Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Sophia tidak pulang ke rumah.


__ADS_3

Hena terkejut dia menoleh ke arah Riki.


"Kejar dia." ucap Riki. Hena menganguk. Dia mengikuti Sophia masuk ke kelas. Sophia menangis di kelas nya. Hena hanya bisa duduk di samping Hena mengelus punggung Sophia.


"Ternyata sangat sakit yah di hianati dari pada di tinggal kan. Aku sudah Salah percaya pada pria yang sudah jelas aku tau dia seperti apa." ucap Sophia.


Hena mengelus rambut Sophia. "Yang sabar yah Sophia." ucap Hena " aku tau kok di posisi kamu pasti sulit sekali." ucap Hena.


Sebelum dia menceritakan nya, Hena pasti sudah paham kalau Sophia ada masalah dengan suami nya.


Sampai di kantor Gerwyn terlihat sangat murung. "Ada apa dengan Pak Gerwyn? Kenapa dia terlihat sangat murung tidak seperti biasanya." ucap Staf.


"Aku juga tidak tau, aku yakin pasti akan ada masalah, kita tidak boleh melakukan kesalahan. Ayo kembali bekerja semua nya." ucap teman nya.


Mereka pun langsung kembali bekerja. Gerwyn masuk ke ruangan nya di sana sudah ada Vano dan beberapa klien.


"Maaf sudah membuat menunggu." ucap Gerwyn. Vano memerhatikan bos nya sedikit berbeda. Selama bekerja Gerwyn sama sekali tidak bisa fokus sama sekali. Dia bahkan tidak bisa mengontrol emosi nya.


"Maaf pak, saya kurang paham dengan penjelasan bapak. Boleh di ulangi sekali lagi." ucap salah satu klien.


"Saya sudah menjelaskan nya dengan baik, saya mendatangi surat kerja ini tidak ada penjelasan ulang." ucap Gerwyn.


Semua orang Terdiam. "Keluar kalian semua!" ucap Gerwyn. Vano sudah sangat tidak enak.


"Apa-apaan ini pak? kami datang ke sini untuk bekerja sama, kenapa kamu di perlakukan seperti pengemis." ucap mereka marah.


"Kalau anda tidak suka, silahkan keluar dari ruangan saya!" ucap Gerwyn. "Baik kalau begitu, saya akan membatalkan semua nya ini. Ayo kita keluar." mereka akhirnya keluar.


"Apa yang bapak lakukan? Ini adalah klien penting kita. Ingat pak kita sudah mengeluarkan banyak biaya untuk ini." ucap Vano. "Saya tidak perduli!" ucap Gerwyn.


Vano menghela nafas panjang dia pun keluar.


"Bapak Maaf kan pak Gerwyn, dia sedang ada masalah. Dia berbicara seperti iini Tampa sadar." ucap Vano.


"Kami tidak akan datang ke sini lagi. Permisi."

__ADS_1


"Pak saya mohon jangan membatalkan semua nya. Kita sudah bekerjasama dari awal." ucap Vano.


Vano membujuk mereka untuk tetap bekerja sama namun mereka cukup sakit hati karena Gerwyn. "Tidak ada gunanya bekerja sama dengan pak Gerwyn kalau tidak bisa saling menghargai!"


"Tapi Pak, kasih kami kesempatan sekali lagi pak, saya janji hal ini tidak akan terulang lagi." ucap Vano. Dia tidak perduli lagi harga diri nya mengemis pada klien itu.


Dan tidak sia-sia akhirnya mereka mau, Vano sendiri yang menjelaskan agar lebih jelas kepada mereka.


Mereka puas dengan penjelasan Vano.


"Terimakasih banyak pak sudah Percaya pada saya." ucap Vano.


"Sama-sama, semoga kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik seperti sebelumnya."


Mereka pun meninggalkan kantor itu.


"Hufff akhirnya.." dia bersandar di kursi nya. "Pak Gerwyn ada masalah apa sih? Ini adalah kebiasaan pak Gerwyn ketika mempunyai Masalah semua orang kena imbasnya." ucap Vano.


Tiba-tiba ponsel nya berdering tanda pesan masuk.


