Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Gerwyn 276


__ADS_3

"Bagaimana bisa kamu mementingkan Pekerjaan kamu dari pada adik kamu sendiri." ucap gurunya.


Liam terdiam.


"Setelah Kamu mendengar Adik kamu sukses dan mendapatkan beasiswa kamu baru datang, kakak seperti apa kamu?" ucap guru Sophia.


"Ibu tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Saya permisi." Liam kesal karena di nasehati dan langsung pergi begitu saja.


Sophia di dalam mobil melihat ke arah belakang terus menerus.


"Kenapa ada kak Liam? Aku sangat takut sekali." ucap Sophia dia benar-benar sangat syok sekali. Karena syok perut nya dan kepala nya sakit.


"Aku tidak bisa melupakan semua perbuatan kak Liam, Bibik dan juga Paman yang begitu jahat kepada ku. Itu membuat ku sangat trauma sekali." ucap Sophia.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Mertua nya Sudah menunggu nya dari tadi. "Sophia akhirnya kamu pulang." ucap Bu Linda.


"Lihat mah aku mendapat kan apa." ucap Sophia. Bu Linda melihat itu sangat senang sekali.


"Wah mbak Sophia kali ini dapat penghargaan lagi?" ucap Ano.


"Bukan hanya penghargaan saja, mbak juga mendapatkan Biasiswa." ucap Sophia. Bu Linda yang mendengar itu langsung terdiam. Ano dan Sophia sangat senang sekali.


Sophia menyadari Mertua nya kurang senang mendengar itu.


"Kalau begitu kita merayakan nya, mamah tadi sudah masak begitu banyak." ucap Bu Linda.


Mereka pun Makan sama-sama di meja makan.


Di malam hari nya Gerwyn baru saja pulang namun istri nya sedang berbicara dengan teman nya itu sebab dia langsung segera mandi.


Setelah selesai mandi dia melihat Sophia sudah duduk di kasur.


Sophia menatap Gerwyn. Gerwyn langsung tersenyum.


"Kenapa kamu pulang lambat mas?" tanya Sophia.


"Biasa, di kantor sangat banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan." ucap Gerwyn. Sophia menghela nafas panjang.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat memikirkan sesuatu?" tanya Gerwyn duduk di samping istri nya.


"Aku tadi bertemu dengan kak Liam mas. Aku sangat takut." ucap Sophia. "Liam?" Gerwyn juga kaget.


"Dia datang ke sekolah ku mas." ucap Sophia.


"Apa yang dia katakan kepada kamu? Berani-beraninya dia datang di saat kamu sudah seperti sekarang ini." ucap Gerwyn.


"Aku tidak berbicara dengan nya mas, bahkan melihat wajah nya Saja aku sudah sangat takut." ucap Sophia.

__ADS_1


"Lain kali kamu harus hati-hati saya akan meminta orang menjaga kamu." ucap Gerwyn.


"Tidak perlu lakukan itu mas." ucap Sophia.


"Saya mengkhawatirkan kamu, bagaimana kalau kakak laki-laki kamu itu melakukan Hal yang sama seperti dulu, saya tau dia seperti apa." ucap Gerwyn.


Sophia diam. "ini saya lakukan demi kebaikan kamu. Karena mereka pasti Akan terus menganggu kamu." ucap Gerwyn. Sophia menganguk.


"Ya udah mas gak apa-apa. Terimakasih sudah perduli kepada ku." ucap Sophia. Gerwyn membawa nya ke pelukan nya.


Sophia membalas pelukan Gerwyn yang begitu hangat dan sangat nyaman. "Oh iya mas, apa kamu sudah Makan? aku akan menyiapkan makanan untuk kamu. Mamah tadi masak banyak." ucap Sophia.


"Saya sudah kenyang, kebetulan rekan-rekan saya ngajak makan." ucap Gerwyn. "Oohh ya udah Kalau begitu ayo istirahat." ucap Sophia. Gerwyn menganguk.


Mereka tiduran terlebih dahulu sambil menonton TV.


"Oh iya mas satu Minggu lagi kan ulang tahun mamah, bagaimana kita membuat acara nya?" tanya Sophia.


"Mamah hanya ingin berkumpul dia tidak suka pesta ulang tahun." ucap Gerwyn. "Humm aku berencana memberikan hadiah sama mamah tapi yang sangat spesial." ucap Sophia.


