Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
ketakutan


__ADS_3

Vano menggeleng kan kepala nya.


"Saya ingin kamu yang merawat saya." ucap Vano. Hena terdiam sejenak.


"Saya tidak betah di rumah sakit." ucap Vano. "Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa melakukan apapun." ucap Hena.


"Aku ingin kamu mengurus saya di sini seperti ini sudah cukup." ucap Vano. Hena diam dia bingung ada apa dengan Vano.


"Baiklah kalau begitu kamu lanjut istirahat, aku mau lanjut belajar juga." ucap Hena. "Saya ingin kamu tidur dengan saya kali ini."' ucap Vano.


Sophia sangat terkejut.


"Apa kamu bilang?" ucap Hena kaget.


"Aku ingin kamu tidur dengan ku kali ini saja." ucap Vano.


Hena terdiam. Lagi-lagi tercengang karena kata-kata Vano.


"Tempat tidur hanya satu di sini, tidak mungkin kamu tidur di Kursi atau di lantai, kita bisa berbagi tempat tidur." ucap Vano.


"Di rumah ini banyak kamar, aku bisa pindah kesana." ucap Hena.


"Bagaimana kalau kamu sedang di kamar yang lain. Sementara sakit saya tiba-tiba Kambuh dan pingsan?" ucap Vano. Hena menghela nafas.


"Baiklah-baiklah!" ucap Hena. Dia mengambil Buku dan naik ke kasur. "Ternyata kamu Masih mau tidur dengan pria sembarangan yah!" ucap Vano.


"Apa sih maksud kamu!" ucap Hena langsung bangun dari tempat tidur karena mendengar kata-kata Vano yang menghina nya.


"Tidak ada apa-apa." ucap Vano.


Hena menatap Vano. "Aku tau aku perempuan murahan, aku tidur dengan pria yang bergantian kalau kamu tidak mau tidur dengan ku jangan meminta untuk tidur di sini." ucap Hena.


"Kamu akhir-akhir ini Masih sering kan tidur dengan pria lain?" ucap Vano lagi. "Iyah aku sangat sering tidur dengan orang lain." ucap Hena.


"Saya pikir kamu keluar dari pekerjaan Lama kamu akan berubah namun ternyata tidak." ucap Vano.


"Aku rasa itu bukan kah urusan kamu, itu adalah urusan ku sendiri. Dan dari mana kamu tau aku keluar dari sana? Atau jangan-jangan kamu mengikuti ku?" tanya Hena.


Vano memalingkan pandangannya.


"Aku Akan pindah ke kamar sebelah." ucap Hena.


"Kita tidak sekali ini tidur berdua. Bahkan kita sudah melakukan nya, kenapa kamu harus malu?" tanya Vano.


Hena mencoba untuk diam saja dari pada melawan orang yang aneh. Dia akhirnya naik ke kasur menarik selimut dan membelakangi Vano memeluk bantal guling nya.

__ADS_1


Vano jadi diam ketika Hena juga diam. Padahal di Balik punggung Hena di menangis.


"Kenapa masa lalu ku selalu di kenang oleh orang lain?" ucap Hena. "Ya Allah ketika orang membahas nya atau mengungkit itu membuat ku sangat sedih." batin Hena.


Tidak sengaja Suara isakan nya terdengar oleh Vano.. Vano menoleh ke arah Hena.


"Apa dia ingusan?" tanya Vano pada diri nya sendiri.


"Saya haus mau minum, namun air di sini sudah habis." ucap Vano.


Hena diam, dia berhenti menangis menghapus air mata nya dan juga berpura-pura tidak mendengar Vano.


Vano melihat Hena diam saja, dia pun jadi diam.


Di pagi hari yang cerah...


"Kak Gerwyn sama Mbak Sophia belum bangun yah Bik?" tanya Ano yang dari tadi duduk di Meja makan.


"Seperti nya belum, Ano Makan saja duluan dari pada Telat ke kantor." ucap Bibik. Ano mengangguk.


Dia pun makan sendiri. Setelah Ano pergi Bibik membangun kan ke kamar Gerwyn.


