Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Episode 234


__ADS_3

Sementara di perusahaan Gerwyn Masih fokus dengan Pekerjaan nya. Dia melihat untuk lembur dari pada dia harus stress memikirkan masalah nya.


"Mamah Maafin aku mah, kalau aku pulang Mamah pasti menanyakan Sophia." batin Gerwyn.


Namun baru saja mengingat Mamah nya, ponsel nya berdering telpon dari Bu Linda.


"Iya halo mah." jawab nya. "Kamu di mana?" tanya Bu Linda langsung. "Aku di kantor Mah." jawab Gerwyn. "Pulang sekarang, ini sudah jam berapa." ucap Bu Linda.


"Bentar lagi Mah." ucap Gerwyn. "Sekarang Vano sudah di rumah menunggu kamu." ucap Bu Linda. Gerwyn baru ingat kalau dia ada janji dengan Vano.


"Baik mah, aku akan pulang." ucap Gerwyn.


Gerwyn pun pulang dari kantor nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.


"Bagaimana tentang Sophia? Apa kamu sudah bertemu dengan nya?" tanya Bu Linda langsung.


Gerwyn Menggeleng kan kepala nya. "Kamu benar-benar keterlaluan!" ucap Bu Linda. Gerwyn terdiam. "Aku minta maaf Mah." ucap Gerwyn.


Bu Linda menghela nafas panjang. "Sudah Masuk dan Mandi, kamu seperti seseorang yang tidak mempunyai semangat hidup." ucap Bu Linda.


Gerwyn menganguk. "Tante kelihatan nya sangat marah pada Pak Gerwyn." ucap Vano.


"Bagaimana Tante tidak marah? Dia menghianati hati perempuan yang sudah sangat mencintai dia, dan sekarang istri nya pergi dan dia juga tidak bisa membawa kembali pulang." ucap Bu Linda.


Vano dan Hena diam. "Kalau begitu saya keruangan kerja pak Gerwyn dulu Tante." ucap Vano. Bu Linda menganguk.


"Kamu tunggu dulu yah." ucap Vano pada Hena. Hena menganguk sambil tersenyum.


"Kamu dengan Vano sekarang berteman baik yah." ucap bu Linda.


Hena menganguk sambil tersenyum. "Ayo duduk di ruang TV." ajak Bu Linda. Hena menganguk.


"Kamu ke sini pasti mau menemui Sophia kan? Masalah nya sekarang Sophia pergi tidak tau kemana." ucap Bu Linda.


"Ibu sangat mengkhawatirkan dia, ibu tidak bisa tidur." ucap Bu Linda. "Saya sudah tau Kok Bu." ucap Hena.

__ADS_1


"Sudah tau?" ucap Bu Linda.


"Saya tau di Mana Sophia. Sekarang dia sedang sakit, tapi sudah lebih baik kok Bu." ucap Hena.


"Ibu ingin bertemu dengan nya, ibu sangat mengkhawatirkan dia." ucap Bu Linda. "Seperti nya Sophia belum mau Bu, dia Masih sedih." ucap Hena.


"Kenapa dia bisa sakit?" Tanya Bu Linda lagi. "Kalau kata dokter, karena banyak beban fikiran, dia juga tidak Makan dengan teratur." ucap Hena.


Bu Linda mendengar itu sangat Sedih sekali. "Besok antar ibu ke sana yah." ucap Bu Linda pada Hena. Hena menganguk.


"masalah sebenarnya adalah Lisa menggoda Gerwyn, dan saat itu Sophia melihat ke nya. Ibu sangat menyesal sekali mengijinkan Lisa menginap di sini." ucap Bu Linda sedih.


"Ini bukan salah ibu kok, kalau ibu sedih seperti ini, Sophia akan tambah sedih." ucap Hena. Bu Linda menangis.


"Sophia sudah seperti anak ibu sendiri. Ibu sangat senang sekali dia mau menjadi menantu di rumah ini." ucap Bu Linda.


"Yang sabar yah Bu." ucap Hena mengelus punggung bu Linda.


"Tante kami pulang dulu yah." ucap Vano yang baru Saja menyusul mereka di ruang TV.


"Ini sudah larut malam." ucap Vano lagi.