"Apa? Mamah suka semua apa yang kita berikan." ucap Gerwyn. "Aku mau memberikan hadiah tes kehamilan." ucap Sophia.


Gerwyn menatap wajah Sophia.


"Kamu serius? kamu mau memberi tahu Mamah kamu hamil?" tanya Gerwyn. Sophia mengangguk.


"Bagus deh kalau begitu. Saya juga senang mendengar nya." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.


"Aku gak sabar deh mas. Aku juga ingin melihat wajah bahagia mamah." ucap Sophia.


Sementara di tempat lain..


"Vano kemana sih? kenapa jam segini Belum pulang?" ucap Hena menunggu di apartemen Vano. tidak beberapa lama Pintu terbuka.


"Hena! kenapa kamu bisa di sini?" tanya Vano.


"Aku nungguin kamu. Lagian kamu dari mana aja?" tanya Hena.


"Aku ke rumah orang tua ku, aku gak tau kalau kamu nungguin aku. Aku pikir kamu akan pergi sama teman-teman kamu." ucap Vano.


"Ke tempat orang tua kamu? membicarakan apa?" tanya Hena. "Papah ingin berbaikan dengan Mamah. Namun mamah Masih marah itu sebab nya papah meminta bantuan ku." ucap Vano.


"Oh iya Ini ada Hadiah dari Mamah untuk kamu, kata nya hadiah kelulusan." ucap Vano.


"Hah? Kamu serius sayang?" tanya Hena. Vano menganguk.


"Mimpi apa aku mendapat kan Hadiah dari Mamah kamu? Aku seperti mendapat kan uang yang begitu banyak." ucap Hena.

__ADS_1


"Buruan buka, aku juga penasaran isi nya apa." ucap Vano.


Hena membuka nya.


"Kalung?" ucap Hena. Vano tersenyum.


"Kalung ini sangat bagus pasti harga nya sangat mahal, apa benar mamah kamu memberikan ini kepada ku?" tanya Hena.


"Itu ada surat nya, coba kamu baca." ucap Vano. Hena membaca nya.


"Selamat atas kelulusan mu Hena. Kalau kamu libur datang lah berkunjung." isi surat itu.


Hena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia nya.


"Aku senang banget." Hena tiba-tiba memeluk Vano.


"Semoga kamu semakin semangat menyakinkan mamah kalau kita Cocok." ucap Vano.


"Pasti sayang, aku pasti Bisa. Semoga saja Mamah tidak terlalu lama membenci ku." ucap Hena.


Vano tersenyum.


Keesokan harinya..


Vano membawa Hena bertemu dengan orang tua nya. Hena sampai di sana sangat canggung sekali.


"Sayang aku deg-degan banget." ucap Hena. "Tidak apa-apa, ayo masuk." ucap Gerwyn. Mereka pun masuk ke dalam.


"Vano, hena." Mereka di sambut oleh Om Davit.


"Mamah mana Pah?" tanya Vano.


" Lagi mandi, ayo duduk Dulu." ucap Om Davit. Hena menganguk.


" Oh iya selamat yah Hena kamu sudah lulus. Rencana kamu selanjutnya mau lanjut kuliah atau Bekerja?" tanya Om Davit.


"Seperti nya langsung bekerja Om. Orang tua ku juga sudah meminta aku untuk bekerja agar bisa membantu ekonomi di kampung." ucap Hena.


"Kuliah sambil bekerja tidak masalah besar, kalau tidak kuliah sangat sulit mencari pekerjaan." ucap mamah nya Vano yang baru saja datang di bantu oleh suster nya.


Hena langsung menyalim tangan Mamah nya Vano.


"Sebaiknya kamu kuliah dulu." ucap Mamah nya Vano.


"Kalau saya kuliah harus mengeluarkan dana yang besar Bu, saya tidak memiliki uang untuk masuk ke universitas." ucap Hena.


"Vano akan membantu kamu." ucap Ibu nya Vano.

__ADS_1


"Sebelum nya terimakasih Bu, tapi saya sudah sangat banyak merepotkan Vano, saya ingin berdiri di kaki saya sendiri, saya sudah memutuskan untuk bekerja." ucap Hena.


__ADS_2