"ada apa Bik?" tanya Gerwyn.


"Non Sophia mana pak? Apa dia tidak bangun untuk berangkat ujian?" tanya Bibik.


"Oohhh begitu yah Pak. Ya sudah kalau begitu saya permisi." ucap Bibik.


Gerwyn kembali menutup pintu.


"Huff kenapa badan ku dan kepala ku sangat sakit sekali?" ucap Gerwyn dia kembali berbaring di kasur.


Istri nya berangkat ke sekolah sangat pagi karena mau gotong royong sebentar sebelum ujian. Dia tidak sempat untuk masak dan tidak sempat mengurus suami nya.


Dia Sekolah Ano berjalan sendirian ke kelas nya.


"Loh kok aku sendirian? Enjelita mana!" tanya Bu Ena.


"Seperti nya dia belum datang Bu." ucap Ano. "Oohh Gitu. "Oh iya ibu boleh minta tolong kasih ini ke pak Gerwyn gak nanti?" tanya Bu Ena sambil memberikan kotak hadiah.


Ano dengan polos nya menerima begitu saja.


"Terimakasih yah sudah mau membantu Ibu." Ucap Bu Ena. Ano mengangguk.


Di sekolah Sophia. Dia baru saja selesai bersih-bersih dia melihat Hena yang duduk sendirian di taman menunggu ada aba-aba masuk ke kelas.

__ADS_1


"Hena." ucap Sophia duduk di samping Hena.


Hena melihat Sophia dia langsung tersenyum.


"Kamu kenapa termenung seperti itu?" tanya Sophia.


Hena Menggeleng kan kepala nya.


"Aku hanya kefikiran ujian saja." ucap Hena.


"Oohhh. Kamu kalau sudah rajin belajar dan yakin Sama yang kamu tau sudah cukup, karena kamu akan pusing sendiri memikirkan benar atau tidak." ucap Sophia.


"Kamu benar banget sih." ucap Hena sambil tersenyum. Sophia juga tersenyum.


"Sebenarnya aku mau curhat sama kamu." ucap Sophia.


"Mau curhat apa?" tanya Hena.


"Humm kemarin aku merasa suami ku aneh. Dia tiba-tiba jadi sangat Manja, diam, dan juga terlihat banyak kefikiran dan yang aneh nya dia seperti ketakutan gitu." ucap Sophia.


"Apa dia sering menempel pada mu?" tanya Hena.


"Humm dia bahkan tidak mengijinkan untuk pergi ke sekolah." ucap Sophia.


Hena tersenyum.


"Dia pasti lagi Overthinking. Dia sangat takut kalau kamu akan pergi dengan pria lain." ucap Hena.


Sophia terdiam.


"Dia tau sifat manusia seperti apa, dia takut sifat nya yang dulu akan kamu lakukan juga." ucap Hena.


Sophia terdiam dia tidak berfikir sebelum nya seperti itu, namun yang di bilang hena benar juga.


"Aku yakin sih dia pasti ketakutan kehilangan kamu karena dia mencintai kamu " ucap Hena.


"Apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini Hen? Aku juga merasa terganggu Kalau dia terlalu cemburu an." ucap Sophia.


"Kamu harus menyakinkan dia Kalau kamu bisa menjaga kepercayaan dia." ucap Hena.


"Kamu tau sendiri Pria seperti Gerwyn itu sangat posesif sekali, walaupun aku sudah mencoba untuk jujur yang namanya cemburu yah dia pasti akan menuduh yang tidak-tidak." ucap Sophia.


"Beruntung lah kamu, karena dia mencintai kamu dengan sangat tulus sekali." ucap Hena. Sophia tersenyum.


"Ya udah Yuk kita ke kelas saja." ajak Sophia. Hena tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam kelas. Melihat soal-soal sudah datang membuat Hena sedikit gugup selalu berbeda dengan Sophia yang terlihat sangat santai sekali.


Sophia mengerjakan soal nya dengan sang fokus agar tidak ada kesalahan nanti nya.


__ADS_2