Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Malam Jum'at


__ADS_3

"Jadi kamu menyalah kan aku?" ucap Lisa.


"Bukan menyalah kan. Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Mamah." ucap Sophia.


"Aku tidak tau kalau itu tidak bisa di Makan, kalau aku tau aku tidak akan memasak itu, bawel banget sih." ucap Lisa.


"Sudah-sudah tidak perlu ribut. Makasih yah Sophia sudah bantu Mamah." ucap Bu Linda. Sophia tersenyum.


"Kalau begitu aku ijin ke keluar dulu yah mah." ucap Sophia membawa gelas dan juga Obat Bu Linda keluar.


"Bagaimana keadaan Mamah? Masih sakit?" tanya Lisa.


"Sudah baikan kok, ayo kita tidur." ucap Bu Linda. Lisa tersenyum. "Sini aku bantu pijitin Tante." ucap Lisa.


"Kamu pasti sangat lelah, tidur saja nak, kamu tidak berubah dari dulu sampai sekarang suka sekali memanjakan Tante." ucap Bu Linda.


Lisa langsung memijit-mijit kaki Bu Linda.


"Aku minta maaf yah Tante waktu terpuruk nya Tante aku malah meninggalkan Tante. Aku turun berdukacita." ucap Lisa.


Bu Linda menganguk. "Ya udah Tante tidur saja. Aku akan memijit sampai Tante tidur." ucap Lisa.


Di kamar Sophia masuk ke dalam kamar nya.


"Kenapa kamu sangat lama?" tanya Gerwyn. Sophia menoleh ke arah suami nya.


Tadi aku di kamar Mamah." ucap Sophia.


"Lalu kopi yang saya minta mana?" tanya Gerwyn karena tidak melihat Sophia membawa apapun di tangan nya.


"Ya ampun aku kok bisa lupa sih." ucap Sophia. Gerwyn Menghela nafas panjang.


"Tidak perlu lagi!" ucap Gerwyn menahan tangan Sophia yang Hendak keluar.


"Kenapa? Bukan nya mas yang pengen minum kopi?" tanya Sophia.


"Sebenarnya kamu menjadikan itu alasan kan?" ucap Gerwyn menarik tangan Sophia ke kasur. "Apa yang mau mas lakukan?" tanya Sophia kaget.


"Saya akan menagih janji kamu. Saya tidak bisa menahan nya lagi." ucap Gerwyn. Sophia menahan Gerwyn yang mau mencium Bibir nya.

__ADS_1


"Aku belum menggosok gigi ku mas." ucap Sophia. Gerwyn menghela nafas panjang. "Biasanya kamu tidak melakukan nya." ucap Gerwyn.


"Aku melakukan nya biasa nya mas, boleh kah aku melakukan nya terlebih dahulu?" tanya Sophia. Gerwyn beranjak dari Atas istri nya. "Silahkan." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum dia pun langsung ke kamar mandi.


Sophia Langsung membersihkan tubuh nya dengan bersih.


"Hahh.." Dia memeriksa bau mulut nya.


"Berhubung ini adalah malam Jumat aku akan memberikan yang terbaik untuk Mas Gerwyn." ucap Sophia.


Tidak beberapa lama dia keluar. "Mas!" panggil Sophia. Gerwyn yang tadi nya fokus membaca buku sekarang fokus melihat Sophia dari atas sampai bawah.


"Sophia.." ucap Gerwyn sambil tersenyum.


"Apa yang kamu pakai?" tanya Gerwyn. "Berhubung ini adalah malam Jumat, aku akan melayani kamu." ucap Sophia.


Gerwyn tersenyum dia mendekati Sophia. Dia mengelus Lengan Sophia yang begitu lembut mencium nya.


"Sangat Wangi." ucap Gerwyn dengan suara yang bergemetar. Sophia mengelus Leher Gerwyn.


"Apa mas suka?" tanya Sophia. "Sangat suka." ucap Gerwyn.


"Jangan salah kan saya kalau kamu akan kelelahan Malam ini." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.


"Lakukan saja mas, aku tidak keberatan sama sekali." ucap Sophia. Gerwyn langsung mencium bibir Sophia.


