
"Saya bilang saya minta maaf kalau membuat kamu sakit hati." ucap Vano. Hena melepaskan tangan Vano.
"Aku harus ujian Besok. Setelah itu saya akan meneruskan hidup saya lagi. aku rasa perbuatan aku sekarang bisa mengurangi rasa sakit hati kamu pada perbuatan aku selama ini. aku yang harus nya minta maaf pada Kamu dan ibu kamu." ucap Hena.
Vano terdiam. "Aku harus pergi. semoga kamu cepat sembuh." ucap Hena.
"Kalau kamu pergi saya tidak akan bisa sembuh." ucap Vano.
Hena tersenyum. "Kamu pasti bisa sembuh. Kamu harus sembilan dan kembali bekerja seperti biasa, jangan membuat Mamah kamu khawatir dan menunggu kamu cukup lama." ucap Hena.
Hena pun meninggalkan Vano.
"Semoga saja dengan seperti ini aku bisa membuat dia tidak membenci ku lagi. Walaupun sebenarnya ini hanya salah paham namun aku tetap merasa bersalah." ucap Hena.
Baru beberapa jam Hena pergi Vano duduk di tempat tidur nya. Kamar itu terasa sangat sepi sekali. Dia melihat ke sofa tempat Hena selalu menghabiskan waktu bermain ponsel dan terkadang mengomel pada nya.
Tempat nya tidur. "Tok!! Tok!! tok!! Pintu ruangan di ketuk dan terbuka.
"Hena." ucap Vano dengan semangat.. Namun ternyata suster yang mengantar kan Makan siang. Dia tersenyum dan langsung pergi.
Vano melihat makan siang nya. Dia melihat cemilan Hena masih tinggal di atas meja, dia mengambil dan mengaduk nya.
"Huff kenapa rasanya tidak enak sama sekali? Bahkan aku tidak merasa lapar." ucap Vano.
Dia mengambil ponselnya mau menelpon Hena namun dia lupa kalau dia tidak memiliki nomor Hena dia menghela nafas panjang sekali.
Akhirnya dia menelpon Gerwyn.
Tidak beberapa lama akhirnya Hena sampai di rumah nya Sophia.
"Hena akhirnya kamu sampai juga, aku sangat mengkhawatirkan kamu." ucap Sophia memeluk sahabatnya itu.
Tidak pernah mereka berpisah seperti itu sehingga rasanya saling mencemaskan satu sama lain.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba Gerwyn Datang.
"Walaikumsalam." jawab mereka berdua. mereka melepaskan pelukannya. Dan Sophia menyalim suami nya.
"Kamu baru sampai?" tanya Gerwyn. Hena mengangguk.
__ADS_1
"Saya hanya mengambil beberapa barang-barang saja, setelah itu saya akan pergi." ucap Hena.
"Tunggu sebentar, saya mau berbicara dengan kamu tentang Vano." ucap Gerwyn. Hena menoleh ke arah Sophia.
"Sudah tidak apa-apa. Mas Gerwyn gak Makan manusia kok." ucap Sophia.
"Aku bawain ini ke dalam dulu sekalian mau nyiapin makanan. Kalian mengobrol lah, nanti Bibi akan membawa minum." ucap Sophia.
Gerwyn mengangguk sambil tersenyum. dia mengelus kepala istri nya dan setelah itu Sophia pergi.
"Silahkan duduk." ucap Gerwyn mempersilahkan Hena duduk. Hena duduk di samping Gerwyn.
"Apa benar kamu bilang saya yang meminta kamu menemani Vano di sana?" tanya Gerwyn. Hena mengangguk.
"Saya melakukan itu agar dia tidak mengusir saya pak, saya hanya berniat baik untuk membantu dia." ucap Sophia. Gerwyn menghela nafas panjang.
"Saya mengucapkan terimakasih banyak sama kamu sudah mau merawat Vano di rumah sakit. Saya akan membayar kamu." ucap Gerwyn.
Hena mau menjawab namun langsung di potong oleh Gerwyn.
"Tidak ada penolakan kalau berurusan dengan saya. Merawat orang sakit bukan lah muda, saya memberikan ini bukan menganggap kamu sepele namun karena saya menghargai kamu." ucap Gerwyn.
