
"Maafin Aku mah, aku tadi menemani Hena." ucap Sophia.
"Suami kamu adalah Gerwyn bukan Hena. Kewajiban kamu mengurus suami kamu, karena kamu dia mabuk. Dari Kemarin kamu selalu mengabaikan dia." ucap Bu Linda.
Sophia diam. Bu Linda langsung meninggalkan dia.
"Mamah sampai marah seperti itu karena mas Gerwyn mabuk." ucap Sophia.
Sophia berjalan Menuju ke kamar mereka. Membuka pintu..
"Mas Gerwyn.." ucap Sophia melihat Gerwyn yang tidur di lantai.
"Kenapa mas bisa sampai mabuk seperti ini?" ucap Sophia.
"Mas, mas, bangun mas." ucap Sophia membangun kan suami nya.
"Kenapa kamu pulang? lebih baik kamu menemani teman kamu saja." ucap Gerwyn. Sophia menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf mas, aku bukan bermaksud mengabaikan kamu, aku juga sebelum nya ijin. Aku berfikir mas akan baik-baik saja." ucap Sophia.
Gerwyn menatap wajah istri nya. "Kamu tidak sayang kepada saya kan? Kamu tidak benar-benar mencintai saya kan?" ucap Gerwyn.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu mas? Aku sangat mencintai kamu." ucap Sophia. "Bohong!!" ucap Gerwyn.
"Mana ada perempuan yang cantik, muda mau kepada Pria seperti ku." ucap Gerwyn.
"Kamu berbicara apa sih mas? seperti nya mas terlalu banyak minum." ucap Sophia dia membantu Gerwyn naik ke tempat tidur agar bisa istirahat dengan tenang.
Setelah di kasur Sophia Membuka semua pakaian suaminya.
"Huff kenapa dia harus mabuk? Kalau dia tidak mengijinkan ku seharusnya dia bilang. Kalau ada masalah dengan ku, dia bisa membicarakan nya, tidak harus mabuk seperti ini." ucap Sophia.
Dia mengambil kain basah untuk membersihkan tubuh suaminya yang bau alkohol. Setelah selesai dia pun membersihkan badan nya.
Dia mandi dengan Air hangat.
"Mas Gerwyn kenapa jadi sangat mengekang ku sih? Sebelum nya dia tidak seperti ini, padahal aku tidak mengatakan apapun, sifat ku juga tidak berubah." ucap Sophia.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai dia keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias sambil memeriksa ponsel nya.
"Hen kamu sudah pulang belum?" Sophia mengirim kan pesan pada Hena yang di tinggal kan nya di Cafe tadi nya. Dia tidak bisa lama-lama karena takut suami nya menunggu lama, sementara Hena belum mau pulang.
Hena yang duduk sendirian di cafe itu melihat ponsel nya.
"Aku sudah mau pulang kamu jangan khawatir." ucap Hena.
__ADS_1
"Bagus lah kalau begitu, hati-hati di jalan jangan lupa untuk mengabari aku." balas Sophia.
Hena tersenyum. Dia membayar tagihan dan setelah itu keluar dari sana. Dari kejauhan dia melihat satu orang pria yang tidak asing baginya.
"Loh bukannya itu Vano?" ucap Hena. Dia mendekati memastikan kalau itu benar Vano dan ternyata itu benar Vano.
"Permisi Mbak. Ini untuk pria itu?" tanya Hena bertanya pada wanita yang membawa kopi untuk Vano.
"Iyah Mbak," jawab penjual itu.
"Kalau boleh tau dia sudah lama belum di sini?" tanya Hena.
"Sudah sekitar satu jam mbak."
"Oohh ya udah kalau begitu saya yang Akan membawa ini kepada nya." ucap Hena.
Hena duduk di samping Vano meletakkan minuman di samping Vano.
Vano melihat Hena.
"Saya tidak mimpi kan kalau kamu ini Hena asli?" ucap Vano menatap Hena.
