
"Sementara kamu seharian di luar aku tidak pernah mempermasalahkan nya." ucap Sophia. Gerwyn diam.
"Mas harus tau kalau aku sangat mencintai mas, aku tidak akan berpaling kepada pria lain hanya karena dia lebih muda dari suami ku atau lebih Tampan." ucap Sophia.
"Jangan pernah berfikir seperti itu lagi, aku hanya butuh kepercayaan Mas pada ku." ucap Sophia.
Gerwyn memeluk istrinya. Mendekap nya dengan sang erat sekali.
Sophia hanya diam saja. dia sudah terlanjur kesal pada suami nya itu.
"Kamu mau Kan memaafkan saya?" tanya Gerwyn.
"Aku masih kesal." ucap Sophia.
Gerwyn memegang tangan suami nya.
"Kamu boleh kesal tapi berikan saya senyuman agar saya bisa bekerja dengan fokus." ucap Gerwyn. Sophia Menghela nafas panjang.
"Ayolah senyum." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum. Gerwyn juga ikut tersenyum.
"Aku tidak mau kalau kamu lebih sering marah seperti ini, aku tidak suka." ucap Sophia. Gerwyn memasang wajah menyesal.
"Sudah jangan membahas itu lagi, ayo lebih baik mas segera berangkat." ucap Sophia. Gerwyn Mengangguk.
"Kabari saya kalau kamu mau keluar Kemana saja." ucap Gerwyn. Sophia mengangguk.
Tidak bisa lama-lama, dia memutuskan untuk segera berangkat ke kantor.
Sophia duduk di sofa setelah suaminya pergi.
"Huff aku sebelum nya sudah menebak kalau dalam rumah tangga itu pasti banyak cobaan, banyak sekali masalah tidak ada yang mulus baik-baik saja." batin Sophia.
"Seandainya saja aku menikah di usia yang lebih Tua dan fikiran yang lebih dewasa mana mungkin aku seperti ini, aku pasti Akan lebih banyak memahami Mas Gerwyn." batin Sophia.
Dia menelpon Hena.
Hena yang masih tidur terbangun karena ponsel nya yang berbunyi dia menjawab nya.
"Halo Sophia. Ada apa pagi-pagi menelpon ku?" tanya Hena.
"Kamu baru bangun yah?" ucap Sophia.
__ADS_1
"Iyah Sophia." jawab Hena.
"Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja, aku sangat khawatir. Tapi mendengar kamu baik sekarang aku lega." ucap Sophia.
"Ya udah kamu lanjut tidur saja." ucap Sophia. Hena mengangguk. Hena meletakkan ponsel nya.
"Siapa yang menelpon di pagi hari seperti ini?" tanya Vano.
Hena baru sadar ternyata Vano masih di sana, dia langsung duduk.
"Sophia. Dia menanyakan keadaan ku, karena dia meninggal kan ku kemarin di Cafe. " jawab Hena.
Vano berusaha untuk duduk.
Ponsel nya berbunyi lagi.
"Ponsel kamu tidak berhenti berbunyi. Lebih baik kamu pulang ke rumah. kasihan orang tua kamu." ucap Hena.
Vano diam. "Kalau begitu aku Akan mengantarkan kamu pulang." ucap Hena, namun Vano menahan nya.
"Jangan! Mamah tidak boleh melihat kamu untuk sementara ini." ucap Vano. "Loh kenapa? Aku dengan Mamah kamu sangat Akrab." ucap Hena.
"Seperti yang kamu bilang. Mau bagaimana pun orang pasti akan berfikir seperti itu walaupun kamu bilang itu tidak ada hubungan apa-apa." ucap Vano.
"Kenapa Sih semua orang tidak percaya pada ku? Bahkan sekarang aku sudah meninggal rumah itu, aku meninggalkan Om Davit aku memutuskan hubungan yang baik antara Aku dengan Om Davit agar keluarga kamu bisa baik lagi." ucap Hena.
Vano diam. "Kapan Om Davit datang ke rumah?" tanya Hena.
