
"Maka nya punya pacar." ucap Vano. "Jangan kan pacar istri dan anak aku sudah punya." ucap Tobi. "Oh iya yah." ucap Vano.
Mereka segera meninggalkan tempat itu..Vano masuk ke dalam mobil nya sambil memeriksa Ponsel nya karena tadi dia tidak memegang ponsel nya.
"Ya ampun Hena menghubungi ku beberapa kali namun aku tidak mendengar nya." ucap Vano. Dia segera Menuju ke rumah Hena.
Setelah sampai di sana dia mengetuk pintu beberapa kali namun Hena tidak kunjung membuka nya. "Hena!" panggil Vano.
"Kemana sih dia? Apa dia tidak ada di rumah? Tapi ini sudah malam." batin Vano. "Hena..." panggil Vano lagi. Tidak beberapa lama pintu terbuka.
"Kenapa kamu begitu lam membuka pintu? Kamu membuat saya menunggu di gigit nyamuk di luar." ucap Vano. "Justru aku yang harus bertanya kamu dari mana saja? kenapa tidak membalas pesan dan menjawab telpon ku." ucap Hena.
"Maafin saya, saya tidak mendengar nya." ucap Vano. Hena memerhatikan penampilan Vano. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu sangat berantakan?" tanya Hena.
"Apa kamu tidak mengijinkan saya masuk terlebih dahulu?" tanya Vano. Hena membuka pintu lebih lebar dan Vano pun masuk ke dalam.
"Mandi lah." ucap Hena memberikan handuk. Vano menganguk. Cukup lama di kamar mandi tidak beberapa lama dia keluar.
Untung saja dia membawa kaus dan celana biasa di dalam mobil nya. Dia duduk di ruang tamu bersama Hena.
"Minum lah agar lebih rileks." ucap Hena memberikan Kopi hangat.
"Terimakasih." ucap Vano. Vano melihat semua buku yang di atas meja. "Jam segini kamu Masih tetap belajar?" tanya Vano, Hena menganguk.
"Huff saya sudah di sini, namun kamu memilih belajar?" ucap Vano. Hena menghela nafas panjang dia menatap wajah Vano.
"Apa yang bisa aku lakukan lagi? Ini sudah malam kamu seharusnya segera pulang, bukan datang ke sini." ucap Hena.
"Kamu sudah jadi pacar saya, namun tetap saja seperti orang lain." ucap Vano. Hena terdiam sejenak.
"Malam ini saya akan menginap di sini." ucap Vano.
"Tidak bisa karena aku hanya memiliki satu kamar." ucap Hena, saya bisa tidur di luar." ucap Vano. "Di luar sangat dingin." ucap Hena.
"Tidak masalah, karena pulang ke rumah akan membuat saya semakin lelah." ucap Vano.
"Aku tidak memiliki kasur Santai atau badcover." ucap Hena.
"Kamu tidak ingin kekasih kamu ini mati kedinginan di luar kan? Jadi bagaimana kalau sebaiknya kita tidur di kasur yang sama?" tanya Vano.
"Jangan aneh-aneh yah!" ucap Hena langsung berdiri.
__ADS_1
"Maksud aku bukan seperti itu, aku janji tidak akan melakukan hal lain selain tidur." ucap Vano.
"Janji." ucap Vano menyakinkan Hena
Alhasil Hena menyetujui nya.
Bantal guling jadi pembatas di antara mereka berdua.
"Kami sudah sepasang kekasih, apa harus melakukan hal seperti ini?" batin Hena.
"Sebelum nya kami sudah pernah melakukan itu," batin Hena lagi. Dia berbalik menatap Vano.
"Tapi kenapa rasanya sangat canggung sekali yah, aku biasa nya tidak pernah canggung dengan pria yang tidur dengan ku, namun kenapa dengan Vano aku sangat canggung.'" ucap Hena.
"Vano.." panggil Hena. Namun Vano tidak menyahuti dia. "Apa kamu sudah tidur?" tanya Hena.
Dia mengawas kan bantal guling yang ada di tengah itu.
Dan ternyata Benar saja Vano sudah tidur.
"Dia tidur begitu cepat." batin Hena.
