
"Kau yang sudah membuat diri mu sendiri masuk penjara. Sophia dan Ano tidak memiliki salah kepada kamu, dia sangat menyanyangi mu dengan Liam namun kalian tidak pernah menyanyangi dia."
"Ini adalah hukuman yang pantas untuk mu dengan Liam."
Pak putra berteriak dia sangat takut dan badan nya gemetar.
"Kenapa Pak? Apa di sini sangat sejuk? Apa di sini begitu nyaman untuk bersembunyi?" tanya Bibi yang baru saja datang dan melihat pak putra seperti orang kesurupan dan ketakutan.
Pak putra menatap Bibi dengan tatapan marah.
"Kau yang membuat saya di sini, keluar saya!" ucap Pak putra. Bibi tertawa.
"Ini semua karena kesalahan Bapak, bukan karena saya." ucap Bibi. Pak putra meludahi Bibi untung saja tidak kena.
"Berani-beraninya Bapak meludahi saya. Seharusnya bapak sudah seperti ini menyadari kesalahan Bapak." ucap Bibi.
"Ini semua bukan karena saya, saya tidak salah." ucap pak putra.
"Sampai kapan bapak mengatakan Bapak tidak bersalah?" ucap Bibi lagi. Pak putra Diam.
"Saya datang ke Sini mau mengatakan kalau besok sidang, semoga bapak bisa menjawab semua pertanyaan atau mendengar kan semua nya. Dan juga siap-siap menerima hukuman beberapa tahun." ucap Bibi.
"Aarrrghh!!! Saya sumpahin kau tidak akan pernah selamat bersama keluarga mu!" ucap pak putra. "Saya tidak melakukan kesalahan apapun dan saya pasti nya akan melindungi keluarga saya bukan seperti bapak yang meninggal kan keluarga." ucap Bibi.
Pak putra tidak bisa mengontrol emosi nya dia berteriak. Melihat pak putra seperti itu membuat Bibi merasa puas sekali.
"Kenapa Pak? kenapa bapak diam? Apa Bapak sudah tidak memiliki kekuatan untuk berteriak?" tanya Bibi. Bibi meminta pengawal nya mengambil Air minum.
"Silahkan di minum pak." ucap Bibi. Pak putra tidak mengambil Air itu.
"Orang tua yang sangat buruk." ucap Bibi.
"Kalau Sophia tau kau seperti nya ini kepada saya dia akan Marah!" ucap pak Putra.
"Marah? Untuk apa dia marah kepada saya? dia tidak akan membela ayah nya yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dia berikan." ucap bibi.
Mendengar itu pak putra semakin marah.
"Kurang ajar..." Dia sangat marah sehingga melukai diri nya sendiri. "Bapak percuma marah-marah, percuma Bapak merasa benar, itu semua percuma." ucap Bibi.
"Sebaiknya Bapak bertobat, Bapak sadar kalau yang bapak lakukan itu salah dan jujur pada semua kelakuan yang sudah Bapak lakukan agar semua nya cepat selesai." ucap Bibi.
"Dan satu lagi Pak. Bapak tidak akan capek lagi untuk bersembunyi, Atau bekerja karena di sini bapak hanya tidur dan makan saya secara gratis. Selamat menikmati." ucap Bibi dan langsung pergi.
__ADS_1
"Lihat saja pembalasan ku Bibi!" ucap Pak putra.
Bibi keluar dari sana namun kepolsek memanggil nya. Meminta keterangan tentang kasus itu.
Setelah pulang dari sana Bibi pulang ke rumah orang tua nya.
Karena sumpah pak putra tadi dia teringat orang tua nya yang sudah lama tidak dia kunjungi.
"Bibi kamu baru datang nak?" tanya papah nya yang baru saja pulang bersama Mamah nya.
"Iyah Pah, mah." ucap Bibi.
"Bagaimana kabar kamu? Sudah hampir satu bulan kamu tidak datang ke sini. Mamah Sama Papah merindukan kamu ." ucap Mamah nya.
"Aku minta maaf mah, aku sangat betah tinggal di apartemen ku."' ucap Bibi.
