Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Episode 288


__ADS_3

"Dari awal kita sudah sepakat tidak akan seperti ini, kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini?" ucap Hena. Dia mendorong Vano.


"Saya mohon. Seperti nya saya salah Makan." ucap Vano.


"Salah Makan?" ucap Hena, Vano menganguk.


"Jangan bilang minuman yang di berikan Kak Bibi Sama kamu tadi?" ucap Hena karena gerak-gerik Bibi mencuriga kan pas mengambil minuman dari luar.


"Huff seperti nya pak Bibi sengaja." ucap Vano. Vano juga baru ingat dan sadar itu adalah perbuatan Bibi.


Hena menatap wajah Gerwyn yang sudah merah karena menahan hawa panas akibat dari obat itu.


"sebaiknya Kamu mandi dulu." ucap Hena. "Ini tidak akan bisa di tahan. Tolong bantu aku." ucap Vano.


"Aku tidak bisa melakukan apapun." ucap Hena.


"Kamu bisa, tolong aku.." ucap Vano dengan suara yang lirih. Namun Hena langsung keluar dari kamar itu. Vano menghela nafas panjang.


"Hena.. apa kamu tidak kasihan kepada ku? Aku bisa pingsan menahan rasa ini." ucap Vano.


"Itu adalah kesalahan kamu, aku sudah berjanji pada diri ku sendiri." ucap Hena.


Vano tidak bisa mengatakan apapun karena dia tidak boleh menyakiti perasaan Hena. Dia langsung ke kamar mandi.


Sudah dua jam dia di dalam kamar mandi namun tak kunjung keluar..


"Kenapa dia sangat lama?" tanya Hena khawatir.


Dia mau mengetuk namun dia juga takut tiba-tiba Vano menarik nya akhirnya dia mengabaikan Vano dan ketiduran di sofa.


Sudah merasa dirinya lebih baik akhirnya Vano keluar.


"Sebaiknya aku kembali ke kamar ku." ucap Vano. Namun tidak di respon oleh Hena..Vano mendekati nya dan melihat ternyata dia sudah tidur.


"Hufff bisa-bisa nya dia tertidur begitu lelap sekali." ucap Vano. Dia duduk di sofa menatap wajah Hena.


"Kapan kamu mau menikah dengan ku? aku sangat takut tidak bisa mengontrol diri." batin Vano.

__ADS_1


Dia mencium pipi Hena dan mau pergi namun tiba-tiba tangan nya di tahan oleh Hena.


"Jangan pergi aku mohon." ucap Hena. "Aku mau istirahat di kamar ku, aku tidak bisa lama-lama di sini." ucap Vano.


"Aku ingin di temanin kamu." ucap Hena dengan nada yang manja. "Tapi.." Hena menarik tangan Vano. Dan mereka berdua berbagai Sofa untuk tempat tidur.


"Ya ampun kenapa harus bangun lagi sih?" ucap Vano merutuki diri nya sendiri. Adik nya kembali bangun karena bersentuhan dengan Hena.


Dia berusaha untuk tidur namun tidak bisa, setelah Hena tenang akhirnya dia memilih untuk pergi dari pada sebelum sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi kepada mereka.


Setelah Vano masuk ke kamar nya dia harus mencari cara agar dia bisa lebih tenang dan bisa tidur dengan nyenyak.


Beberapa lama dia menonton sesuatu di handphone nya membuat nya tenang, namun dia tidak bisa melupakan wajah Hena, dia benar-benar sudah terpancing sekali.


"Pak Bibi benar-benar sangat keterlaluan, Pak Bibi tunggu pembalap ku." ucap Vano. Di tempat lain Bibi sedang happy-happy dia sudah menggandeng dua wanita di kiri dan kanan nya.


"Aku rasa sekarang Vano pasti lagi bersenang-senang." ucap Bibi.


"Bibi.." panggil mami pemilik Club.


Bibi ikut duduk bersama mami nya itu.


"Benar. Ada apa?" tanya Vano. "Saya mau meminta bantuan kamu mencari seperti Hena dan juga Sophia. Semenjak mereka keluar apalagi Hena Club jadi sedikit sepi." ucap mami.


