Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Episode 293


__ADS_3

"Aaarggghh...."


"Kenapa mas? Lagian udah gak bisa banyak gerak sok-sokan mau mencium aku. Kamu bisa meminta nya." ucap Sophia sambil mencium bibir Gerwyn.


Gerwyn menahan nya. Memperdalam ciuman mereka. Gerwyn mau melanjutkan aksinya namun di tahan oleh Sophia.


"Kamu belum bisa mas, kamu belum kuat." ucap Sophia.


"Kata siapa? saya sudah Kuat, hanya saja saya tidak bisa banyak melakukan gaya." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.


"Sabar dulu yah mas, kamu harus sembuh dulu. Aku gak ingin hanya karena ini luka nya semakin parah." ucap Sophia.


Gerwyn tertawa kecil.


"Tidak terasa hari semakin sore, Sophia baru saja mandi sementara Gerwyn masih tidur.


"Aku jadi tidak sabar melihat perut ku membesar dan merasakan tendangan dari bayi nya. Kalau Hamil muda seperti ini sangat menyiksa badan." ucap Sophia dalam hati.


Gerwyn bangun dia melihat Sophia yang bercermin hanya mengunakan handuk Saja.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gerwyn. Sophia menoleh ke arah suami nya.


"Enggak kok, aku hanya melihat badan ku." ucap Sophia.


"Badan mu begitu kurus sekarang." ucap Gerwyn. Sophia diam.


"Kamu lebih sering mengabaikan makan, dan juga sering mengeluarkan nya." ucap Gerwyn. "Aku juga gak mau seperti itu Mas, namun kamu tau itu sudah hal biasa bagi wanita hamil." ucap Sophia. Gerwyn tersenyum.


Sementara di tempat lain..


"Assalamualaikum Tante, Om.." Bibi datang berkunjung ke rumah nya Lita.


"Bibi!! Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Lita Terkejut.


"Jawab salam Dulu nak." ucap mamah nya.


"Walaikumsalam. Silahkan duduk nak." ucap Ibu nya Lita.


Bibi duduk di sofa samping Papah nya Lita.


"Kamu pasti mencari Yana kan? Dia sudah ikut orang tua nya pulang ke rumah nya." ucap Lita langsung.


"Oohhh. Kalau boleh tau di mana rumah nya?" tanya Bibi.


"Di luar negeri, kamu tidak akan tau. Dan tidak mungkin juga kamu ke sana." ucap kita.

__ADS_1


"Lita! Kamu berbicara apa sih nak?" ucap papah nya.


"Lagian bibi gak bisa di bilangin pah, bagaimana kalau Om dan Tante tiba-tiba marah pada nya karena berusaha mendekati Yana." ucap Lita.


"Yah kan gak ada salahnya nak, biar saja Nak Bibi mencoba nya. Sudah , lebih baik kamu anterin dia ke rumah nya Yana." ucap Papah nya.


"Ahh papah, aku gak mau." ucap Lita. "Ayo buruan. Apa kamu tidak mau Membantah orang tua di depan pacar kamu sendiri." ucap papah nya. Lita melihat pacar bule nya.


"Aku memberikan alamat nya saja, aku gak mau di bawa-bawa urusan bibi." ucap Lita.


Akhirnya Lita memberikan alamat.


"Kamu hati-hati yah Bibi, kamu tau sendiri kalau seorang ayah marah dia akan menendang kamu keluar dari rumah nya." ucap Lita.


"Stop membuat teman kamu takut sayang." ucap pacar nya. Lita langsung diam ketika di nasehati pasangan nya.


"Aku akan berhasil mendapatkan hati kedua orang Yana." ucap Bibi. "Humm coba saja, aku yakin tidak akan bisa." ucap Lita.


"Oke.. Kita lihat saja nanti." ucap Bibi.


Setelah itu Bibi pamit dia Menuju ke rumah Yana yang tidak jauh dari sana.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di rumah yang begitu besar. Mewah dan juga di pagar sangat tinggi.


"Permisi Pak saya mau bertemu dengan Yana." ucap Bibi pada security.