Hena menyalim tangan Bu Linda dan juga bergantian dengan Vano.


Setelah di dalam mobil. "Kamu lama banget sih kerja nya?" tanya Hena. Vano Menghela nafas panjang. "Kan tadi aku udah bilang aku akan lama, kamu Malah maksa untuk ikut." ucap Vano.


"Aku menunggu kamu sangat lama sekali." ucap Hena. "Ya udah aku minta maaf yah." ucap Vano. Hena hanya diam saja.


Vani melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen nya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.


"Kita sudah sampai Sayang, ayo turun." ucap Vano sambil menoleh ke arah Hena. Dan ternyata Hena sudah tidur.


Vano tersenyum. "Ngotot mau ikut eh ujung-ujungnya malah ketiduran di dalam mobil." ucap Vano. Dia turun terlebih dahulu dan membuka pintu Bagian Hena.


Dia mengendong Hena ke dalam. Akhirnya sampai di kamar nya dia membaringkan Hena di kasur. "Huhh kamu ternyata cukup berat juga." ucap Vano pada Hena.

__ADS_1


Dia membuka sepatu dan juga kemeja nya. Setelah itu dia membantu melepaskan Sepatu Hena.


"Sungguh wanita yang manja." Di tersenyum dan meletakkan sepatu di tempat nya. Dia naik ke atas kasur berbaring di samping Hena.


Dia menatap wajah Hena sambil senyum-senyum. "Aku tidak tau ada apa dengan diri ku ini. Namun sekarang aku sangat bahagia sekali bisa memiliki wanita ini." batin Vano. Dia mencium bibir Hena.


Namun dia lagi-lagi tidak bisa menahan diri karena Hena tiba-tiba memanyunkan bibirnya. "Maafin aku Hena." Ucap Vano dia menggigit Bibir Hena agar terbuka.


Namun Hena terbangun karena kesakitan. Dia mendorong Vano namun Vano tidak kunjung melepaskan nya. Hena sangat kaget, namun pada akhirnya dia juga bisa menenangkan Hena. Hena membalas ciuman Vano sekarang.


Vano tidak berhenti dia semakin ganas sekali, dia semakin menarik Hena ke dalam pelukannya.


Vano mau membuka baju Hena namun Hena menahan nya. "Aku Mohon jangan melakukan nya." ucap Hena.


"Kenapa?" tanya Vano.


"Aku sudah mencabut KB aku. Aku tidak boleh berhubungan badan." ucap Hena. Vano terdiam sejenak.


"Jadi selama ini kamu pakai KB?" tanya Vano. Hena menganguk.


Vano duduk. "Kapan kamu membuka nya?" tanya Vano. "Tadi siang waktu nganterin Sophia ke klinik." ucap Hena.


Vano terlihat kebingungan sekali.


"Kamu kenapa?" tanya Hena. Vano Menggeleng kan kepala nya. "Kalau aku tidak pakai KB, bisa-bisa aku hamil." ucap Hena.


"Sudah tidak perlu membahas itu lagi, ayo tidur." ucap Vano. Dia langsung berbaring membelakangi Hena.


Hena melihat ke arah Vano.


"Kamu kenapa sayang? Kamu marah karena kami tidak bisa melakukan itu lagi? Kita Masih bisa menggunakan pengaman." ucap Hena.


Vano tidak menjawab nya. " ya udah kalau kamu tidak mau, maafin aku kalau membuat kamu Kesal." ucap Hena.


Hena merasa sangat sedih dia pun ikut berbaring.


"Aku tau kamu pasti membenci mengingat masa lalu aku." ucap Hena. Tiba-tiba Vano berbalik dia memeluk Hena yang sudah mau menangis.

__ADS_1


"Aku tidak berfikir seperti itu. Aku hanya sangat merasa bersalah." ucap Vano menenangkan Hena. "Kamu jijik kan sama aku? Kamu membenci aku kan?" ucap Hena. Vano menggeleng kan kepala nya.


"Aku mencintai kamu, aku hanya tidak berfikir pada perasaan kamu saat itu, Maaf kan saya." ucap Vano. Mereka pun berpelukan..Hena selalu Overthinking dengan hubungan nya.


__ADS_2