
"Huff aku sudah dari pagi siap nya, namun tetap saja aku harus berangkat kesiangan ke sana." ucap Enjel.
"Itu makanya kalau mau melakukan sesuatu jangan terburu-buru. Sebenarnya apa yang penting sih?" tanya Ibunya.
"Aku hanya ingin main, tidak ada yang lain kok." ucap Enjel.
"Oohh. Ya udah Ibu sama Ayah Titip salam, oh iya jangan lupa Omah kamu juga." ucap Ibu nya. Enjel tersenyum.
"Ayo Enjel kita berangkat aku sudah siap." ajak Sophia. Mereka pun pamitan dan segera berangkat.
"Oh iya sebelumnya ku udah pernah lihat orang tua Vano belum?" tanya Enjel.
"Belum pernah bertemu sih, tapi sudah pernah melihat foto nya." ucap Sophia.
"Kamu tau keadaan nya sekarang seperti apa?" tanya Enjel lagi. Sophia mengangguk.
"Sebenarnya aku bawa kamu bukan hanya karena Om Gerwyn yang nyuruh tapi memang dari awal nya aku mau ngajak kamu keluar untuk berbicara." ucap Enjel.
"Ada apa an? kenapa wajah kamu serius banget. Kamu bikin aku khawatir deh. Perasaan aku gak ada salah apa-apa." ucap Sophia.
"Aku Mau nanya tentang Hena sama kamu." ucap Enjel. Sophia langsung terdiam.
"Kamu adalah sahabat nya. Dan aku juga tau kalian berdua sangat dekat. Itu artinya kamu selalu bersama dia tau kehidupan dia seperti apa kan?" ucap Enjel.
"Iyah tau, emang Kenapa?" tanya Sophia.
"Kamu tau juga dong hubungan nya sama Om Davit?" tanya Enjel.
"Loh kamu tau dari mana? Vano cerita yah sama kamu?" tanya Sophia. Enjel menggeleng kan kepala nya.
"Aku tau tadi malam aku melihat Om Mile memegang tangan Hena mencium tangan nya mereka terlihat seperti sepasang kekasih." ucap Enjel.
Sophia terdiam.
"Kamu tau kalau keadaan Mamah nya Vano tidak baik, kenapa kamu tidak melarang atau memperingati Hena?" tanya Enjel.
"Aku sudah berusaha memperingati dia, Tapi aku tidak tau apa yang terlintas di pikiran nya sehingga dia tidak mau mendengar kan aku." ucap Sophia.
__ADS_1
Enjel menghela nafas panjang.
"Aku sangat syok karena sebelumnya aku tidak berfikir kalau Seperti itu. Aku juga bertemu Vano sedang menangis di rumah sakit malam itu." ucap Enjel.
"Jadi menurut kamu aku yang salah karena Hena seperti itu?" tanya Sophia.
"Bukan seperti itu maksud aku. Seharusnya kamu menegur Hena. Kalau dia tidak mengerti kamu harus memaksa nya." ucap Enjel.
"Aku sudah bilang aku sudah berulang kali menegur nya namun sama saja, dia sama sekali tidak perduli apa yang Aku katakan." ucap Sophia.
Enjel Menghela nafas panjang. "Jadi selama ini kamu menutupi itu semua dari Keluarga Hena, keluarga Vano dan juga keluarga kita?" tanya Enjel.
"Aku merasa itu bukan lah urusan ku, aku tidak perlu ikut campur." ucap Sophia. "Tapi kamu tau Om Davit adalah suami dan Ayah orang lain. Seharusnya kamu bisa membantu permasalahan dia." ucap Enjel.
"Kamu kenapa jadi menyudutkan aku sih? Aku tau aku salah karena menyembunyikan ini semua. Tapi aku juga tidak mempunyai hak untuk mengatur hidup orang lain." ucap Sophia dengan Nada yang sudah kesal.
Enjel terdiam. "Aku Turun di sini Saja, aku tidak mau ikut." ucap Sophia. "Kita harus kesana, kamu harus tau keadaan Mamah nya Vano seperti apa." ucap Enjel.