"Saya sudah bilang dari dulu kalau saya tidak akan pernah membawa wanita seperti itu untuk bekerja di sini." ucap Bibi.


"Huff sangat sulit meminta bantuan dari kamu." ucap Mami. Bibi tertawa.


"Ya udah deh kalau begitu kamu lanjut saja." ucap mami.. Bibi kembali happy-happy.


Keesokan harinya.


"Selamat pagi Mas." ucap Sophia membangun kan suami nya. Gerwyn membuka mata nya dan melihat istrinya sudah di depan mata nya.


"Ini sarapan kamu sudah datang, ayo makan dulu." ucap Sophia. Gerwyn duduk. Dia minum air hangat dulu sebelum makan.


"Ini sudah jam berapa? apa kamu tidak mengurus Ano?" tanya Gerwyn.

__ADS_1


"Tidak mas, aku di sini ngurusin suami aku, di rumah ada Mamah, dan yang mengantarkan dia sekolah adalah Adit." ucap Sophia.


"Adit?" tanya Gerwyn. "Iyah mas, itu adalah permintaan Ano dia ingin bersama dengan Adit." ucap Sophia.


Gerwyn terdiam sejenak. Sophia menyikapi Gerwyn makan sampai habis, setelah itu meminum obat.


"Luka kamu pasti sangat sakit sekali kan?" tanya Sophia. Gerwyn menggeleng kan kepala nya.


"Ini tidak sebanding dengan perbutan pak putra dulu dari pada yang sekarang." ucap Gerwyn.


Sophia menatap Gerwyn. "Aku tau Ayah ku salah mas, tapi jangan membahas itu untuk sekarang ini." ucap Sophia. Gerwyn diam.


Sophia membantu Gerwyn untuk minum obat dan setelah itu dia juga sarapan. Namun baru Makan beberapa sendok dia sudah sangat mual. Gerwyn sangat khawatir namun Dia tidak bisa melakukan apapun.


Sophia berlari cepat ke kamar mandi dan setelah beberapa lama dia keluar dari kamar mandi wajah yang sangat pucat sekali. "Apa kamu tidak ingin ke dokter memeriksa kesehatan kamu?" tanya Angga..


Sophia menggeleng kan kepala nya. "Aku sudah memeriksa nya dengan Mamah pagi tadi." ucap Sophia.


"Oohhh." ucap Gerwyn, Sophia Menganguk.


"Apakah ada yang sakit?" tanya Gerwyn, Sophia menggeleng kan kepala nya.


"Sudah tidak perlu terlalu di pikirkan mas, sekarang mas harus sembuh secepat nya agar segera kembali ke rumah." ucap Sophia.


Gerwyn tersenyum. "Apa kamu tidak lanjut untuk makan?" tanya Angga. Sophia menggeleng kan kepala nya.


"Aku takut tidak berselera untuk makan mas." ucap Sophia. Tidak beberapa lama Bu Linda datang.


"Pagi Gerwyn, pagi Sophia." ucap Bu Linda.


"Pagi juga mah." ucap Sophia Gerwyn tersenyum.


"Nih Mamah bawain pakaian ganti untuk kamu, kamu tidak membawa pakaian ganti bukan?" ucap Bu Linda. "Makasih banyak mah, kebetulan baju ku basah." ucap Sophia.


"Loh kok bisa? Buruan ganti gih." ucap Bu Linda.


"Tadi dia mual-mual mah." ucap Gerwyn. "Ya ampun.. sama seperti mamah dulu setiap hari mual, kepala pusing, badan lemas." ucap Bu Linda.

__ADS_1


Gerwyn diam. "Dulu waktu Ngandung kamu Mamah selalu menangis ketika permintaan Mamah gak di turutin sama papah kamu." ucap Bu Linda.


Gerwyn tersenyum. "Tapi papah kamu sangat Sabar menghadapi sifat Mamah. Dulu Mamah sangat takut kalau pingsan tiba-tiba, itu sebab nya mamah mau papah selalu di samping Mamah gak boleh kemana-mana." ucap Bu Linda.


__ADS_2