
Saat sedang asyik berbicara dengan Bibi ponsel Gerwyn berdering.
"Pasti dari istri tercinta." ucap Bibik.
"Huff lihat lah ini siapa." ucap Gerwyn menunjuk nama penelpon siapa ternyata Vano yang menelpon nya. Bibi seketika terkekeh.
Tidak beberapa lama selesai menelpon Gerwyn Ijin untuk pergi ke kantor. Sementara Bibi tidak mengijinkan nya karena dia masih ingin ngobrol lama dengan Gerwyn.
Namun Gerwyn sama sekali tidak perduli dengan teman nya itu akhirnya dia pun pergi meninggalkan Bibi yang memasang wajah datar melihat teman nya pergi.
"Huf lagi dan lagi sendiri terus." ucap Bibi.
"Permisi Pak, tagihan makanan dan minuman nya di bayar oleh bapak." ucap Kasir mendatangi Bibi yang hendak pergi.
"Baik mbak." ucap Bibi. Setelah di bayar dia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sophia dan Ano baru saja sampai di rumah.
"Mbak aku langsung ke kamar yah." ucap Ano. Sophia mengangguk.
Sophia melihat ponsel nya ada pesan masuk dari Hena. Hena meminta nya untuk datang ke rumah nya karena orang tua nya sudah mau sampai.
Tapi Sophia menolak nya karena tidak mungkin dia pergi lagi baru saja sampai di rumah. Hena membujuk namun Sophia tau akan sampai malam dia terus menolak nya.
Tidak beberapa lama Gerwyn di perjalanan pulang bersama Bibi. Sophia membalas dengan emoticon tersenyum.
Sophia mematikan ponsel nya dan langsung ke kamar mau mandi karena sudah Sore.
Di rumah Hena sedang berbaring santai di sofa nya.
"Huff aku harus bagaimana menjelaskan pada Ibu dan ayah yah? Mereka pasti bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan uang yang sangat banyak." batin Hena.
Tiba-tiba ponsel nya berdering. "Halo Om." ucap Hena.
"Kamu lagi di mana? Om akan ke rumah kamu." ucap Om Davit.
"Jangan sekarang om, Ayah dan Ibu ku sudah dekat." ucap Hena. "Bagus dong, sekalian om juga mau kenalan sama mereka." ucap Om Davit.
"Jangan sekarang Om, bukan waktu nya sekarang, mereka akan salah paham." ucap Hena.
__ADS_1
"Om ingin bertemu kamu, lalu bagaimana Om bisa bertemu dengan kamu?"
"Aku akan menemui Om nanti malam, Om yang sabar yah." ucap Hena. Om Davit seperti nya sedikit keberatan namun dia juga tidak bisa memaksakan akhirnya dia menginyakan Saja.
Hena Menghela nafas panjang. Dia melihat foto-foto nya dengan Om Davit dia langsung menyembunyikan semua nya dan juga foto-foto Seksi nya.
Dia juga menyembunyikan semua pakaian Mini nya.
Keluarga Hena orang yang turut agama itu sebab nya Hena harus berjaga-jaga.
Tidak beberapa lama orang tua nya datang. Mereka datang membawa adik-adik Hena.
"Apa kabar Nak? Kami sangat merindukan kamu." ucap Orang tua nya memeluk Hena.
"Aku juga sangat merindukan ayah dan ibu. Kalian semua sehat kan?" tanya Hena.
"Alhamdulillah sehat Nak, kamu sendiri bagaimana?" tanya Ibu nya, "Sehat kok buk, Ayo langsung masuk saja." ajak Hena.
"Wahh kamu tinggal di rumah Elite seperti ini nak? Kenapa kamu pindah? ini pasti sangat mahal Bayaran nya." ucap ibu nya.
"Ibu jangan khawatir ini adalah rumah teman aku, aku numpang gratis di sini hanya bantu bersih-bersih saja." ucap Hena berbohong tidak mungkin bilang itu rumah di belikan oleh Om Davit.
