
"Kamu mau Kan menikah dengan aku?" tanya Vano. Hena terdiam langsung. "Apa yang kamu katakan? Aku rasa kita tidak perlu membahas itu untuk saat ini." ucap Hena.
"Karena orang tua aku?" ucap Vano. Hena diam.
"Aku tidak mau membahas itu sayang, aku hanya ingin bersama kamu untuk saat ini." ucap Hena.
"Ya udah kalau begitu ayo tidur, besok pagi kamu harus bangun untuk ke sekolah." ucap Vano memeluk Hena.
Di tengah malam Bu Linda keluar dari kamar nya. Dia kaget melihat Enjel ada di ruang tamu ketiduran bersama Gerwyn.
"Enjel kapan sampai di sini?" ucap Bu Linda. Enjel terbangun karena mendengar Suara Bu Linda. "Tante." ucap Enjel menyalim tangan Bu Linda.
"kapan kamu sampai di sini? kenapa kamu tidak Mengabari Tante?" ucap Bu Linda. "Maafin aku Tante." ucap Enjel.
"Gerwyn yang meminta kamu ke sini?" ucap Bu Linda. Enjel diam.
"Kamu tidak perlu memperdulikan dia, Pria seperti dia pantas menerima nya." ucap Bu Linda. Enjel memegang tangan Bu Linda.
"Semua orang pasti akan melakukan kesalahan Tante, tapi tidak seharusnya Tante melakukan ini pada om Gerwyn." ucap Enjel.
"Jangan membela dia, Tante gak suka!" ucap Bu Linda.
"Tapi Tante. Dalam situasi seperti ini Tante juga harus membantu Om Gerwyn." ucap Enjel.
"Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri." ucap Bu Linda. Enjel terdiam.
"Kamu tidur dengan Tante saja, biarkan dia tidur di sini." ucap Bu Linda.
Keesokan harinya Sophia bangun pagi-pagi Sekali.
"Uwekk.. Uwekk.." Tiba-tiba Sophia mau muntah. dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Ano juga kebangun gara-gara Sophia.
"Mbak gak kenapa-napa kan?" tanya Ano. "Badan mbak sakit semua, kepala mbak juga pusing." ucap Sophia.
"Mbak duduk dulu." ucap Ano, dia mengambil Air putih untuk Sophia. "Bagaimana mbak sudah enakan?" tanya Ano. Sophia Menggeleng kan kepala nya.
"Ini pasti karena mbak hamil." ucap Ano.
__ADS_1
"Huss jangan berbicara seperti itu, mana mungkin mbak hamil." ucap Sophia.
"Terus kenapa mbak mual-mual. Kalau kata orang-orang itu adalah pertanda hamil." ucap Ano. "Jangan bercanda deh, ayo buruan mandi dan siap-siap ke sekolah." ucap Sophia.
"Humm aku kan hanya bilang mbak, kalau beneran kan bagus. Ibu pasti sangat senang sekali apalagi kak Gerwyn pasti sangat senang." ucap Ano.
Sophia menatap Ano sambil menghela nafas panjang.
"Aku bercanda mbak, marah Mulu deh." ucap Ano. Sophia diam.
Di Apartemen Vano, dia mencium kepala Hena yang masih sangat nyenyak tidur di pelukan nya.
"Sayang bangun..." Vano berbisik di telinga Hena. Hena hanya bergeliat. "Kamu mau bangun sekarang atau saya akan membangun kan kamu dengan cara lain?" ucap Vano.
"Kasih aku waktu Lima menit lagi. Aku Masih ngantuk." ucap Hena semakin mendekati tubuh Vano.
"Kamu menyentuh milik saya. Sekarang dia sudah terbangun." ucap Vano. Hena langsung membuka mata nya.
"Aku tidak sengaja, Lagian ini Masih sangat pagi." ucap Hena. "Pagi dari mana? ini sudah jam lima lewat. Kamu harus ke rumah kamu menukar pakaian." ucap Vano.
Hena Menatap wajah Vano. "Humm aku Masih ingin tidur di pelukan kamu." ucap hena dengan manja. Vano tersenyum.
