
Baru saja berbaring dia sudah bisa tidur lelap belum menukar pakaian nya sama sekali.
Buk Linda mengetuk-ngetuk pintu agar Sophia Keluar untuk makan malam namun Sophia sama sekali tidak bangun.
"Ada apa Mah? kenapa mengetuk-ngetuk pintu seperti itu?" tanya Gerwyn yang baru saja Datang dan melihat Mamah nya.
"Ini loh nak, istri kamu dari tadi gak mau bangun. Mamah mau ngajak untuk makan malam. Kamu sendiri kenapa baru pulang jam segini?" tanya Buk Linda.
"Aku di kantor ada kerjaan Mah." ucap Gerwyn.
"Oohh ya udah kamu bangunin istri kamu gih dan suruh makan ke bawah. Mamah mau masuk tapi segan." ucap buk Linda.
Dia sangat menghargai privasi menantu dan anak nya.
"Ya udah mah.' ucap Gerwyn. Saat Bu Linda mau pergi, tiba-tiba Gerwyn menahan nya.
"Tunggu dulu Mah, aku mau ijin.." tiba-tiba terhenti.
"Mau ngomong apa nak? Ngomong saja. Kamu mau Ijin kemana?" tanya Bu Linda. "Humm gak jadi deh Mah, masalah sepele kok." ucap Gerwyn.
Mamah nya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya melihat Gerwyn.
"Ya sudah buruan bangunin istri kamu." ucap Bu Linda dan meninggalkan Gerwyn.
Gerwyn membuktikan pintu di melihat kamar Sangat gelap, jendela belum di tutup. Dia menghidupkan lampu dan ternyata istri nya tidur tengkurap di kasur sambil ngorok.
Gerwyn Menghela nafas panjang.
"Ini sudah malam dia masih tidur?" batin Gerwyn.
"Sophia.. Sophia bangun heyy... Mamah dari tadi manggil kamu." ucap Gerwyn dengan lembut sambil mengelus pelan badan istri nya.
Namun Sophia sadar.
"Kamu di panggil mamah Sophia,. ayo bangun." ucap Gerwyn. "Dalam hitungan ke-tiga kamu tidak bangun, kamu akan di hukum." ucap Gerwyn berbisik ke telinga Sophia.
"Satu... Dua... Tiga!!" ucap Mile namun tiba-tiba Sophia bangun.
__ADS_1
"Aku tidak tidur semalaman, pagi nya aku harus menemani Enjel dan Sampai Sore aku di rumah sakit, aku baru saja istirahat mas." ucap Sophia duduk namun tidak membuka mata Nya.
Melihat ekspresi Istri nya sambil ngedumel membuat nya tersenyum. "Aku ingin tidur. Aku masih ngantuk." ucap Sophia berbaring di paha suami nya.
"Seharian mas tidak mengabari aku, apakah mas sangat sibuk sehingga tidak mengingat ku?" tanya Sophia. Gerwyn mengelus rambut istri nya.
"Bukan seperti itu, hanya saja saya tidak ingin mengganggu kamu istirahat di rumah. Eh ternyata kamu juga keluar." ucap Gerwyn. Sophia semakin bersifat Manja. Gerwyn mencium kepala Sophia.
"Kamu sudah tidur dari sore dan sekarang sudah jam delapan Malam, Waktu nya bangun sayang, nanti Sama paman dan Bibik tidak enak." ucap Gerwyn.
Sophia perlahan membuka mata nya. Dia menatap Suaminya sambil memajukan bibirnya. Gerwyn mencium nya dengan singkat.
"kenapa mas baru pulang?" tanya Sophia.
"Di kantor sangat padat pekerjaan. saya tidak bisa meninggal nya begitu Saja." ucap Gerwyn. Sophia duduk.
"Buruan mandi gih." ucap Gerwyn. Sophia menggeleng kan kepala nya. Namun tiba-tiba Gerwyn mengendong Sophia ke kamar mandi.
"Aaaaa!!! Dingin banget Mas.' ucap Sophia.
"Kamu kurang enak badan yah Sophia? Kamu tidur di sore hari." ucap Buk Linda.