"Kamu tidak perlu tau apa-apa, ini semua karena kamu, papah dengan Mamah mau berpisah." ucap Vano.
Hena diam. "Dari kecil Saya tidak pernah melihat orang tua saya akur." ucap Gerwyn sambil menangis.
"Kenapa wanita seperti kamu harus ada di dunia ini, kenapa?...." ucap Gerwyn.
"Kamu pasti puas kan melihat aku seperti ini? Kamu senang kan melihat keluarga ku hancur begitu saja." ucap Gerwyn.
"Aku selalu salah di mata kamu, aku memang bukan wanita yang baik. Aku memang penghancur keluarga kamu." ucap Hena.
Gerwyn menangis. Hena bisa merasakan sakit nya yang dihadapi oleh Gerwyn. Hena sudah kebal dengan semua kata-kata Vano yang selalu menuduhnya, tidak ada yang bisa di lakukan oleh nya.
Walaupun hati nya sangat sedih dan sangat membenci Vano namun dia juga sangat kasihan pada Vano.
__ADS_1
Tidak tega melihat Vano dia memeluk nya.
"Aku minta maaf kalau aku yang membuat semua nya seperti ini, aku menyesal." ucap Hena dengan lembut.
Vano sangat nyaman di pelukan Hena sehingga dia bisa mencurahkan semua isi hati nya.
"Sudah jangan menangis lagi. Lebih baik kamu pulang. Kamu jangan membuat Mamah kamu semakin sedih." ucap Hena.
Vano menatap wajah Hena.
Dia menunduk kan kepala nya lagi.
"Apa yang harus saya lakukan Hena? Apa yang harus aku lakukan." ucap Vano. "Kamu hanya perlu jadi penengah di antara mereka. Kamu harus bisa mengambil keputusan yang baik untuk mereka." ucap Hena.
Vano diam. "Aku tidak akan pernah menunjukkan diri di depan Om Davit lagi, aku janji, sampai kan permintaan maaf ku pada Mamah kamu." ucap Hena.
Vano diam. "Aku mau keluar sebentar lagi, lebih baik kamu pulang dari sini." ucap Vano. Vano tiba-tiba menahan tangan Hena.
"Saya minta maaf Hena, saya berbicara seperti tadi, saya tidak tau harus mengatakan apa lagi, saya minta maaf." ucap Vano.
Hena menghela nafas panjang.
"Aku sudah terbiasa dengan hal itu " ucap Hena. Vano terdiam. Vano Menatap wajah Hena.
"Apa yang harus saya lakukan pada kamu. Kamu selalu membuat saya kesal. Kamu sama sekali tidak perduli pada saya, terkadang kamu hilang begitu saja, datang tak di undang. Dan kenapa kamu membawa saya ke sini?" ucap Vano.
"Kamu membuat saya bingung Hena, setelah semua kebaikan, perhatian yang kamu berikan kepada saya namun kamu sekarang seperti tidak ada apa-apa." ucap Vano.
Hena diam. "Saya tidak tau apa yang saya rasakan Hena, saya tidak tau perasaan ini ada pada saya. Saya tidak bisa jauh-jauh dari kamu, saya tidak bisa melupakan wajah kamu. Saya ingin selalu ada di dekat kamu." ucap Vano...
Hena kaget dengan kata-kata Vano.
"Saya tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Kamu mengerti gak sihh?" ucap Vano.
"Aku tidak paham apa yang kamu bicarakan. Kamu sedang emosi, ketika kamu sedih atau emosi kamu akan berbicara yang tidak masuk akal." ucap Hena.
"Hena saya serius. Saya mohon jangan menjauhi saya." ucap Vano. Hena menatap wajah Vano.
"Aku tidak akan jauh dari kamu. Aku akan ada ketika kamu membutuhkan aku, kamu jangan khawatir." ucap Hena.
Vano memeluk Hena. "Berada di dekat kamu seperti ini akan membuat saya sangat nyaman." ucap Vano.
__ADS_1