"Berikan aku kecupan pagi agar semangat ku pulih. Kita akan bertemu malam nanti, aku pasti sangat merindukan kamu." ucap Hena.
Vano tersenyum dia mencium seluruh wajah Hena.
"Sekarang kamu sudah puas?" tanya Vano. Hena tersenyum.
"Supir ku akan mengantar kan kamu." ucap Vano. Hena menganguk. Dia turun dari kasur.
"Tunggu dulu." ucap Vano. Hena menoleh ke arah Vano.
"Ambil ini untuk jajan kamu nanti. Pin nya adalah tanggal lahir kamu sendiri." ucap Vano memberikan kartu ATM pada Hena.
"Kamu seriusan?" tanya Hena, Vano menganguk.
"Tapi aku tidak enak memakai nya, lebih baik kamu menyimpan nya saja." ucap Hena.
"Loh emang nya kenapa?" tanya Vano heran.
__ADS_1
"Aku tidak mau seperti jadi wanita bayaran kamu. Yang kamu lakukan saat ini sama seperti beberapa bulan lalu yang aku pernah alami." ucap Hena.
Vano Menghela nafas panjang. "Jangan menyamakan aku dengan pria lain. Aku memberikan ini karena aku merasa Aku memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan kamu. Itung-itung Belajar menjadi calon suami yang baik." ucap Vano.
Hena Menggeleng kan kepala nya. "Aku gak mau, jangan paksa aku, aku mau pulang dulu." ucap Hena mencium pipi Vano dan pergi.
Vano mengambil kembali kartu itu. "Huff ini pasti karena hal tadi malam." ucap Vano. Dia kembali tidur.
Tidak terasa sudah jam delapan pagi.
"Om Gerwyn kemana Tante?" tanya Enjel yang baru saja bangun.
"Seperti nya dia pergi ke sekolah Sophia lagi." ucap Bu Linda. "Apa dia sudah Makan?" tanya Enjel. "Tante tidak tau." ucap Bu Linda. Enjel menghela nafas panjang.
"Kalau dia tidak Makan maag nya bisa kambuh lagi." ucap Enjel. Bu Linda terdiam sejenak.
"Kalau bukan Sophia yang memasak dia pasti tidak mau Makan." ucap Bu Linda. Enjel duduk dengan cemas di samping Bu Linda.
"Aku yang sangat pusing memikirkan nya." ucap Enjel.
"Dia sudah dewasa Enjel. dia laki-laki. Sebagai laki-laki dia harus mempunyai tanggung jawab ." ucap Bu Linda.
"Hal seperti ini saja sudah membuat Tante Linda marah besar, bahkan ini adalah pertama kalinya Tante semarah ini Om Gerwyn." batin Enjel.
"Kenapa kamu terdiam dan menatap Tante seperti itu? apa kamu marah pada Tante karena tidak perduli dengan Om kesayangan kamu itu?" ucap Bu Linda.
Enjel Menggeleng kan kepala nya. "Bukan seperti itu Tante." ucap Enjel.
"Kamu pasti tau kan kalau Gerwyn memiliki hubungan dengan Lisa? Kamu menyembunyikan nya dari Tante." ucap Bu Linda lagi.
"Aku tidak tau tante." ucap Enjel. "Tante yakin kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari Tante." ucap Bu Linda. "Huff Tante selalu saja berfikiran buruk kepada ku." ucap Enjel.
"Kamu sudah tau kalau Tante sangat membenci pria yang menyakiti hati wanita. Apalagi dia tidur dengan wanita yang belum jadi istri nya." ucap Bu Linda.
"Huff sangat sulit kalau sudah seperti ini." batin Enjel.
"Dan satu lagi. Tante sangat membenci wanita yang jadi penghibur om-om yang kurang waras itu, pria-pria yang kegatalan. Seperti tidak ada pekerjaan lain saja!" ucap Bu Linda dia terlihat sangat emosi ketika membahas itu.
"Tante Linda sangat sensitif akan hal seperti ini, tapi dia di kelilingi oleh orang seperti itu." batin Enjel. Dia memegang kepala nya sambil bersandar lemas ke sofa.
__ADS_1