"Sayang aku tidak bisa langsung pulang, aku menemani Sophia penginapan dulu di dekat sekolah." isi pesan dari Hena.


"Cerita nya panjang, aku juga kurang tau." jawab Hena.


"Oohh baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan yah, kabari aku nanti." ucap Vano.


Setelah itu pesan nya tidak di balas lagi. "Humm pasti pak Gerwyn ribut dengan istri nya. Karena dunia pak Gerwyn Hanya istri nya sekarang." ucap Vano.


"Ribut? Siapa yang ribut-ribut?" Tiba-tiba Enjel! masuk ke ruangan nya. "Enjel! kenapa kamu masuk tidak mengetuk pintu dulu?" tanya Vano.


"maaf aku sudah terbiasa. Siapa yang ribut-ribut?" tanya Enjel.


"Kamu sangat Kepo sekali. Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Vano.


"Aku hanya mau mengantarkan makan siang kamu. Di makan yah, aku masak sendiri loh." ucap Enjel. Vano membuka nya dan ternyata makanan kesukaan dia.

__ADS_1


"Wahhh enak banget nih pasti." ucap Vano. Enjel tersenyum.


"Oh iya aku juga mau bilang sama kamu. Kemarin Om Davit datang ke rumah." ucap Enjel.


"Lalu?" tanya Vano. "Kenapa kamu biasa saja?" tanya Enjel. Vano menatap wajah Enjel. "Aku Setiap hari memikirkan itu, aku sudah muak." ucap Vano.


"Mau bagaimana lagi? Kamu saja anak satu-satunya, seharusnya kamu perduli dengan orang tua kamu." ucap Enjel.


"Seharusnya kamu tidak perlu ikut campur Enjel. Karena kamu juga kan Mamah tau semua nya, kamu yang membuat masalah semakin rumit." ucap Vano.


Enjel terdiam. "Aku tidak suka kamu ikut Campur." ucap Vano.


"Aku bukan bermaksud seperti itu, aku hanya tidak ingin Mamah kamu selalu di hianati." ucap Enjel.


"Aku tau kalau kamu sayang pada mamah, tapi tidak harus ikut campur Enjel." ucap Vano.


"Aku perduli pada mamah kamu. Namun kamu tidak sama sekali, dan aku rasa kamu Anak yang tidak perduli pada orang tua!" ucap Enjel langsung pergi.


"Cih bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu padahal pengorbanan nya pada orang tua sama sekali tidak ada. Dasar pria egois." ucap Enjel sangat kesal sekali.


Namun tiba-tiba Gerwyn lewat dari depan nya, dia buru-buru langsung membalikkan badannya agar tidak di lihat oleh Gerwyn.


Namun Gerwyn sudah terlanjur melihat nya. "Om aku bisa jelasin kok." ucap Enjel berfikir Gerwyn akan Marah karena tidak Mengabari dia.. Namun Gerwyn langsung lewat begitu saja.


"Hah! Dia melewati ku begitu saja? Ada apa ini?" tanya Enjel kaget. Enjel mendengar Staf-staf sedang membicarakan soal Gerwyn.


"Ada apa dengan Om Gerwyn?" tanya Enjel langsung.


"Kami tidak tau, hari ini pak Gerwyn melewati semua jadwal kerja nya, bahkan dia marah-marah juga." ucap Staf.


Enjel melihat Gerwyn. "Huff pasti lagi ada Masalah." ucap Enjel.


"Kalau Om Gerwyn tidak mencari ku lebih baik aku tidak perlu tau. Vano sudah membuat aku kesal sekali." ucap Enjel. Dia pun meninggalkan perusahaan itu segera.


Hena dan Sophia baru saja sampai di penginapan tempat Sophia untuk istirahat. Dia tidak ingin pulang ke rumah untuk saat ini.

__ADS_1


"Kamu yakin mau menginap di sini Sophia? mertua kamu di rumah, dia pasti sangat khawatir." ucap Hena. "Untuk sementara saja kok, aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu." ucap Sophia.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa menemani kamu lebih lama di sini, aku harus pulang." ucap Hena. Sophia menganguk.


__ADS_2