"Huff jangan-jangan kamu sudah memiliki gadis yang membuat kamu betah di luar." ucap papah nya.
"Gak mungkin lah Pah. Aku tidak memiliki gadis." ucap Bibi.
"Kebetulan kamu di sini,. bagaimana kalau nanti malam kamu ikut dengan Papah ku undangan teman papah." ucap papah nya.
"Undangan apa Pah?" tanya Bibi.
"Humm undangan makan malam saja, putri mereka baru pulang." Ucap papah nya.
"Bukan kok. Tapi kalau kamu suka juga gak apa-apa." ucap papah nya. Bibi tertawa.
"Ya udah kalau begitu aku ikut Pah, aku juga ingin kenal teman-teman papah." ucap Bibi. Mereka sangat senang Bibi mau ikut.
Di tempat lain Adit baru saja sampai bersama Ano di rumah sakit.
"Assalamualaikum.." Adit mendorong pintu ruangan Gerwyn.
"Walaikumsalam." jawab Gerwyn.
Melihat Ano dan juga Adit.
"Kak Gerwyn bagaimana keadaan kakak?" tanya Bibi.
"Seperti yang kamu lihat Ano." ucap Gerwyn.
Gerwyn menatap Adit.
__ADS_1
"Hummm Sophia mana Pak?" tanya Adit dengan Gugup.
"Kalian baru saja pulang?" tanya Sophia yang baru saja Datang dari luar. Adit tersenyum sambil mengangguk.
"Kebetulan kamu di sini. Nih untuk kamu." ucap Sophia memberikan paper bag kecil pada Adit.
Gerwyn melihat Sophia memberikan itu kepada Adit.
"Terimakasih yah sudah nganterin Ano." ucap Sophia. "Baiklah kalau begitu aku pulang dulu yah." ucap Adit. Sophia menganguk.
"Sampai jumpa Besok kak Adit." ucap Ano. Adit menganguk dia pun keluar.
"Apa yang kamu berikan kepada nya?" tanya Gerwyn.
"Oohh itu adalah gelang yang kemarin kamu tidak mau. Gelang itu sangat bagus dan aku juga membelinya lumayan harganya, sayang sekali kalau tidak di pakai.. kebetulan Adit suka gelang yang polos seperti itu." ucap Sophia.
Gerwyn menghela nafas panjang. "Aku menolak gelang itu karena aku merasa gelang itu tidak cocok di tangan ku yang begitu besar." batin Gerwyn.
Dia merasa Kesal karena di berikan pada Adit.
"Oh iya mas, dokter bilang besok pagi sudah boleh pulang." ucap Sophia.
"Kamu serius?" ucap Gerwyn Sophia menganguk. Gerwyn sangat senang. "Aku akan mengambil gelang itu kembali." batin Gerwyn. Karena sudah Sore Gerwyn merasa badan nya sangat lengket, Sophia membantah me lap badan nya dengan tisu Basah.
Di tempat lain Bibi dan Orang tua nya sampai di rumah yang lumayan ramai. "Ini adalah teman akrab Papah. Mamah sama papah sering main ke sini." ucap papah nya.
Saat sedang berjalan masuk ke dalam tidak sengaja Mata Bibi salfok sama wanita yang datang membawa tadah gelas mendekati mereka.
"Apakah ini putri Teman papah? Dia sangat cantik sekali." batin Bibi.
"Selamat malam Tante, Om." sapa wanita itu dengan suara yang lembut dan Sopan santun.
"Malam juga Yana." jawab Mamah nya Bibi.
"Silahkan di minum." Yana memberikan jus kepada mereka.
Yana melihat Bibi yang hanya diam.
"Ini anak Om dan Tante yah?" tanya Yana.
"Oh iya kenalin nama nya Bibi." Yana tersenyum ke arah Bibi yang membuat Bibi ingin pingsan rasanya.
"Kenalin nama aku Yana. Aku adalah pelayan disini." ucap Yana. menjulurkan tangannya.
__ADS_1
"Pelayan?" batin Bibi kaget. Dia menjabat y
tangan Yana dan setelah itu Yana pergi.