Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Romantis


__ADS_3

Mau bagaimana pun Gerwyn tidak bisa melupakan perbuatan Hena yang memasukkan nya ke dalam penjara Tampa fikir panjang, Hena juga pernah mengolok-olok menganggap nya sepele.


Dengan cara ini Gerwyn membalas Hena untuk awalan.


"Sudah mas, lebih baik tidak perlu ikut campur, itu adalah urusan mereka." ucap Sophia.


Gerwyn Menghela nafas panjang.


"Tinggalkan Om Davit kalau tidak kamu yang akan tau akibat nya." ucap Gerwyn. Dia sudah muak melihat Sekertaris nya itu pusing memikirkan kelakuan ayah nya.


"Aku bisa saja meninggalkan Om Davit, tapi bagaimana dengan dia?" tanya Hena lagi. Vano menatap Hena.


"Semenjak Papah mengenal kamu dia tidak pernah pulang ke rumah lagi. Dia sama sekali tidak perduli dengan keluarga bekerja untuk Diri nya sendiri dan menghidupi pelakor seperti kamu." ucap Vano.


"Ada apa ini? Kenapa kamu mengatai nya pelakor?" tanya bu Linda pada Vano. "Enggak kok mah, hanya masalah sedikit saja, ayo duduk dulu, aku buatin Susu tulang untuk Mamah." ucap Sophia.


"Jelasin! Kenapa mengatai Hena pelakor Vano? Kamu berbicara dengan seorang wanita tidak baik kasar seperti itu." ucap Bu Linda lagi.


"Maaf Bu." ucap Vano. "Bukan sama ibu kamu minta maaf, harus sama Hena, hati nya pasti sangat sakit kamu bilang seperti itu." ucap Bu Linda.


"Gak apa-apa kok Bu, aku baik-baik saja, aku yang salah tadi nya justru aku yang harus minta maaf." ucap Sophia.


"Lihat lah, wanita lembut seperti ini kamu berbicara kasar pada nya. sungguh tidak terpuji." ucap Bu Linda.


Gerwyn merangkul Vano.


"Ayo keluar, jangan membuat mamah saya semakin marah." gumam Gerwyn. Vano pun mengangguk.


"Heh kalian mau kemana?" tanya Bu Linda.


"Mau ke depan Mah, mau merokok." ucap Gerwyn membuat alasan.


"Jangan kemana-mana lagi, sebentar lagi Waktu nya makan malam, ayo duduk di sini Temanin mamah ngobrol." ucap Bu Linda.


Akhirnya mereka pun duduk bersama buk Linda di sana. "Sophia panggil Ano gih." ucap buk Linda. Sophia mengangguk namun ternyata Ano sudah datang.


"Loh itu Ponsel siapa Ano?" tanya Gerwyn.


"Oohh ini ponsel yang di beli ibu untuk ku." ucap Ano.

__ADS_1


Ano kembali fokus pada ponsel nya.


"Mamah beli Ano handphone kok gak bilang sama aku dan Sophia?" tanya Gerwyn.


"Sudah seharusnya Ano memakai ponsel, di sekolah mahal pasti teman-teman nya membawa ponsel yang bagus sementara dia tidak memakai apapun." ucap Bu Linda.


"Tapi di sekolah nya tidak ada yang memakai handphone Mah." ucap Sophia. "Ya sudah kalau tidak bisa di bawa ke sekolah untuk di rumah." ucap Bu Linda lagi. Ano duduk di samping buk Linda.


Sophia menatap Gerwyn. Gerwyn seakan tau apa yang di maksud oleh Sophia.


"Tapi Mah kalau Ano punya ponsel dia tidak akan fokus belajar lagi, Lagian ada mainan banyak, semua apa yang di mau ada. Tv juga ada kalau dia bosan. Handphone sangat mempengaruhi dia." ucap Gerwyn.


"Jangan kamu sama kan didikan Papah kamu dulu Sama kamu dan didikan kamu untuk Ano. Dia sudah pantas untuk mendapatkan ponsel." ucap Bu Linda.


Gerwyn Menghela nafas panjang.


"Ya udah ayo makan semua nya." ajak Bu Linda, paman dan juga Bibik nya sudah ikut ngumpul.


"Loh Enjel mana?" tanya Gerwyn. "Aku di sini, aku baru saja selesai mandi." ucap Enjel baru Saja datang.


