
"Ya Allah engkau begitu baik kepada ku." ucap Hena.
"Selamat yah." tiba-tiba pria datang mengucap kan selamat kepada nya.
Sophia melihat Paper bag yang di arah kepada nya, dia menoleh ke arah orang itu. "Mas Gerwyn." ucap Sophia.. Gerwyn tersenyum.
"Saya sangat bangga kepada kamu." ucap Gerwyn mengelus kepala istri nya.
Sophia tersenyum dia melihat ke sekitar dan memeluk suaminya. "Aku berfikir mas tidak akan datang." ucap Sophia.
Tidak mungkin saya tidak datang." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.
"Makasih yah mas." ucap Sophia.
"Selamat yah sayang." Gerwyn berbisik di telinga istri nya. Sophia hanya bisa senyum-senyum.
Sophia meminta suaminya segera melepaskan pelukan nya karena tidak enak jika ada yang melihat.
"Mas gak Kerja?" tanya Sophia.
"Saya memiliki meeting 20 menit lagi, tapi saya masih ingin bersama istri saya." ucap Gerwyn.
"Tidak masalah kalau mas ingin pulang, aku juga sebentar lagi kumpul." ucap Sophia. Gerwyn mengangguk.
"Ya udah kalau begitu Saya pulang. Sampai bertemu di rumah." ucap Gerwyn. Sophia mengangguk.
Gerwyn baru saja pergi Hena langsung menghampiri nya. "Enak yah di saat-saat seperti ini ada seseorang yang sangat spesial mengucapkan selamat. Aku sangat cemburu melihat nya." ucap Hena.
"Kamu bisa saja, tapi kan sekarang Vano lagi bekerja.' ucap Sophia. Hena mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah kalau begitu sebaiknya kita kumpul ke kelas, sudah di tungguin oleh guru." ucap Hena.
Sophia menganguk. Namun saat berdiri dia merasa kepalanya sangat pusing sekali.
"Ada Apa Sophia? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Hena.
"Humm aku baik-baik saja Kok. Hanya sedikit pusing saja." ucap Sophia.
"Ya udah kalau begitu ayo aku bantuin. Mereka pun meninggalkan kantin.
Di sore hari nya Sophia baru saja keluar dari sekolah itu menunggu jemputan di depan Gerbang.
__ADS_1
Sementara Hena sudah duluan.
"Kamu pulang Sama siapa Sophia? Aku anterin aja yah." ucap Riki.
"Tidak perlu, aku di jemput kok. Terimakasih." ucap Sophia. "Oohh ya udah deh, lumayan Kursi mobil ku untuk gebetan." ucap Riki.
Sophia hanya tertawa melihat tingkah teman nya itu. Setelah Hena menolak nya sekarang Riki berganti-ganti mendekati wanita yang di sekolah mau pun yang di luar sekolah.
"Haii.." Adit datang. Sophia kaget melihat Adit.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Sophia.
"Aku mau mengucapkan selamat sama kamu, Maaf aku telat, tapi setidaknya aku menepati janji ku kalau kamu lulus Masih bisa mendengar kan kata-kata selamat dari aku." ucap Adit sambil memberikan Bunga.
"Aku tidak menerima bunga dari pria mana pun Selain suami ku." ucap Sophia. "Owh." Adit berbicara dengan sangat lesu.
Dia menurunkan bunga yang di tangan nya. "Aku sudah yakin kalau kamu pasti bisa kuliah. Dan akhirnya kamu bisa satu universitas dengan ku." ucap Adit.
"Aku tidak ingin membahas itu, lebih baik kamu pergi saja, kau tidak menginginkan kamu di sini." ucap Sophia. Adit menghela nafas panjang.
"Aku mungkin sudah membuat kesalahan yang membuat kamu sedih dan sangat membenci ku. Tapi percaya lah saya masih sangat mencintai kamu." ucap Adit.
