Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Vano tidak ingin Hena pulang meninggalkan nya.


__ADS_3

Setelah selesai Mandi Sophia keluar duluan.. Tidak beberapa lama Gerwyn. "Sayang kering kan Dulu rambut kamu." ucap Gerwyn.


Sophia tidak mendengar karena fokus pada laptop nya.


Gerwyn berniat baik dia pun membuka handuk yang di rambut istri nya dan mengeringkan rambut istri nya.


Sophia senyum-senyum sendiri ketika Gerwyn Pengertian.


Gerwyn sudah selesai mengeringkan rambut istri nya.


Sophia melihat rambut suami nya juga bahas akhirnya dia juga menawarkan diri untuk mengering kan rambut Gerwyn.


Setelah itu Gerwyn duduk di samping Sophia memeluk Sophia yang fokus dengan laptop nya.


Tiba-tiba ponsel nya berdering. Sophia menoleh ke arah ponsel Gerwyn.


"Kenapa gak di jawab mas?" tanya Sophia.


"Saya lelah, saya mau istirahat di sini." ucap Gerwyn dengan Manja.


"Tapi ini dari Pak Mahdi." ucap Sophia. Gerwyn melihat nya.


"Huff ini pasti urusan Lisa lagi." ucap Gerwyn dia pun berjalan ke balkon menjawab telepon nya.


Di rumah sakit. Hena berbicara dengan dokter.


Dokter mengatakan kalau Vano harus banyak Istirahat lagi. Dua hari ini kesehatan nya meningkat.


Memberikan beberapa Obat pada Hena agar dia Makan oleh Vano. Tidak beberapa lama dia kembali ke ruangan tempat Vano di rawat.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Vano. Hena menoleh ke arah Vano.


"Ada apa emang nya? Kamu kangen hanya di tinggal sebentar saja?" tanya Hena. Vano berdecak kesal.


"Gak usah kepedean, saya mau ke kamar mandi." ucap Vano.


"Biasanya gak mau di bantuin. Sekarang kenapa harus nungguin aku?" tanya Hena.


"Bantuin saya sekarang! Nanti kalau saya mengeluarkan nya di sini kamu mau membersihkan nya?" tanya Vano. Hena pun membantu Vano ke kamar mandi.


"Sudah sakit kamu Masih ngeselin saja!" ucap Hena. Vano diam. Hena menunggu di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Lama banget sih, buruan dong." ucap Hena.


"Arghhhh!!" tiba-tiba Vano berteriak di dalam. Hena langsung masuk.


"Ada apa!" tanya Hena kaget. Jarum Infus Vano ternyata kesenggol tiang infus.


"Ya ampun hanya itu saja kamu seperti ketemu hantu. Ini adalah hal biasa maka nya hati-hati." ucap Hena.


"Lebih baik bawa saya keluar. Saya tidak tahan lagi." ucap Vano Hena pun membawa dia keluar dari sana.


"aku akan panggil suster untuk memperbaiki nya." ucap Hena. Dia memanggil suster Dan setelah diperbaiki suster pun keluar.


"Waktu nya makan malam." ucap Hena pada Vano. "Saya bosan makan itu saja, sudah sangat lembek, tidak ada rasa lagi." ucap Vano.


"Aku membeli beberapa cemilan tadi, cocok untuk teman makan. Kamu mau cobain?" tanya Hena.


"Saya tidak mau, itu pasti makanan yang tidak sehat." ucap Vano.


Hena megambil dan langsung menyuapi Vano.


"Bagaimana enak kan?" tanya Hena. Vano diam.


"Sedikit keras, pelan-pelan saja makan nya." ucap Hena.


"Jangan hiraukan aku, aku sehat bisa mencari makanan sendiri." ucap Hena. "Huff saya hanya tidak ingin setelah saya sembuh harus mengurus kamu yang sakit karena tidak makan." ucap Vano.


"Tenang saja, aku tidak Akan menyusahkan kamu kok." ucap Hena sambil tersenyum. Vano pun langsung berbaring dia memilih untuk diam saja.


Hena melihat Vano sudah tenang dia pun Keluar. Vano melihat Hena Keluar dari ruangan itu.


