
"Bagaimana sudah siap?" tanya Frans. Sophia dan Ano Mengangguk. "Maaf yah sudah buat lama menunggu, soal nya jalanan sangat macet." ucap Frans.
"Tidak apa-apa kok kak, kami juga baru selesai siap-siap." ucap Sophia. Frans membuka kan pintu untuk Sophia di depan dan untuk Ano di belakang.
Selama di perjalanan Ano terus memantau Mbak nya dari belakang. Frans dan Sophia terlihat sangat asyik membicarakan Soal pekerjaan Sophia begitu juga Frans menjelaskan pekerjaan nya pada Sophia.
Bahkan Sophia juga di tawarkan untuk bekerja di tempat Frans. Namun Sophia bilang dia ingin menyelesaikan Sekolah nya terlebih dahulu, kalau ada uang dia akan kuliah.
Frans banyak menawarkan berbagai jalan uang namun Sophia menolak nya, dia tidak banyak bicara karena sekarang Adik nya jadi CCTV suami nya.
Dia tidak boleh banyak bertingkah yang aneh-aneh kalau bersama pria lain saat ada Ano.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.
Frans membantu Ano turun. "Aku bisa sendiri Om." ucap Ano. Frans tersenyum.
"Selamat malam Mah, Pah, kak." sapa Frans.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, ayo silahkan duduk." ajak Mamah Frans.
"Kamu bawa Siapa Frans? Kenalin dong." ucap kakak laki-laki Frans. "Oohh kenalin ini namanya Sophia, dia Magang di hotel XXX, aku mengenal nya di sana dan ini Adik nya Ano." ucap Frans.
"Oohh Masih magang? Tadi Tante fikir teman Frans." ucap Mamah Frans.
"Wajah saya memang sedikit boros Tante." ucap Sophia.
"Ah enggak juga, kamu cantik banget Sayang." ucap Mamah Frans. Sophia tersenyum.
"Adik kamu juga putih dan tampan, Kalian benar-benar mirip." ucap Mamah Frans.
"Terimakasih Tante." ucap Sophia.
"Nak ajak Enjelita keluar." suruh Mamah Frans pada Kakak laki-laki Frans.
"Tunggu mah." Dia segera pergi memanggil Enjelita.
"Kalau boleh tau Kamu kelas berapa?" tanya Mamah Frans pada Ano. "Kelas satu SMP Tante." Jawab Ano.
"Sekolah di mana?" Tanya nya lagi. Ano menjawab nama sekolah nya.
"Wahh Sama dong seperti Cucu nenek, itu adalah sekolah impian nya namun dia jarang masuk sekolah, Tante juga tidak tau karena apa." ucap Mamah Frans.
__ADS_1
"Nah itu dia keluar." ucap Mamah Frans menunjuk ke arah anak perempuan yang di gandeng oleh papah nya keluar.
Sophia dan Ano kaget ternyata Enjelita yang mereka bilang itu adalah Enjel teman satu kelas Ano.
Enjel melihat Ano. Dia berhenti sekejap namun langsung di panggil Nenek nya.
"Loh ternyata Enjel adalah Cucu Tante? Dia sekelas sama Adik saya." ucap Sophia.
"Wahh kebetulan sekali yah." ucap Frans.
"Kalian harus jadi teman akrab di sekolah." ucap Frans. Enjel hanya diam saja, sementara Ano mengangguk sambil tersenyum.
Sophia melirik ke arah Ano.
"Maka nya kalau jadi Anak laki-laki jangan jahil, pasti malu tuh ketemu sama Enjel langsung." batin Sophia.
Tidak beberapa makan malam Selesai. Ano terus memerhatikan Enjel yang hanya diam saja.
"Tante, Om, kak terimakasih sudah memperbolehkan kami ikut makan malam di sini, saya sangat senang. Kalau begitu kami pulang yah Tante." ucap Sophia.
"Sama-sama, kami juga senang kok, lain kali main ke sini lagi yah." ucap Mamah Frans.