Sophia terdiam. "Aku kembali untuk kamu bukan untuk tujuan yang lain. Dan aku ingin bertanya sekali lagi apa kamu benar-benar sudah tidak memiliki perasaan kepada ku?" tanya Adit.
Sophia diam.
"Apa kamu tidak memiliki pikiran yang jernih? Sekarang aku sudah mempunyai suami dan juga hamil. Apa kamu sengaja membuat aku cerai dengan suami ku?" tanya Sophia.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku Hanya memastikan agar aku tau cara hidup kedepannya, melihat kamu seperti apa." ucap Adit.
"Aku sudah move on dari kamu. Dan kamu tenang saja semua uang yang kamu habis kan untuk aku dengan Ano perlahan aku akan mengganti nya." ucap Sophia.
Adit Menggeleng kan kepala nya.
"Tatap aku ketika kamu berbicara agar aku yakin dengan kata-kata kamu." ucap Adit.
Sophia menatap Adit. Namun dia kaget melihat Adit sudah menangis. Dia tidak tega dan menundukkan pandangan nya lagi.
"Aku rasa kamu tidak perlu mengganggu kehidupan ku lagi. Kalau kamu benar-benar mencintai aku, aku mohon jangan mengganggu dan berharap kepada ku." ucap Sophia.
Adit menghela nafas panjang. Dia menghapus air mata nya.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Tapi saya masih bisa berteman dengan kamu kan?" tanya Adit.
"Aku rasa sebaik nya kita tidak perlu berhubungan lagi. Aku tidak ingin suami ku salah paham." ucap Sophia.
"Aku butuh waktu untuk move on Sophia. Kamu sudah tau aku seperti apa." ucap Adit.
Sophia tau kalau Adit move on tidak lah mudah. Dia akan berteman dengan mantan nya sampai dia menemukan Orang baru, sama seperti yang di alami Sophia dulu.
"Tapi sekarang berbeda Dit." ucap Sophia. "Aku tidak akan pernah memaksa kamu, kalau ini adalah kemauan kamu Aku tidak akan mempermasalahkan nya." ucap Adit.
Sophia diam. "Soal yang kamu bilang akan Menganti uang ku itu tidak perlu." ucap Adit. Dia menjatuhkan bunga Nya dan segera pergi.
Sophia mau menahan Adit namun tiba-tiba tidak jadi karena dia teringat suami nya. Tapi dia sangat Sedih Adit meninggal kan nya begitu saja.
Dia mengambil bunga itu dan membaca surat ucapan yang membuat air mata nya menetes.
"Maafin aku Sophia, aku akan melakukan apapun untuk membalas kesalahan ku pada mu." Isi surat terakhir.
Tiba-tiba jemputan nya sudah datang.
"Sophia!!" Tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil dia.
Dia menoleh ke arah suara itu.
"Kak Liam!" Ucap Sophia kaget dia langsung masuk ke dalam mobil dan meminta supir segera pergi.
"Buruan pak. Jangan sampai pria itu mengejar kita." ucap Sophia. Supir menganguk dia segera melajukan mobil meninggalkan sekolah itu.
Liam melihat Sophia merasa kesal karena di tinggal kan.
"Adek tidak tau diri! Bisa-bisa nya dia pergi ketika kakak kandung nya datang." ucap Liam.
"Kamu kenapa datang setelah acara selesai? " tanya guru yang mengundang Liam ke acara itu.
"Saya Harus Bekerja dulu Bu." ucap Liam.
"Bagaimana bisa kamu mementingkan Pekerjaan kamu dari pada adik kamu sendiri." ucap gurunya.
Liam terdiam.
"Setelah Kamu mendengar Adik kamu sukses dan mendapatkan beasiswa kamu baru datang, kakak seperti apa kamu?" ucap guru Sophia.
__ADS_1
"Ibu tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Saya permisi." Liam kesal karena di nasehati dan langsung pergi begitu saja.