"Permisi Tuan ada Tamu." Ucap Security pada papah nya Yana yang duduk di Ruang tamu.


"Nak Bibi.. bagaimana bisa kamu tau rumah kami di sini?" tanya papah nya Yana.


"Dari Lita Om, saya hanya ingin bermain dan ingin berbincang-bincang dengan Yana sebentar." ucap Bibi.


"Dengan Yana?" Wajah nya seketika berubah.


"Iyah Om, kalau gak bisa tidak perlu om, saya juga ingin berbincang-bincang dengan Om. Oh iya Om ini adalah oleh-oleh." ucap Bibi.


"Siapa yang datang Pah malam-malam." tanya mamah nya Yana.


"Selamat malam Tante." ucap Bibi dengan sopan.


"Kamu sendirian? Orang tua kamu juga ikut?" tanya Mamah nya Yana.


"Saya sendirian Tante." ucap Bibi.


"Kalau boleh ada apa yah nak? Tidak biasa." Ucap Mamah Yana.

__ADS_1


"Saya mau bertemu dengan Yana tadi nya Tante, namun sepertinya tidak bisa, saya juga datang terlambat ke sini." ucap Bibi.


Cukup banyak mereka berbincang-bincang sehingga melupakan Niat awal nya.


Di Atas lantai dua Yana melihat Bibi.


"Pantesan dari tadi Sangat ramai ternyata ada Pria itu." ucap Yana.


Dia melihat Bibi dan orang tua nya sangat akrab.


"Apakah papah dengan dia memiliki Kerja sama? Kelihatan nya benar-benar sangat kompak." batin Yana.


Tidak sengaja Bibi melihat ke atas.


Bibi tersenyum dan main mata kepala Yana Yang membuat Yana Kaget dia langsung pergi.


"Apa-apaan ini? Kenapa dia Berani-beraninya melakukan itu kepada ku." ucap Yana. Dia memegang dadanya yang berdetak dengan sangat cepat.


"Huff tidak mungkin aku suka pada pria yang banyak berbicara seperti dia." ucap Yana.


Dia berdiri di balkon kamarnya.


Namun dia sangat kaget melihat di depan rumah nya ada tulisan..


"Selamat malam Yana.." Yana bingung bitu dari mana namun dia melihat Bibi tersenyum ke arah nya.


"Nih laki-laki gila? Bisa-bisa nya Dia seperti itu di depan rumah papah dan mamah. Kalau mereka melihat dia tidak akan bisa ek sini lagi." ucap Yana.


Yana memberikan isyarat agar Bibi pergi sebelum orang tua nya melihat.


"Berikan saya Nomor mu." ucap Bibi di tulisan. Yana menggeleng kan kepala nya. Bibi Menghela nafas panjang.


"Tidur yang nyenyak yah. Sampai jumpa lagi." Bibi menukar tulisan.


Yana melihat ekspresi Bibi tersenyum.


Tiba-tiba dia tersenyum. "Kamu cantik kalau senyum seperti itu." ucap Bibi dengan bahasa isyarat.


Yana tersenyum. Tiba-tiba orang nya Yana datang ke kamar. Bibi dengan cepat langsung pergi.


"Kamu kenapa berdiri di balkon nak? Ini sudah malam." ucap papah dan Mamah nya.


"lagi liat apa sih?" tanya Papah nya. Yana sudah panik dan Untung saja Bibi pergi dengan sangat cepat dan tidak ketahuan.


"Aku mau tidur sekarang mah, pah." ucap Yana. Orang tua nya menganguk. Mereka menyelimuti Yana dan setelah itu mematikan lampu dan tidur.

__ADS_1


"Tidak mungkin papah sama mamah mengijinkan aku dekat dengan laki-laki, mereka hanya memiliki aku, mana mungkin mereka memberikan aku kepada orang lain." batin Yana.


"Aku ingin memiliki saudara, aku tertekan kalau seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau, aku harus menuruti keinginan orang tua ku terus." ucap nya.


__ADS_2