Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Vano menyukai Hena ke rumah nya


__ADS_3

"Dia selalu bekerja walaupun dia sekolah, namun selagi tidak menganggu sekolah nya itu Tidak jadi masalah, Apa lagi dia harus menghidupi dirinya sendiri dan juga adik nya." ucap wali kelas nya.


"Huff kelihatan sekali aku jarang belajar, aku melihat semua soal ini membuat kepala ku pusing saja." ucap Hena dalam hati.


"Tapi aku harus bisa, aku pasti sudah mempelajari ini semua." ucap Hena.


Dia pun menyelesaikan nya dengan cepat walaupun dia tidak yakin itu benar atau tidak. Yang di rasakan sekarang sangat khawatir kalau itu tidak benar. Namun pengetahuan nya hanya sampai di situ saja.


Tidak beberapa lama akhirnya keluar juga. "Riki, Sophia kenapa kalian sangat cepat keluar?" tanya Hena.


"Loh justru kami harus yang nanya sama kamu, soalnya banyak yang mudah, kenapa kamu sangat lama?" tanya Riki.


"Mudah bagaimana? Soal itu tidak ada yang aku ngerti satu pun." ucap Hena. Sophia tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu ayo ke kantin sama-sama." ajak Sophia.


Mereka pun ke kantin sama-sama. Saat sedang makan tiba-tiba ponsel Hena berdering bunyi pesan masuk.


Ternyata itu dari Om Davit.


Dia menanyakan pada Hena di mana Nia, dia menjawab tidak tau. Namun Om Davit yakin kalau Hena tau dan menyembunyikan kemana Nia pergi.


"Ada apa sih Hen? Kenapa kamu kelihatan sangat serius sekali?" tanya Sophia. Hena menggeleng kan kepala nya.


Dia ijin sebentar untuk menelpon seseorang.


Di belakang dia menelpon Nia namun tidak di jawab. "Huff kalau seperti ini Om Davit akan marah kalau begini." ucap Hena. Karena Om Davit percaya pada Hena untuk menjaga Nia.


"Bikin sakit kepala saja." ucap Hena dengan kesal. Ujian mereka jam 12 Siang sudah selesai.


"Tin!! Tin!!" Bunyi klakson mobil Riki. Sophia dan Hena menoleh ke arah mobil itu.


"Berisik tau RIki." ucap Sophia. Riki tersenyum.


"Aku anterin pulang yok." ajak Riki.


"Humm kebetulan banget, aku ikut deh. Kamu Hena mau ikut gak?" tanya Sophia.


"Seperti nya gak deh. Kamu duluan saja." ucap Hena. Sophia pun masuk ke dalam mobil. Sebelum pulang dia mengabari suami nya kalau dia pulang dengan teman nya.


Gerwyn tidak Keberatan sama sekali akhirnya Sophia dengan tenang bisa pulang ke rumah.

__ADS_1


"Dia janji akan datang ke sini menemani saya, namun dia malah pulang." ucap Gerwyn menghela nafas panjang.


Ponsel nya berdering.


"Halo Vano, kamu sudah sampai?" tanya Gerwyn. "Sudah Pak, saya sudah di rumah sekarang terimakasih sudah membantu saya." ucap Vano.


"Sama-sama, kamu istirahat lah agar segera pulih." ucap Gerwyn. Vano menginyakan.


"Oh iya pak, saya boleh meminta nomor Hena?" tanya Vano.


"Kenapa? Apa kamu memiliki Masalah dengan dia?" tanya Gerwyn.


"Tidak ada pak, saya hanya ingin bertanya tentang obat-obatan saya saja." ucap Vano.


"Baiklah saya akan mengirim kan nomor nya pada kamu." ucap Gerwyn. Tidak beberapa lama akhirnya masuk juga nomor Hena.


Vano menelpon namun langsung di tolak setelah itu tidak bisa lagi di telpon.


"Kenapa tidak bisa lagi? apa dia memblokade Nomor ku?" ucap Vano dengan Kesal.