"Sedikit kurang enak mah, mungkin karena kelelahan." ucap Sophia.
"Kamu seharusnya jangan memaksakan diri untuk belajar terus. Kamu sendiri yang Akan pusing dan akhirnya kelelahan." ucap Bu Linda.
"Baik Mah." ucap Sophia. mereka pun langsung Makan bersama, sementara Enjel sudah menatap Aneh ke arah Om nya. Namun Gerwyn menatap tajam ke arah Enjel agar tidak membuat yang lain Curiga.
Di rumah sakit. Hena baru selesai berbicara dengan orang tua nya. Hena meminta mereka untuk di rumah saja, jangan khawatir kan dia.
Orang tua nya percaya kalau ada orang yang menemani Putri nya di sana akhirnya mereka tenang.
"Huff om Davit kemana yah? Kenapa dia mengirim kan pesan pada ku dia tidak akan datang malam ini." batin Hena. Namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu masuk dan melihat ternyata itu adalah Vano.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Hena.
"Nih untuk kamu!" ucap Vano memberikan buah.
__ADS_1
Hena tidak mengambil nya, Vano meletakkan nya di atas Meja.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Vano. "seperti yang kamu lihat." ucap Hena. Vano duduk di kursi.
"Kalau Om Davit mengirimkan kamu untuk menemaninya ku lebih baik tidak perlu." ucap Hena.
"Saya ke sini bukan karena perintah papah saya. Saya ke sini karena ingin melihat keadaan kamu..Mau bagaimana pun saya hanya memastikan kamu baik-baik saja karena malam itu kita habis tidur bersama." ucap Vano.
Hena Menghela nafas panjang.
"Aku tidak ingin membahas nya, aku juga tidak ingin melihat kamu." ucap Hena.
Vano Menghela nafas panjang.
"Kamu lebih betah melihat papah saya dari pada saya? saya pikir saya lebih tampan, saya juga memiliki uang, saya bahkan bisa lebih Kuat dari pada papah saya untuk memuaskan wanita seperti kamu." ucap Vano.
Hena diam. "Kamu sudah di berikan teguran untuk meninggalkan papah saya, namun kamu tak kunjung sadar. Asal kamu tau yang membayar semua biaya rumah sakit kamu, membawa kamu ke rumah sakit dan menjemput Ibu, Ayah kamu adalah Saya. Dan tentu nya itu bukan biaya yang murah, tidak semua orang bisa melakukan itu pada wanita yang di benci nya." ucap Vano.
Hena terdiam dia Fikir yang membayar biaya rumah sakit adalah Om Davit.
"Saya akan mengganti uang kamu, terimakasih Sudah membawa saya ke sini dan orang tua ku." ucap Hena.
"Tidak ada gunanya kamu menukar uang saya dengan uang Ayah saya sendiri. Saya tidak akan menerima itu. Saya hanya ingin kamu berhenti mendekati Papah saya. Saya akan memberikan berapa pun yang kamu mau." ucap Vano.
"Vano! Apa yang kamu katakan!" ucap Om Davit datang tiba-tiba. Mereka berdua terkejut.
Karena mereka tau kalau om Davit tidak akan datang.
Vano Berdiri namun tiba-tiba papah nya menghajar wajah Anaknya.
"Sudah berapa kali papah bilang untuk tidak ikut campur! Papah tidak pernah mengganggu hidup kamu, papah juga ingin bahagia, ini adalah cara Papah bahagia." ucap Om Davit.
"Bukan seperti ini caranya Pah. Aku tidak rela papah menghianati Mamah. Mamah di rumah selalu kesepian dia Selalu percaya pada papah namun papah tidak perduli pada nya." ucap Vano.
"Apa yang bisa Papah harap kan Pada mamah kamu? Apa??" ucap Om Davit.
"Papah berubah semenjak kenal dengan wanita ini, papah benar-benar tidak seperti papah ku yang dulu. Aku tidak mengira Papah Akan seperti ini. Aku mohon sama papah untuk memilih antara kami Atau perempuan ini." ucap Vano sambil menangis.
__ADS_1