Hena terdiam.
Hena tidak terlalu banyak bertanya atau berfikir dia mengangguk saja. Gerwyn meminta nomor rekening Hena dan mengirim kan uang pada nya Senilai 10 jt rupiah.
Hena sangat terkejut. Namun dia juga sangat senang sekali.
"Sebelum kamu pulang ayo Makan malam bersama terlebih dahulu, semoga ujian kamu Besok lancar dan lulus dari sekolah itu." ucap Gerwyn.
"Amin. Terimakasih banyak pak. Sebelum nya saya minta maaf sudah sangat kurang ajar." ucap Hena. Gerwyn tersenyum tipis.
"Wajarlah kamu melakukan itu, karena kamu membela sahabat kamu sendiri. mungkin kalau saya di posisi kamu saya juga melakukan hal yang sama. Dan semua Masalah yang dulu ayo kita lupakan. Kamu adalah sahabat Istri saya. Orang yang saya percaya untuk menjaga istri saya." ucap Gerwyn.
Hena tersenyum. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam.
"Hena, apa kamu tidak gugup Besok ujian?" tanya Sophia saat sedang di Meja makan.
"Gugup sekali. Tapi kita tidak boleh gugup agar nilai kita Bagus." ucap Hena.
__ADS_1
"Jangan gugup sayang. Saya akan selalu mendukung dan berdoa yang terbaik untuk istri saya." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.
"Huff tetep saja aku gugup mas." ucap Sophia.
"Bagaimana kalau malam ini kita cari angin di luar, agar lebih rileks lagi." ucap Gerwyn.
"Boleh juga tuh mas, kamu ikut yah Hena." ucap Sophia.
"Seperti nya aku pulang saja, aku harus banyak istirahat." ucap Hena.
"Oh iya aku lupa tanya, bagaimana kabar Vano?" tanya Sophia. "Sudah lebih baik kok." ucap Hena.
"Bagus deh, sebenarnya kejadian nya kenapa? Dan di mana?" tanya Sophia.
"Sudah sayang lanjut makan, jangan bahas Vano, kamu lebih perduli padanya." ucap Gerwyn.
"Aku hanya penasaran saja Mas, mau bagaimana pun aku tetap khawatir juga karena dia adalah sekretaris Mas." ucap Sophia.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu." ucap Gerwyn.
"Humm Apa Om Davit sudah tau?" tanya Sophia lagi. Gerwyn langsung memasang wajah cemberut. Sophia tertawa kecil.
"Iyah-iyah deh aku Diam. Aku hanya boleh membahas suami ku." ucap Sophia. Sophia terlihat sangat ceria ketika bercanda dengan suami nya.
"Ya ampun Sophia sudah menemukan kebahagiaan nya, sementara aku masih terluntang-lantung, aku masih bingung harus bagaimana sekarang. Tapi melihat Sophia tersenyum dan tertawa aku bahagia sekali." batin Hena.
Setelah selesai makan Hena pamit pulang.
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya ada juga penambah tabungan ku, setelah ini aku bisa meninggal kan rumah itu dan juga berbicara dengan Om Davit." ucap Hena.
"Mas tumben sekali ngajak cari angin malam-malam seperti ini?" tanya Sophia. "Tadi nya Ano saja yang ngajak. namun karena kamu kelihatan nya gugup, jadi sekalian saja keluar." ucap Gerwyn.
"Terimakasih yah mas." ucap Sophia. Gerwyn tersenyum dia memeluk Sophia dari belakang karena lagi berdiri di taman.
"Malu Mas, nanti di lihatin orang." ucap Sophia. Gerwyn mencium pipi Sophia.
"Saya tidak pernah berfikir akan memiliki istri yang masih sekolah seperti ini. Namun karena kamu juga saya mengerti menghargai kesibukan kita masing-masing." ucap Gerwyn.
Sophia Tersenyum.
__ADS_1
"Apa mas tidak malu memiliki istri yang masih sekolah?" tanya Sophia. Gerwyn Menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak malu sama sekali. Sayang nya sampai sekarang hubungan kita harus di sembunyikan." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.