"Dia sangat tampan sekali. Namun kenapa dia memilih untuk mencintai ku, dan bersama wanita seperti ku?" batin Hena.
"Semoga saja dia tidak akan pernah bosan dengan ku, dan selalu mencintai ku." batin Hena. Dia mencium pipi Vano. Namun tiba-tiba Vano menahan pinggang Hena.
"Kamu pikir saya sudah tidur sehingga bisa mencium saya diam-diam?" ucap Vano.
"Kamu menipu ku?" ucap Hena. Vano tersenyum dia membuka mata nya menatap wajah Hena.
"Boleh kak saya mencium kamu?" tanya Vano. Hena terdiam sejenak.
Tiba-tiba Vano mencium pipi Hena. "Kita sekarang adil." ucap Vano. Mata mereka bertemu.
"Aku mencintai kamu." ucap Hena. Vano tersenyum sambil mengangguk. Hena perlahan mencium bibir Hena.
Hena tidak menolak sama sekali, mereka membalas ciuman masing-masing. Vano berada di atas Hena.
"Kalau kamu tidak suka kamu bisa mengatakan nya." ucap Vano.
"A-aku suka." ucap Hena..Vano tersenyum dia mencium bibir Hena dengan sangat lembut penuh cinta sekali.
__ADS_1
"Terimakasih." ucap Vano. Dia membawa Hena ke dalam pelukannya. Hena kebingungan.
"Apa-apaan ini? Apa hanya ciuman saja?" ucap Hena dalam hati.
Tidak beberapa lama Vano pun tidur.
"Apa dia tidak mau dengan ku? Apa dia merasa jijik dengan wanita seperti ku?" batin Hena. "Apa dia sungguh tidak bergairah dengan ku?" batin Hena.
Dia menghela nafas panjang. Hena membelakangi Vano dan berusaha untuk tidur.
Di pagi hari nya. "Good morning Mas." sapa Sophia pada suami nya yang baru saja bangun.
Dia duduk di pinggir kasur. "Pagi juga sayang." ucap Gerwyn. Sophia memberikan ciuman bibir yang singkat.
"Maaf yah aku ketiduran saat kamu pulang." ucap Sophia. Gerwyn tersenyum. "Tidak apa-apa." ucap Gerwyn.
Gerwyn melihat Susu dan juga roti di bawa oleh istri nya.
"Apa ini untuk saya?" tanya Gerwyn, Sophia Menganguk.
"Hari ini kamu mau kemana? Kenapa bangun sangat pagi?" tanya Gerwyn.
"Hari ini aku tidak kemana-mana mas." ucap Sophia. "Humm apa kamu mau ikut ke restoran Bibi? Saya memiliki pertemuan di sana," ucap Gerwyn.
"Serius Mas?" tanya Sophia. Gerwyn Mengangguk. "Aku boleh ikut mas?" tanya Sophia lagi.
"Iyah sayang." ucap Gerwyn mengelus rambut Sophia.
"Saya tau kamu sebenarnya bukan ke sana, namun hanya ingin melihat studio saya sebelum nya kan?" ucap Gerwyn, Sophia tersenyum sambil mengangguk.
"Ini adalah hari terakhir aku bersantai Mas, selanjutnya aku sudah harus pusing memikirkan ujian. aku ingin ke tempat yang sangat ingin aku datangin." ucap Sophia.
"Kenapa sebelum nya kamu pergi dengan Hena?" tanya Gerwyn. "Aku sudah pergi, namun penggemar yang tidak memiliki janji atau tiket masuk ke dalam tidak boleh masuk, alhasil aku di usir." ucap Sophia.
Gerwyn tersenyum. "Namun sekarang kamu sudah memiliki model nya." ucap Gerwyn.
"Aku sangat beruntung karena aku bisa melihat nya dengan gampang tidak perlu panas-panasan menunggu agar Bisa bertemu, bangun tidur idola ku sudah ada di samping ku." ucap Sophia.
Gerwyn tersenyum.
"Ternyata kamu sangat mengidolakan saya." ucap Gerwyn, Sophia tersenyum. "Mamah sudah bangun?" tanya Gerwyn. "Belum Mas, tapi aku sudah menyiapkan sarapan kok, Ano juga sudah berangkat sekolah sama supir." ucap Sophia.
__ADS_1