"Aku arwah Hena....." Ucap Hena sambil membuat wajah seram dan suara seram.
"Aaaaahhh. Pergi jauh dari saya, jangan mengganggu saya." ucap Vano berteriak.
Dia bernafas lega.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Vano.
"Aku melihat pria yang sangat egois, jahat duduk disini sendirian seperti orang yang tidak memiliki siapa-siapa, aku berinisiatif untuk menemui nya memastikan kalau dia baik-baik saja apa tidak." ucap Hena.
Vano diam.
"Aku hanya bercanda, lupakan saja masalah Kemarin." ucap Hena. Vano menatap wajah Hena.
"Saya minta maaf." ucap Vano dengan lirih. Hema hanya diam saja.
"Kamu kapan keluar dari rumah sakit?" tanya Hena. "Hari ini." ucap Vano. "Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, bahkan Masih banyak perban berani-beraninya duduk di pantai sendirian dan bisa saja kamu masuk angin." ucap Hena.
Vano hanya diam saja.
"Ini sudah sangat Malam, waktu nya untuk pulang." ucap Hena. "Kamu bisa pulang duluan." ucap Vano.
Hena menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu Masih sakit, kalau kamu tidak istirahat banyak bisa-bisa kamu masuk rumah sakit lagi." ucap Hena.
"Kamu jangan khawatir." ucap Vano.
"Bisa di bilangin sekali saja gak sih? ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan kamu." ucap Hena.
Vano Menggeleng kan kepala nya dia menatap ke pantai dengan tatapan kosong. Hena memerhatikan wajah Vano.
"Ada apa dengan wajah itu? Kamu sedang ada masalah? atau jangan-jangan kamu Masih marah sama aku?" tanya Sophia.
Vano Menggeleng kan kepala nya.
Tiba-tiba ponsel nya hidup.
"Mamah memanggil" ...
Namun panggilan nya di abaikan. Hena diam saja, di telpon lagi namun tidak di jawab oleh Vano.
"Kenapa kamu mengabaikan nya? mamah kamu pasti sangat khawatir sama kamu." ucap Hena.
Vano hanya diam saja.
"Kamu marahan sama orang rumah?" tanya Hena. Vano Menggeleng kan kepala nya.
"Lalu kenapa? Tidak biasa aku melihat kamu seperti ini." ucap Hena. "Kenapa kamu ingin tau? Bukan nya kamu tidak perduli kepada ku?" ucap Vano.
Hena menghela nafas panjang.
"Aku tidak mau ikut campur, sekarang kamu harus meninggalkan tempat ini karena ini tidak baik untuk kesehatan kamu." ucap Hena.
"Saya tidak mau pulang." ucap Vano.
"Kamu harus pulang." ucap Hena langsung menarik tangan Vano yang tidak sakit.
"Pokoknya harus pulang." ucap Hena.
"Saya tidak mau pulang ke rumah, saya mau mencari penginapan saja." ucap Vano.
"Rumah ku dekat sini, kamu bisa istirahat di sana dari pada kamu di sini kena angin." ucap Hena.
Vano tau dia di ajak ke rumah Hena dia pun tidak membantah. Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
"Ayo masuk, berjalan lah dengan hati-hati." ucap Hena membawa Vano masuk ke dalam.
"Kamu minum air hangat ini dulu, kamu bisa istirahat sebentar, setelah aku selesai mandi aku akan membantu mencari penginapan." ucap Hena.
__ADS_1
Vano hanya diam saja, setelah Hena masuk ke kamar nya Vano berbaring di sofa. Sebenarnya dia belum sembuh total, akhirnya dia berbaring di sofa meluruskan Pinggang nya yang terasa sangat sakit.
Sebenarnya dari rumah dia kabur. Di tidak pamit sama sekali kepada orang tua nya. Dia mendengarkan pembicaraan kedua orang tua nya membuat nya sangat stres memutuskan untuk keluar karena di rumah juga tidak bisa tidur.