Dia menanyakan pada Sophia di Mana alamat Hena, setelah dia dapat mau pergi namun dia tidak kuat jika sendiri. Sementara tidak ada lagi orang yang menjaga nya di apartemen nya.


Namun dia nekat untuk berangkat sendiri. Dia menggunakan taksi ke sana.


"Kemana dia? apa dia belum pulang." ucap Vano.


Dia melihat Mobil berhenti di depan rumah nya.


"Terimakasih yah sudah mau nganterin aku, makasih juga traktiran makanan nya."' ucap Hena.


"Sama-sama cantik. Kalau begitu kamu masuk gih. Di sini sangat panas." ucap Pria yang di dalam mobil itu.


Hena mengangguk dia pun masuk ke dalam rumah, dia terkejut melihat Vano ada di sana.


"Vano! Bagaimana bisa kamu ada di sini?" tanya Hena.


Vano berdiri.


"Siapa pria itu? kamu bilang kamu Akan ujian namun berpakaian seperti ini." ucap Vano.


"Urusan kamu apa? Justru kamu yang harus menjawab pertanyaan ku, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Hena.

__ADS_1


"Aku ke sini mau menemui kamu. Aku mau bertanya tentang obat-obatan ku." ucap Vano. Hena terdiam sejenak.


"Kamu belum sembuh total, bagaimana bisa kamu Keluar dari rumah sakit dan kembali ke sini." ucap Hena.


"Aku sudah sembuh itu sebab nya aku datang ke sini." ucap Vano.


"Terus pria tadi siapa? apa kamu tidak cukup memeras papah saya?" ucap Vano.


"Dia adalah teman ku, kebetulan ketemu di luar." ucap Hena.


"Aku pikir kamu setia pada papah namun kamu bermain di belakang nya. Seandainya dia tau. Dia akan marah besar." ucap Vano.


Hena menghela nafas panjang.


"Aku rasa itu bukan urusan kamu. obat apa yang akan kamu tanyakan?" ucap Hena.


"Itu adalah urusan saya! Saya tidak boleh diam saja kalau kamu seperti ini!" ucap Vano meninggikan suara nya.


Hena terdiam, dia menatap bingung ke arah Vano.


"Apa yang sudah merasuki kamu?" ucap Hena. "Kamu jujur saja, kamu memiliki hubungan dengan pria lain selain papah saya kan?" ucap Vano.


"Jangan ngaco deh, aku dengan siapa pun tidak ada hubungan, aku berteman Saja, bergaul dengan siapapun itu adalah hak ku." ucap Hena.


"Lebih baik kamu pulang saja, lihat wajah kamu sangat pucat, aku takut setelah kamu menuduh ku, dan marah-marah malah masuk ke rumah sakit." ucap Hena.


Vano diam. Hena yang hendak masuk kaget Mendengar suara orang jatuh.


"Vano." ucap Hena kaget karena melihat Vano sudah terbaring di lantai rumah nya.


Dia pun langsung mengangkat sekuat tenaga namun tidak bisa, untung saja tetangga lewat. Mereka Rame-rame mengangangkat ke dalam rumah.


Hena langsung mengabari Pak Gerwyn. Pak Gerwyn meminta dokter keluarga nya datang Memeriksa Vano.


Setelah selesai di periksa hena memandangi wajah Vano yang sangat pucat.


Luka nya belum sembuh sama sekali, penyakit nya sangat parah, bisa-bisa nya nekat ke sini." ucap Hena.


Tiba-tiba bel berbunyi.


"Itu pasti om Davit, dia tidak boleh tau ada Vano di sini, dia akan salah paham, dan dia tidak boleh tau Vano sakit." dia membopong Vano ke dalam kamar nya.

__ADS_1


"Hena kamu dari mana? Kenapa sangat lama membuka pintu nya?" tanya Om Davit.


"Aku tadi ketiduran om, maafin aku." ucap Hena m Mereka pun masuk ke dalam.


__ADS_2