
Sophia sangat fokus membaca buku nya sampai dia lelah dan mengantuk. Dia pun Berbaring.
"Good night mas " ucap Sophia. Dia juga membelakangi Gerwyn.
Gerwyn ternyata belum tidur, dia menoleh ke arah Sophia. Dia sama sekali tidak bisa tidur entah apa yang di pikirkan oleh nya namun dia terus menatap wajah Sophia yang berbalik menghadap ke arah nya.
"Kenapa belum tidur mas?" tanya Sophia yang membuka mata nya menatap wajah Gerwyn. Gerwyn mau berbalik namun di tahan oleh Sophia.
"Kenapa?" tanya Sophia.
"Kamu tidur saja, besok mau ujian kan." ucap Gerwyn. Sophia memeluk Gerwyn, menyembunyikan wajahnya di dada suami nya.
"Kenapa aku merasa mas ketakutan? Apa yang sedang kamu khawatir Kan?" tanya Sophia. Gerwyn terdiam sejenak dia mengelus rambut istri nya.
"Saya hanya lelah saja, terlalu banyak Masalah pekerjaan." ucap Gerwyn. Sophia melepaskan pelukannya dia menatap wajah suaminya.
"Kalau begitu mas tidur di pelukan ku saja." ucap Sophia. Gerwyn tersenyum dia pun berbaring di lengan Sophia. Sekarang gantian. Sophia menepuk-nepuk badan Gerwyn dengan lembut.
"Mas mau aku bernyanyi?" tanya Sophia.
"Kamu tidak apa-apa bergadang?" tanya Gerwyn.
"Ini baru j sembilan malam. menyanyikan beberapa lagu Agar mas lebih tenang dan nyaman tidak lah masalah." ucap Sophia.
Gerwyn tersenyum. Sophia pun mulai bernyanyi. Baru kali ini Gerwyn mendengar Sophia bernyanyi suara nya begitu lembut masuk ke telinga Sampai dia mengantuk Dan akhirnya tertidur pulas di pelukan Sophia.
Sophia sadar Gerwyn sudah tidur dia mengawas kan tangan nya. "Dia makan apa sih? Kenapa sangat berat." ucap Sophia.
Setelah berhasil menarik tangan nya dia menyelimuti Gerwyn.
"Tidur yang nyenyak yah Mas." ucap Sophia mencium pipi Gerwyn dan setelah itu dia juga tidur.
Di tempat lain Hena sedang belajar sampai larut malam. Karena sudah selesai dia memandangi Vano yang tak kunjung bangun. "Akibat Obat tidur yang di berikan oleh dokter dia jadi tidur begitu lama." ucap Hena.
Dia mendekati Vano meletakkan telapak tangan nya di dahi Vano.
"Panas nya tidak sehangat tadi, tapi wajahnya Masih sangat pucat, aku jadi khawatir dan takut, apa sebaiknya aku kasih tau saja yah sama Orang tua nya." ucap Hena.
Namun tiba-tiba Vano bergerak. Dia membuka mata nya melihat ke sekeliling nya. "Saya di mana?" tanya Vano.
"Kamu ada di kamar ku, tadi papah kamu datang, aku tidak ingin dia melihat kamu di sini." ucap Hena.
__ADS_1
Vano mau duduk namun tiba-tiba merasa sakit.
"Jangan duduk dulu, nih minum lah." ucap Hena.
Vano minum agar tenggorokan nya tidak kering.
"Kamu kenapa sih nekat Keluar dari rumah sakit? Kalau seperti ini bisa-bisa kamu meninggal tidak ada yang tau. Aku sudah memutuskan untuk mengabari keluarga kamu." ucap Hena.
"Jangan... Saya mohon.." ucap Vano dengan lirih.
Hena Menghela nafas panjang.
"Kamu menyusahkan aku kalau seperti ini, aku sedang ujian aku tidak ingin terganggu oleh siapa pun." ucap Hena.