Enjel melihat Ada Anggota baru.."Oh iya kenalin ini namanya nya Hena, dia adalah Sabahat nya Sophia." ucap bu Linda. Enjel tersenyum dia menyalim tangan Hena.


"Nama ku Enjel." Hena tersenyum.


"Sudah lama kita tidak ketemu, bagaimana kabar kamu?" tanya Enjel pada Vano. Mereka juga sudah saling kenal.


"Seperti yang kamu lihat." ucap Vano..


"Humm dari penglihatan ku seperti nya kamu tidak baik-baik saja." ucap Enjel.


Vano tertawa kecil. "Kamu bisa saja." ucap Vano.


"Oh iya Besok Temanin aku jalan-jalan yah." ucap Enjel. Vano menoleh ke arah Gerwyn.


"Pergilah. Saya juga besok tidak ada jadwal yang penting. sekali." ucap Gerwyn. Vano mengangguk, Enjel terlihat sangat senang.


"Oh iya ajak aku ke rumah Mamah kamu dong? Aku rindu pada nya." ucap Enjel.


"Besok saja, kamu harus siap-siap jam sepuluh pagi, aku akan datang menjemput." ucap Vano.

__ADS_1


"Humm Kalian jarang ketemu Tapi sangat akrab Yah." ucap Paman Gerwyn. Vano tersenyum.


Setelah selesai makan, Hena pamit pergi duluan.


"Hena kamu baik-baik saja kan? Aku khawatir sama kamu." ucap Sophia.


"Aku gak apa-apa kok, aku hanya butuh waktu untuk memikirkan nya." ucap Hena dia pun langsung pergi. Gerwyn tiba-tiba datang menyusul Sophia ke depan.


"Saya tidak berniat untuk ikut campur, hanya saja pikiran Sahabat kamu tidak terbuka." ucap Gerwyn. Sophia membalik kan badan nya menghadap ke arah suami nya.


Sophia tiba-tiba memeluk Gerwyn. Gerwyn tersenyum dia juga mengelus kepala Sophia.


"Oh iya masalah ponsel Ano mas jangan terlalu memarahi Mamah, Niat mamah sudah baik. Aku yang harus pandai mengontrol Ano." ucap Sophia.


Gerwyn Mengangguk. "Ya udah kita masuk yok." ajak Gerwyn. Namun ternyata Vano juga Ijin pulang.


"Saya sudah memberikan yang bapak minta pada Non Sophia, saya ijin pulang." ucap Vano.


"Baiklah kamu hati-hati terima kasih sudah mau ikut Makan malam dengan keluarga Saya, jangan lupa untuk datang menjemput keponakan saya." ucap Gerwyn.


"Baik Pak, saya permisi." ucap Vano meninggal rumah bos nya Itu.


"Ano kamu sudah mandi belum? Buruan mandi gih." ucap Sophia pada Ano yang main handphone di Sofa.


Namun Ano tidak menjawab nya.


"Ano pergi mandi dan belajar Ngaji." ucap Sophia. kedua kali nya Ano tidak menjawab.


Tiba-tiba Sophia mengambil ponsel Ano namun tidak dengan cara merampas dia mengambil nya perlahan.


"Mandi dan lalu belajar ngaji sama mbak buruan!" ucap Sophia sambil menahan amarahnya.


"Iyah mbak, sebentar lagi, game ku belum menang." ucap Ano. "Dengar kata mbak Sophia No, Nanti kalau gak denger ponsel nya di ambil mau?" ucap Gerwyn. Ano pun akhirnya mau mandi.


Sophia Menghela nafas panjang.


"Lihat lah mas. Baru satu hari saja sudah seperti ini, Ano bukan tipe anak yang pelawan namun semua anak sama saja ketika sudah bermain ponsel sudah lupa Segalanya." ucap Sophia.


Gerwyn tersenyum dia mengelus kepala istri nya.

__ADS_1


"Sudah lah namanya juga anak kecil, kapan lagi dia bisa seperti ini." ucap Gerwyn.


"Ekhem-Ekhem!! Di rumah ini bukan hanya berdua saja, Masih ada orang lain." ucap Enjel dengan iseng. Gerwyn menatap tajam Enjel, Enjel langsung berlari ke atas.


__ADS_2