"Mau kemana dia? Apa dia mau pulang?" tanya Vano berbicara sendiri.


Sudah lama menunggu di ruangan nya namun Hena tak kunjung kembali. Vano melihat ke arah pintu namun tetap saja tidak ada tanda-tanda kalau Hena akan kembali ke ruangan itu.


Tidak beberapa lama Hena kembali. "Loh kamu belum tidur?" tanya Hena kaget melihat Vano duduk di tempat tidur nya.


Vano Menggeleng kan kepala nya.


"Kamu tidak bisa tidur yah karena gak ada aku?" tanya Hena sambil tersenyum manis.


"Dari mana saja kamu?" tanya Vano pada Hena. "Kamu kok marah gitu? Aku hanya ingin lama-lama duduk di luar, di sini saja membuat ku Bosan." ucap Hena.

__ADS_1


Vano diam.


"Lain kali beritahu saya kalau kamu mau keluar." ucap Vano. Hena diam.


Hena berbaring sambil fokus pada ponsel nya namun tiba-tiba Om Davit menelpon nya. Hena ragu-ragu menjawab nya di ruangan itu, namun dia juga sudah malas untuk keluar.


"Halo.. Hena kamu ada di mana? Sudah berapa lama kamu tidak pulang ke rumah? apa kamu tidak nyaman ada nia di rumah kamu? Om akan mencari tempat untuk dia." ucap Om Davit langsung.


"Bukan Om. Aku sedang tidak di sana, aku merawat Saudara ku di rumah sakit." ucap Hena.


"Saudara? Kenapa kamu tidak Bilang sama Om? Kamu membuat om khawatir saja." ucap Om Davit. Cukup lama berbicara telepon pun mati.


"Anak kandung nya sendiri hampir mati, namun bisa-bisa nya dia lebih perduli pada anak lain." ucap Vano. Hena terdiam.


Vano berbaring. Dia langsung diam. Hena juga tidak bisa mengatakan apapun dia juga ikut diam.


Keesokan harinya. Sophia menelpon Hena.


"Hena kamu jadi Pulang hari ini?" tanya Sophia.


"Jadi kok, tenang saja." ucap Hena.


"Oohh baiklah, aku tunggu di rumah. Kamu datang ke sini untuk ngambil barang-barang kamu yah." ucap Sophia.


"Oke. Ya udah kalau begitu aku siap-siap dulu Yah. Bye..." ucap Hena. Vano keluar dari kamar mandi dia melihat Hena sedang memasukkan semua barang-barang nya ke dalam tas.


"Kamu benar akan pulang hari ini?" tanya Vano. "Humm, bukan kah ini yang kaku inginkan? Aku ingin kamu cepat pulih kalau Aku tidak di sini, tidak boleh mengabaikan makan, harus minum obat dan jangan banyak gerak. Aku sudah berbicara dengan pak Gerwyn dia akan datang membawa pengganti ku." ucap Hena.


"Apa kamu tidak bisa di sini sampai saya sembuh? saya akan membayar kamu mahal." ucap Vano langsung.


Hena terdiam sejenak, dia menatap wajah Vano sambil tersenyum.


"Aku tidak ingin membuat kamu semakin tertekan kalau ada aku di sini." ucap Hena.


"Oke baiklah saya akui, saya salah sudah berbicara Kasar dan menghina kamu, tapi kalau kamu pergi saya tidak bisa meminta tolong pada siapa pun lagi." ucap Vano.


Hena tersenyum dia mengangkat Tas nya.


"Aku harus pulang. Permisi." ucap Hena namun Vano menahan tangan Sophia.


"Saya bilang saya minta maaf kalau membuat kamu sakit hati." ucap Vano. Hena melepaskan tangan Vano.

__ADS_1


"Aku harus ujian Besok. Setelah itu saya akan meneruskan hidup saya lagi. aku rasa perbuatan aku sekarang bisa mengurangi rasa sakit hati kamu pada perbuatan aku selama ini. aku yang harus nya minta maaf pada Kamu dan ibu kamu." ucap Hena.


__ADS_2