
Sophia tersenyum melihat adiknya.
"Kamu bisa saja. "Tapi mbak mohon jangan beri tahu siapa pun tentang Mbak hamil yah." ucap Sophia.
"Iyah mbak, aku paham kok." ucap Ano, Sophia tersenyum.
"Ya udah kamu bersih-bersih badan tukar pakaian dan ayo makan sama-sama." ucap Sophia. Ano menganguk.
Sophia menelpon suami nya ketika Ano masuk ke kamar mandi, namun telpon nya tidak di jawab.
"Huff awas saja kalau kamu pulang!" ancam Sophia kesal.
Dia membuka makanan nya. Namun tiba-tiba perut nya lagi-lagi mual.
Dia berlari ke wastafel. "Mbak kenapa?" tanya Ano yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mbak tiba-tiba mual mencium aroma makanan itu." jawab Sophia. Ano melihat makanan itu ternyata ada telur.
"Apa mungkin telur ini yang membuat mbak mual?" tanya Ano.
"Bisa jadi dek, mbak sangat pusing." ucap Sophia. Ano segera memakan nya sampai habis. Sophia melihat itu terkejut sekaligus heran karena tidak biasa Ano memakan telur sekali dua dan menghabiskan nya dengan cepat.
"Sudah habis mbak." ucap Ano. Sophia mendekati meja.
"Mbak makan saja yang bisa mbak makan yah, aku sudah menghabiskan telur nya kok." ucap Ano.
Sophia melihat tidak ada lagi telur di makanan itu. Namun karena teringat telur dia jadi tidak berselera Makan.
Ano memaksa nya namun Sophia tetap tidak mau.
"Apa yang harus aku beli untuk mbak?" tanya Ano. Sophia menggeleng kan kepala nya. "Mbak tidak ingin Makan apa-apa Selain buah." ucap Sophia.
"Kalau begitu aku akan membeli nya mbak." ucap Ano. "Kamu yakin?" tanya Sophia. Ano menganguk.
"Tapi mbak, aku tidak mempunyai uang. Kak Gerwyn akhir-akhir ini tidak memberikan aku uang jajan." ucap Ano.
Sophia tersenyum. "Ya udah ambil saja di dompet mbak." ucap Sophia. Ano mengambil nya dan setelah itu dia langsung keluar membeli buah mbak nya.
Dia sudah sampai di luar. "Loh Ano!" ucap pria yang datang dari ruangan dalam hotel itu. Ano berhenti karena merasa namanya di sebut.
"Ada apa yah Om?" Tanya Ano berbalik badan ke belakang nya. Dia melihat pria yang berbadan tinggi Berkaca mata hitam.
__ADS_1
Pria itu membuka kaca mata nya. "Om Bibi!" ucap Ano. Bibi tersenyum.
"Kamu mau kemana? Dan kamu dari mana?" tanya Bibi. "Aku dari dalam om. Aku sama mbak Sophia menginap di sini." ucap Ano.
"Trus kamu mau kemana?" tanya Bibi.
"Aku mau beli buah untuk mbak Sophia kak." ucap Ano.
"Toko buah di sini sangat jauh. Ayo om antar kan saja." ucap Bibi. Ano pun mengangguk mereka pun mencari buah sama-sama.
Uang Ano sama sekali tidak berkurang, Bibi membayar semua nya, dia juga membeli banyak buah.
"Kamu kenapa memilih mangga yang banyak? Ini juga banyak yang masih muda-muda." ucap Bibi.
"ini adalah pesanan Mbak Sophia Om." ucap Ano. Bibi terdiam.
."Apa mbak Sophia sehat?" tanya Bibi.
"Sehat kok Om." jawab Ano.
Bibi kebingungan. Dia curiga karena melihat buah itu. Tidak beberapa lama setelah membeli buah mereka jajan dulu dan setelah itu Bibi mengantarkan Ano pulang.
"Om Bibi kok bisa di sini? Sudah lama om tidak kelihatan." ucap Ano.
"Om bantuin bawa ke atas yah." ucap Bibi. Ano menganguk.
"Ini kamar nya?" tanya Bibi. Ano menganguk. Mereka pun masuk.