Sementara di tempat lain Hena sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Dia menoleh ke arah pintu yang terbuka.


"Ini sudah hampir jam sepuluh, dia bilang akan datang namun kenapa sampai sekarang dia belum juga datang." ucap Hena.


Sementara di tempat lain Vano baru aja selesai berbincang-bincang dengan Enjelita dan mamah nya.


"Mah, aku ijin keluar yah, aku ada urusan mendadak." ucap Vano. "Loh ini kan sudah malam, kenapa tidak Besok saja?" tanya Enjelita.


"Sangat mendadak Enjelita, aku titip Mamah yah. " ucap Vano, dia pun langsung meninggalkan Rumah mamah nya.


"Semoga saja dia belum tidur." batin Vano menancap gas ke rumah kontrakan Hena.


"Huff sudah lah, dia tidak mungkin akan datang, dia pasti makan malam terlebih dahulu dengan Enjelita di rumah nya." ucap Hena.

__ADS_1


Dia pun berjalan ke arah pintu mau menutup nya karena sudah malam. "Tunggu!"' ucap Vano. Hena melihat Vano yang berdiri di depan pintu nya.


Hena menatap kesal pada Vano. "Ini sudah tengah malam, aku tidak menerima tamu lagi." ucap Hena mau menutup pintu namun tiba-tiba Vano menahan pintu.


"Saya minta maaf, saya harus ke rumah dulu karena permintaan Mamah saya." ucap Vano. "Karena Ada Enjelita kan? Aku sudah menduganya." ucap Hena.


Vano menatap wajah Hena. "Saya tidak bisa menolak nya, kamu tau sendiri Mamah akhir-akhir ini cukup sensitif, aku baru saja berbaikan dengan nya." ucap Vano.


"Aku sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini menemui kamu. Aku mohon jangan mengusir ku." ucap Vano.


Hena menatap wajah Vano yang menyakin kan nya.


"Ya udah Masuk lah." ucap Hena, Vano tersenyum dia pun langsung menutup pintu.


Hena duduk di kursi.


"Kamu dengan Enjelita memiliki hubungan yang baik yah, bahkan dia seperti nya sudah terbiasa Datang kekantor kamu." ucap Hena.


"Kamu sudah seperti saudara." ucap Vano. "Saudara? Tidak mungkin, kamu bisa saja menganggap dia sebagai Saudara namun tidak mungkin Enjelita menganggap kamu saudara juga." ucap Hena.


Vano Menghela nafas panjang. "Nanti kamu akan paham sendiri." ucap Vano. Hena diam.


"Humm soal di kantor tadi, saya mau mempertanyakan itu lagi." ucap Vano.


"Tidak ada yang perlu di pertanyaan, apa itu kurang jelas?" tanya Hena. "Saya ingin mendengar sekali lagi kalau kamu benar-benar mengatakan kalau kamu mencintai saya." ucap Vano.


"Aku tidak tau ini cinta atau bukan. Aku hanya merasa di dekat kamu sangat nyaman, aku tidak ingin jauh, walaupun kamu terus menyalah kan aku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Awalnya aku berfikir ini hanya karena rasa bersalah namun ternyata aku salah." ucap Hena.


Vano memegang tangan Hena. "Saya mencintai kamu, tidak perduli apa masalah kita, apa masalalu kita, saya ingin bersama kamu." ucap Vano.


"Sebelum kamu dan aku bersama kita harus memikirkan ke depan nya karena hubungan kita ini tidak mungkin bertahan lama." ucap Hena.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? apa kamu hanya mempermainkan saya?" tanya Vano. Hena Menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok, aku hanya memikirkan kalau Mamah kamu sekarang sangat membenci ku, di keluarga kamu aku sudah sangat buruk sekali, aku juga harus sadar diri kalau aku tidak pantas bersama kamu." ucap Hena.


Tiba-tiba Vano mencium bibir Hena. Hena langsung diam.


"jangan berbicara seperti itu Hena. Kalau kita saking mencintai dan ingin memperjuangkan hubungan ini. pasti akan ada jalan nya." ucap Vano.

__ADS_1


__ADS_2