"Hum Dia sedang pulang ke rumah orang tua nya buk karena libur panjang, jadi aku yang bertanggung jawab Atas rumah ini, aku juga sebelum nya sudah ijin kok." ucap Hena.
Mereka percaya dan masuk ke dalam.
"Rumah nya sangat nyaman dan Wangi banget mbak." ucap Adik perempuan Hena. Hena tersenyum.
"Ibu sama Ayah boleh melakukan apa saja, nonton, makan, Masak atau makan cemilan, bebas kok." ucap Hena..
"Gak enak lah Nak, nanti kalau Orang yang punya rumah tau mereka pasti marah." ucap Ibu Hena..
Sebenarnya Hena sangat Sedih mendengar Ibu dan ayah nya berbicara seperti itu, namun dari pada membuat orang tua nya kecewa.
"Ibu sama Ayah istirahat di kamar ini yah, biar Inah tidur dengan aku dan Tomi tidur dengan Ibu saja." ucap Hena.
"Makasih yah nak." ucap Ibu nya.
"Tapi sebelum mandi dan istirahat ayo makan dulu, tadi aku sudah memesan makanan kesukaan kalian semua." ucap Hena.
__ADS_1
Ibu dan Ayah nya terlihat sangat senang.
"Loh kamu mau kemana malam-malam nak?" tanya Ibu nya melihat Hena sudah rapi.
"Aku ada kerja malam Bu. Gak apa-apa aku tinggal Dulu kan?" tanya Hena.
"Gak apa-apa nak, hati-hati yah." ucap Ibu nya.
Hena menyalim tangan ibu dan ayah nya dan langsung pergi.
"Maafin aku yah Ibu, ayah." Hena sangat merasa bersalah harus membohongi Ibunya. Tidak beberapa lama akhirnya dia bertemu dengan Om Davit.
Sementara Di rumah Gerwyn. Bibi baru saja Pulang. Setelah Bibi pergi Sophia duduk di dekat suami nya.
"Kenapa mas membawa teman pulang? Aku sangat merindukan mas." ucap Sophia dengan manja bersandar di dada Gerwyn. Gerwyn tersenyum dia mengelus kepala Sophia dan mencium nya.
"Kamu Masak apa? saya sangat lapar." ucap Gerwyn. Sophia memegang perut Gerwyn. "Aku masak yang enak, ini berbeda dari yang biasa nya Pasti mas suka." ucap Sophia.
Gerwyn tersenyum. "Ternyata saya tidak salah memilih istri kamu sungguh istri yang pengertian." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.
"Ya udah ayo ke Meja makan." ajak Sophia namun dia tiba-tiba di tahan oleh Gerwyn.
"Kamu tau melihat sifat manja kamu seperti ini membuat saya semakin mencintai kamu. Kamu sangat menggemaskan." ucap Gerwyn mencium bibir Sophia dengan singkat.
Sophia tersipu malu..
"Mbak Ano sudah lapar." ucap Ano. Seketika Sophia berdiri dari pangkuan suami nya berjalan terlebih dahulu ke dapur.
Gerwyn yang melihat Sophia malu-malu membuat nya tersenyum.
Di meja makan terlihat tumis kangkung dan juga toge dan ada tempe kecap dikasih cabe juga. Dan juga Ikan Nila yang di panggang.
"Kelihatan nya sih Aneh untuk mas, tapi percayalah ini sangat enak." ucap Sophia.
Gerwyn dengan senang hati mencoba nya, setelah dengan Sophia dia tidak lagi pernah memilih-milih makanan yang di masak oleh Sophia akan di habis kan oleh nya.
"Mamah sangat merindukan masakan kamu kata nya. lain kali kalau mamah pulang kamu harus masak kesukaan Mamah." ucap Gerwyn.
"Baiklah lah Mas, Tapi Tante Linda seperti nya masih lama Pulang ke sini." ucap Sophia. Gerwyn diam.
__ADS_1
Ano hanya diam saja sambil Terus makan tidak perduli apa yang di bahas oleh sepasang suami istri itu.