"Assalamualaikum mbak, aku pulang." ucap Ano. Sophia yang sedang membaca buku di atas kasur melihat Ano datang dia meletakkan Buku nya.
Namun dia kaget melihat adiknya tidak datang sendirian.
"Kak Bibi." ucap Sophia.. Bibi tersenyum.
"Kamu kenapa dengan Ano menginap di sini? Gerwyn dimana?" tanya Bibi.
"Humm mas Gerwyn juga nginap di sini kok kak. Aku pengen saja mencari suasana yang baru." ucap Sophia.
"Tapi tunggu Dulu deh, kenapa kamu kelihatan nya kamu sangat pucat? Kamu juga tidur seperti orang sakit." ucap Bibi.
"Enggak kok kak, aku hanya kurang Enak badan saja." ucap Sophia. Bibi melekatkan buah di atas meja.
__ADS_1
"Tanpa kamu kasih tau kakak sudah tau kalau kamu hamil kan?" ucap Bibi. Sophia terdiam.
"Kakak kenapa bisa tau?" tanya Sophia.
"Kakak sudah tau dari wajah kamu, dan badan kamu juga kelihatan nya berbeda." ucap Bibi. Sophia Menghela nafas panjang.
"Aku mohon jangan memberi tahu siapa pun kak." ucap Sophia. "Berarti benar kan?" tanya Bibi, Sophia menganguk.
"Suami kamu sudah tau? Apa sudah di periksa?" tanya Bibi.
"Sudah kok kak. Tadi kami baru saja selesai memeriksa nya." jawab Sophia.
"Jangan bilang kalau baru kamu dan suami kamu yang tau?" ucap Bibi lagi, Sophia mengangguk.
"Kenapa harus di sembunyikan? Bukan nya kamu sudah selesai ujian? Kamu hanya menunggu kabar lulus atau tidak kan?" ucap Bibi.
"Iyah kak, Tapi kalau mertua ku tau dia pasti melarang aku untuk lanjut kuliah, aku akan memberi tahu pada nya setelah aku mendaftar kan Kuliah." ucap Sophia.
Bibi Menghela nafas kasar. "Huff aku tidak heran kalau kamu berfikir seperti itu karena kamu Masih kurang dewasa. Tapi menurut ku rencana kamu ini adalah salah." ucap Bibi.
"Loh kenapa kak?" tanya Sophia.
"Sebaiknya kamu mengatakan nya dengan jujur apa yang terjadi dan apa yang kamu inginkan, apa kamu mau mertua kamu membenci kamu karena ini?" tanya bibi.
"Dan kalau masalah lanjut kuliah. Kalau kamu berbicara baik-baik mertua kamu pasti paham." ucap Bibi.
Sophia Menghela nafas panjang.
"Mertua ku sangat menginginkan Cucu Kak, dia pasti Takut Cucu nya kenapa-napa kalau aku lanjut kuliah dan kecapean pasti nya." ucap Sophia.
"Jangan mengkhawatirkan itu. percaya deh kalau kamu meminta ijin dengan baik, Bu Linda pasti mengijinkan nya." ucap Bibi.
Sophia Menghela nafas panjang. "Aku akan memikirkan nya lagi nanti kak, untuk sementara ini aku ingin menyembunyikan nya." ucap Sophia.
"Sudah kelihatan sekali kalau kamu hamil walaupun itu masih sangat muda, kamu seperti memiliki Fisik yang lemah." ucap bibi.
"Nah itu dia kak, aku jadi bingung harus bagaimana, aku Masih harus ke sekolah." ucap Sophia.
"Kamu menjaga Pola makan dengan baik, minum vitamin, jangan lupa Susu dan istirahat yang cukup." ucap Bibi.
"Tapi kak, aku benar-benar belum siap menjadi seorang ibu." ucap Sophia. "Kalau kamu belum siap kenapa kamu melakukan nya dengan Gerwyn? Kamu sangat aneh sekali." ucap Bibi.
__ADS_1
Sophia terdiam. Dia menunduk kan kepala nya.
Bibi langsung paham apa yang terjadi.