
Pengawal mengarah kan Jalan nya, Vano langsung masuk ke dalam. Setelah berhasil masuk ie dalam rumah itu. Vano menyelinap masuk ke dalam ruangan yang menurutnya sangat di jaga sekali.
Kebetulan penjaga tidak di sana, dengan mudah dia bisa masuk ke dalam. Dia melihat ruangan itu penuh misteri namun terlihat tidak ada yang janggal sama sekali. Dia keluar dari sana dan melihat di samping ruangan itu ada tangga ke atas.
Dia mengingat peta rumah yang sebelumnya di tunjukkan oleh Tobi kepada nya. Dia yakin Akan menemukan petunjuk di atas.
"Permisi Tuan. Kalau tidak ada urusan lain lebih baik anda keluar!" ucap pengawal yang sudah mengarahkan pistol ke arah Vano.
Hena yang sedang asik minum tiba-tiba kefikiran Vano. "Kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia sih?" ucap Hena.
"Ah sudahlah, mungkin karena rindu saja." ucap Hena lanjut minum lagi.
Vano sudah mengangkat kedua tangan nya.
"Maafin teman saya, dia sedikit aneh, dia bisa pergi ke asal tempat." ucap Tobi datang menyelamatkan Vano.
Tobi membawa Vano keluar dari sana segera.
"Kenapa kamu malah membawa ku keluar? aku belum mendapatkan bukti apapun." ucap Vano.
"Saya mendapatkan rekaman CCTV." ucap Tobi menunjuk yang di tangan nya. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan nya?" tanya Vano.
"Sewaktu kamu di dalam. Kebetulan pengawal hari ini hanya beberapa saja sehingga mereka mengikuti kamu masuk ke dalam dan aku mengambil kesempatan." ucap Tobi.
"Hah!" Ucap Vano. Dia seketika memukul kepala Tobi.
"Sakit!" ucap Tobi.
"Kamu menjadikan aku alat? Kamu yang sudah tau jelas isi rumah itu, kenapa kamu meminta ku masuk dan kalau aku mati di tembak bagaimana?" ucap Vano.
Tobi tertawa. "Kalau bukan begitu kita tidak bisa mendapatkan nya." ucap Tobi. "Aku sudah sangat trauma dengan tembakan, badan ku sudah banyak tembakan. Aku tidak ingin mati karena benda mati yang sangat membahayakan itu." ucap Vano.
"Tidak akan." ucap Tobi. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan ke brangkas Tobi. "Di sini sangat banyak bodyguard, kenapa kamu harus mengajak ku?" ucap Vano.
"Karena semua bodyguard ku sudah sangat familiar bagi mereka." ucap Tobi. Vano menghela nafas panjang.
"Tempat apa ini?" ucap Vano melihat tempat yang begitu kumuh, bau dan sangat gelap sekali.
__ADS_1
"Di sini lah semua pengawal Pak putra di habiskan karena tidak mau mengakui di mana bos nya?" ucap Tobi. Vano melihat tempat yang sangat mengeringkan darah yang sudah kering di lantai.
Mereka naik ke lantai atas. "Kamu sangat betah sekali tinggal di tempat seperti ini!" ucap Vano.
Tidak beberapa lama sampai di ruangan kerja Tobi yang cukup bersih sehingga membuat Vano nyaman.
Mereka memeriksa rekaman CCTV.
"Ahh Sial!!" Tiba-tiba Tobi kesal karena ternyata rekaman nya hilang. Dia sudah tertipu oleh bodyguard itu.
Di rumah pak Putra mereka tertawa sambil membuang CCTV yang di incar oleh Vano dan Tobi.
"Tutup Semua gerbang. Pak Putra mau keluar." ucap ketua pengawal.
"Selamat Siang Pak. Kami sudah menyiapkan apa yang bapak minta." ucap pengawal. "Bagus." jawab pak putra.
Pria yang berwajah dingin, mempunyai jenggot kulit yang hitam serta penampilan yang sangat formal sekali.
"Lagi-lagi anak buah Gerwyn datang menyelinap ke sini pak." ucap bodyguard. Pak putra tertawa.