"Tidak ada gunanya aku tau itu. Percuma saja." ucap Sophia. Memaksa Enjel untuk berhenti.
"Hentikan. Aku mau turun di sini saja." ucap Sophia.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu tersinggung." ucap Enjel.. Namun Sophia memilih untuk turun.
"Kalau kamu lebih perduli pada Vano silahkan dari pada harus percaya pada ku. Aku tidak melakukan apapun namun aku yang kena imbasnya." ucap Sophia.
Enjel Menghela nafas panjang melihat Sophia pergi meninggalkan nya.
"Ya ampun Enjel, kamu ngomong apa sih? kenapa kamu berbicara seperti itu pada nya." batin Enjel.
"Sophia ayo masuk lagi, aku minta maaf." ucap Enjel. "Aku tidak mau." ucap Sophia.
"Kamu pikir aku juga suka dengan Hena yang seperti itu? Aku sangat khawatir pada nya, namun kamu tidak paham situasi kami seperti apa." ucap Sophia.
"Aku akui aku salah, aku minta maaf." ucap Enjel menahan Sophia.
"Aku mohon naik lah ke dalam mobil. Aku tidak ingin karena ini Om Gerwyn marah pada ku, aku mohon aku hanya dalam keadaan emosi dan kaget." ucap Enjel.
__ADS_1
Sophia masih menghargai Enjel akhirnya dia naik.
"Aku janji tidak Akan ikut campur lagi, aku minta maaf. aku hanya merasakan kasihan pada Mamah nya Vano. Aku mohon jangan marah." ucap Enjel memeluk Sophia.
Sophia hanya diam saja. Dia masih sakit hati karena Enjel berbicara pada nya tidak seperti biasanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. sepanjang perjalanan Sophia hanya diam saja, Enjel sudah merasa tidak enak hati pada istri Om nya itu.
Sebelum ke sana mereka singgah untuk membeli buah, Roti dan banyak juga yang lain nya.
Tidak beberapa lama akhirnya juga.
"Assalamualaikum Tante." sapa Enjel sambil menyalim Tangan buk Tari yang duduk di kursi roda. Bergantian dengan Sophia.
"Nak Enjel kenapa bisa di sini? Kapan datangnya? Tante Sangat merindu kan kamu." ucap Buk Tari.
"Aku juga sangat merindukan Tante. Tante bagaimana kabarnya?" tanya Enjel.
"Yah beginilah, badan Tante semakin kurus." ucap Bu Tari. "Ya ini siapa? Teman kamu nak?" tanya Bu Tari menunjuk Sophia.
"Ini nama nya Sophia Tante. Dia adalah Istri nya Om Gerwyn." ucap Enjel.
"Wahh cantik sekali. Tante kemarin hanya bisa melihat di foto saja, ternyata Cantikan asli nya." ucap Bu Tari.
Sophia tersenyum.
"Kalian hanya berdua saja?" tanya Buk Tari. "Iyah Tante. Vano nya sedang ada kerjaan dengan mas Gerwyn itu sebabnya tidak bisa mengantar kan kamu ke sini." ucap Sophia.
"Oohh. ayo silahkan duduk. Di rumah ini hanya ada Tante dengan pengasuh dan pembantu saja, Suami Tante sudah sangat jarang pula nya. Tante juga tidak tau dia kemana." ucap Buk Tari.
Sophia diam dia menoleh ke Enjel yang berusaha menutupi Air mata nya agar tidak kelihatan.
"Tante di sini sangat kesepian. Terkadang kalau pengasuh cuti, Tante tidak bisa ngapa-ngapain." ucap buk Tari.
"Yang sabar yah Tante. Tante pasti Akan sembuh dan Sehat lagi." ucap Enjel.
"Mustahil untuk Tante bisa berjalan lagi nak, Dulu dokter bilang ini akan sembuh namun tidak beberapa lama di nyatakan lumpuh selama nya." ucap Buk Tari.
__ADS_1
Enjel memeluk buk Tari begitu erat.
Sophia bisa merasakan kalau Enjel sangat menyanyangi Bu Tari.