"Saya tidak akan mengganggu kamu, saya akan pulang." ucap Vano berusaha untuk bangun. Hena menahan Vano membaringkan tubuhnya lagi.
"Kamu pikir kamu Bisa pulang dengan keadaan seperti ini?" ucap Hena. "Saya tidak ingin kamu kerepotan." ucap Vano.
Hena diam.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan memberi tahu keluarga kamu, asalkan kamu harus fokus pada kesehatan kamu." ucap Hena.
"Saya tidak tau apa yang terjadi pada saya, namun saya merasa sangat nyaman ketika ada di samping kamu." batin Vano.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Hena. "Jawab aku! aku tidak mau susah karena kamu!" ucap Hena.
"Ba-baik." ucap Vano. Hena duduk di kursi.
"Kenapa aku harus marah yah pada dia? Sementara dia lagi sakit." ucap Sophia dalam hati.
"Bisa-bisa nya dia ke sini masih sakit, bagaimana kalau dia tidak sampai ke sini? bagaimana kalau luka nya infeksi atau terjadi sesuatu." batin Hena.
"Huff sudah lah, percuma saja aku perduli pada nya, dia tidak akan pernah baik pada ku atau menganggap kebaikan ku." ucap Hena.
Hena membaca buku. Tiba-tiba dia mendengar suara yang aneh.
"Suara apa itu? Apa itu berasal dari Vano?" ucap nya dia menatap Vano memegang perut nya.
"Kalau kamu lapar kamu bilang saja, biasa nya kamu meneriaki aku sangat Keras." ucap Hena.
Vano diam, dia Masih sangat Lemas, berbicara saja dia tidak Kuat.
__ADS_1
Hena pun keluar dari kamar dia kaget sekali melihat Nia di rumah itu.
"Kamu berbicara dengan siapa di dalam Hen?" tanya Nia.
"Aku berbicara lewat telpon, kamu sendiri mau kemana membawa tas seperti ini?" tanya Hena.
"Aku mau pergi saja dari sini Hena, om Davit sudah memutuskan hubungan kami, tidak ada gunanya lagi aku di sini." ucap Nia dia pun langsung pergi.
Hena Menghela nafas panjang.
"Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, dia pergi begitu saja." ucap Hena mengingat beberapa Minggu yang lalu Om Davit memberikan mobil mewah dan juga ponsel keluaran terbaru.
"Ah sudahlah, itu juga kesalahan Om Davit mau saja di tipu oleh wanita." ucap Hena dia pun langsung masuk ke dalam dapur.
"Aku tidak terlalu pandai memasak sup. Tapi sepertinya aku bisa, dari pada dia tidak makan sama sekali." ucap Hena.
Namun Membuka kulkas seketika dia langsung menghela nafas. "Ya ampun aku lupa untuk belanja lagi." ucap Hena.
dia tidak bisa Masak, akhirnya dia memesan dari luar saja.
Tidak beberapa datang dia pun membawa nya ke kamar.
"Nih Makan lah." ucap Hena. Vano menerima nya namun tangan nya tidak Kuat. Hena mengambil sendok dan menyuapi Vano.
"Aku tidak memasak nya sendiri, aku mau masak namun bahan-bahan nya tidak ada." ucap Hena.
"Ini sudah enak kok." ucap Vano.
Hena terdiam ketika Vano berbicara dengan baik tidak seperti biasanya. Hena mendengar itu membuat nya sedikit nyaman.
Hanya beberapa suap saja setelah itu dia tidak mau lagi.
"Kalau keadaan kamu semakin buruk seperti ini aku takut kenapa-napa, aku ingin kamu langsung di rawat di rumah sakit saja." ucap Hena.
Vano menggeleng kan kepala nya.
"Saya ingin kamu yang merawat saya." ucap Vano. Hena terdiam sejenak.
"Saya tidak betah di rumah sakit." ucap Vano. "Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa melakukan apapun." ucap Hena.
"Aku ingin kamu mengurus saya di sini seperti ini sudah cukup." ucap Vano. Hena diam dia bingung ada apa dengan Vano.
__ADS_1