ucap Marsha dengan menghela nafas.
Abraham pun tampak merangkul Marsha di sana, "Iya ... kadang harus salah dulu, muter-muter dahulu, tapi pada akhirnya kembali ke titik awal ya Shayang. Aku dan kamu. Bagaimana lagi, manusia memang tempatnya salah, Shayang. Cuma, yang mau belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri di masa depan itu yang hebat," balas Abraham.
Sepenuhnya dia menyadari, bukannya dirinya suci dan tanpa dosa. Akan tetapi, Abraham pun belajar dari kesalahannya. Belajar bahwa kadang jalan cinta itu harus berliku-liku dan berkelok-kelok terlebih dahulu, barulah mereka akan tiba di titik awal yang menunjukkan seribu keindahan.
"Benar Mas ... kalau salah ya mengakui salah, belajar dari kesalahan. Kalau gak mau belajar dari kesalahan itu namanya bebal. Sebentar, aku bobokkan Marvel dulu ya Mas Ganteng," ucap Marsha dengan melirik Abraham di sana.
Marsha yang sudah menidurkan Marvel pun rupanya justru mengambil duduk di pangkuan suaminya itu.
"Kangen Mas," ucapnya dengan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Sama Shayang ... tumben manja," balas Abraham.
__ADS_1
"Baru pengen dekat sama kamu, Mas ... sebelum nanti berbagi dengan Mira dan Marvel. Sekarang Mama Marsha dulu yang nempelin Papa Abraham," balasnya.
Abraham pun mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Marsha di sana, "Makasih ya Shayang sudah mewarnai hidupku. Kamu yang melahirkan dua baby untukku, membuat hidupku lebih bermakna," ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
"Hmm, iya Mas ... sebentar, ada telepon deh Mas. Dengar suara deringan telepon enggak Mas?" tanya Marsha kemudian.
Abraham tampak mengedarkan pandangannya di dalam kamar itu dan berusaha mencari arah sumber suara yang didengar Marsha sekarang. Hingga akhirnya, Abraham pun menganggukkan kepalanya.
"Handphone kamu, Shayang," ucap Abraham di sana.
Marsha pun beringsut dari pangkuan suaminya, dan mencari di mana handphonenya berada, ternyata handphonenya ada di atas meja rias. Marsha pun menunjukkan handphonenya kepada suaminya.
"Nomor tidak terdaftar, Mas ... biarin aja deh, palingan iseng-iseng," balasnya.
"Ya sudah ... bobok yuk, besok aku mau ngajak Mira bersepeda keliling kompleks jadi harus bangun lebih pagi," balasnya.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Mas ... yuk. Mas, cuma kok aku masih kepikiran sama nomor tidak terdaftar itu yah? Kira-kira siapa sih?" tanyanya.
__ADS_1
"Udah, gak usah dipikirin. Tidur saja Shayang," balas Abraham.
Jadi, nomor telepon siapakah yang menghubungi Marsha saat itu? Benarkah itu hanya sekadar iseng atau memang ada hal yang penting?