"Baik Tante." ucap Sophia. Ano hanya tersenyum menyalim tangan yang lebih tua dari nya setelah itu ijin pamit pulang.
"Kenapa dia?" tanya Frans. Sophia menggeleng kan kepala nya. "Oh iya kak, Enjel itu Keponakan Kakak dong berarti." ucap Sophia. "Iyah, emang kenapa?" tanya Frans.
"Tidak apa-apa, aku juga mempunyai saudara yang bernama Enjel." ucap Sophia.
"Tapi kenapa sebelum nya kakak tidak ngomong kalau Enjel juga sekolah di sana? sementara kakak sudah pernah menjemput Ano ke sana." ucap Sophia.
"Saya juga kurang tau kalau Enjel sekolah di sana." ucap Frans. "Tapi Enjel emang Anak nya pendiam yah?" tanya Sophia lagi karena dia tau Adik nya butuh informasi lebih.
"Enjel sudah jadi anak yang misterius setelah meninggal nya Ibunya di waktu usia nya delapan tahun. Sampai sekarang dia tidak dekat dengan siapa pun." ucap Frans.
"Oohhh." ucap Sophia.
"Dia anak yang cantik, tapi dia tidak pernah tersenyum." ucap Sophia. "Saya saja paman nya sendiri tidak pernah melihat dia tersenyum." ucap Frans.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Aku duluan masuk yah Om, permisi." ucap Ano.
__ADS_1
"Baiklah, selamat malam." ucap Frans, "Selamat malam juga Om, hati-hati berkendara." ucap Ano langsung masuk ke dalam rumah.
"Kalau begitu aku juga masuk yah kak." ucap Sophia.
"Ehmm tunggu Dulu." ucap Frans menahan Sophia.
Sophia melihat tangan Frans yang memegang lengan nya.
"Maaf. Saya hanya ingin memberikan ini untuk kamu." ucap Frans. Frans mengambilnya paper bag dari dalam dan memberikan nya pada Sophia.
"Ini untuk apa?" tanya Sophia.
"Saya berbelanja di mall, kebetulan saya melihat ada yang imut, mungkin saya rasa kamu suka, jadi saya membeli nya khusus untuk kamu." ucap Frans.
Sophia tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku menerima nya, terimakasih banyak. Kakak berhati-hati lah di jalan." ucap Sophia. Frans tersenyum.
"Mimpi yang indah yah." ucap Frans, Sophia tersenyum dia melihat mobil Frans keluar baru dia masuk ke rumah.
Sophia masuk ke kamar dia langsung membuka ponsel nya berharap tidak ada notifikasi dari Gerwyn karena dari tadi dia mematikan ponsel nya.
Setelah di periksa tidak ada dia merasa aman. Dia membuka hadiah dari Frans. Ternyata isi nya boneka yang sangat imut, lembut dan juga sangat lembut.
"Aaa gemes banget." ucap Sophia. Namun tiba-tiba bel berbunyi dia langsung keluar turun ke bawah dan melihat ternyata itu adalah Hena.
"Kamu ngapain ke sini Hena?" tanya Sophia.
"Aku tidak bisa tidur di rumah ku." ucap Hena.
"Kenapa? Mikirin papah nya Vano?" ucap Sophia. "Berhenti bercanda Sophia, aku sedang memikirkan nilai kita besok." ucap Hena.
"Masuk dulu." ucap Sophia.
"Kamu judes banget sih, kamu masih marah yah sama Aku? Yah Maaf Sophia." ucap Hena. Sophia duduk di depan Hena.
"Kita hanya Berdoa agar kita bisa naik kelas tiga dan segera menyelesaikan sekolah SMA kita." ucap Sophia.
"Humm ternyata kamu juga memikirkan itu," ucap Hena.
"Kenapa kamu tidak mengeluh sama om-om kamu itu? Biasa nya kamu selalu mengeluh pada nya!" ucap Sophia.
__ADS_1
"Huff jangan membahas itu sekarang Sophia, bahkan aku memilih untuk libur kerja hari ini karena tidak bisa fokus dan sangat khawatir." ucap Hena.