"Seperti nya tidak akan berhenti mencari ku." ucap pak putra sambil tertawa keras.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Vano. Tobi Menggeleng kan kepala nya.
Mereka keluar dari sana mau menemui Gerwyn.
"Bagaimana?" tanya Gerwyn setelah mereka bertemu.
Melihat wajah mereka berdua membuat Gerwyn paham.
"Kami minta maaf Pak. Kalau Bapak mau menghajar kami, silahkan!" ucap Tobi.
Gerwyn menghela nafas panjang. Dia menggeprak Meja.
"Seperti nya Pak putra sudah tau rencana kita. Kita harus mengatur strategi." ucap Gerwyn. Tobi dan Vano heran karena Gerwyn menghadapi Masalah kegagalan mereka dengan kepala dingin tidak seperti biasa nya marah dan menghajar semua anak buah nya.
Di tempat lain Ano dan Sophia baru saja pulang.
__ADS_1
"Sophia kenapa kau baru pulang?" tanya Bu Linda.
"Aku menunggu Ano Mah, aku minta maaf tidak Menganti mamah." ucap Sophia.
"Yakin menunggu Ano? Atau bertemu dengan teman-teman kamu, atau sama selingkuhan kamu?" ucap Lisa. Sophia Menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Lisa? tidak baik." ucap Bu Linda. Lisa seketika memasang wajah cemberut.
"Ya udah mah aku ke kamar dulu yah." ucap Sophia. Bu Linda tersenyum sambil mengangguk.
"Tante kok percaya aja sih sama dia? Dia sama sekali tidak menghargai Tante di sini kalau begitu. Dia pergi dari pagi namun baru pulang jam dua. Padahal dia tidak ijin." ucap Lisa.
"Tante tau seperti apa Sophia. Dia mungkin bisa jadi bertemu dengan teman nya untuk menghilang kan rasa bosan nya di rumah." ucap Bu Linda.
"Tapi aku pernah melihat Sophia Makan Siang sama laki-laki Loh Tante, mereka kelihatan sangat tomat." ucap Lisa. "Dia mempunyai banyak teman." ucap Bu Linda berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Tante harus percaya pada ku, kalau dia pasti memiliki pacar." ucap Lisa. "Dia mempunyai pacar yang bernama Gerwyn. Sudah lah berhenti membahas nya, kata nya kamu mau bikin kue untuk Tante, mana kue nya?" tanya Bu Linda.
"Ya udah deh Tante, aku Buatin dulu yah." ucap Lisa. Dia pun ke dapur.
Banyak yang mereka bicarakan sampai sore hari. "Sudah jam lima sore, kita sudah selesai hari ini lebih baik kita pulang." ucap Gerwyn.
Gerwyn pulang terlebih dahulu. Tobi menatap wajah Vano.
"Itu seriusan pak Gerwyn?" ucap Tobi. "Jadi menurut kamu siapa?" ucap Vano.
"Apa yang di lakukan Bu Sophia pada pak Gerwyn sampai Pak Gerwyn seperti ini." ucap Tobi. Vano diam.
"Kalau menurut kamu setelah kita mendapatkan Pak putra, apa pak Gerwyn akan membunuhnya?" tanya Vano. "Aku tidak tau, kita hanya menjalankan tugas." ucap Tobi.
"Aku harus segera pulang." ucap Vano.
"Kenapa? Apa kamus sudah merindukan kekasih mu?" ucap Tobi. "Aku sangat merindukan nya." ucap Vano. Tobi tertawa.
"Maka nya punya pacar." ucap Vano. "Jangan kan pacar istri dan anak aku sudah punya." ucap Tobi. "Oh iya yah." ucap Vano.
Mereka segera meninggalkan tempat itu..Vano masuk ke dalam mobil nya sambil memeriksa Ponsel nya karena tadi dia tidak memegang ponsel nya.
__ADS_1
"Ya ampun Hena menghubungi ku beberapa kali namun aku tidak mendengar nya." ucap Vano. Dia segera Menuju ke rumah Hena.