
Gerwyn beranjak dari atas Sophia dan melanjutkan menonton TV, sementara Sophia terdiam dia langsung pergi, Gerwyn melihat Sophia pergi seketika dia tersenyum singkat.
Tidak beberapa lama akhirnya film pun selesai.
"Ah gak seru masa pemain utama nya meninggal." ucap Ano.
Gerwyn tersenyum.
"Ya udah mandi sana, nanti mbak Sophia tambah marah." ucap Gerwyn. Ano mengangguk. "Kakak juga mandi sana, nanti mbak Sophia lebih marah sama Kakak." ucap Ano.
"Ya udah yok kita bersama masuk ke kamar." ucap Gerwyn.
Mereka pun sama-sama beranjak dari sofa dan berlari masuk ke kamar masing-masing.
Gerwyn masuk ke kamar mencari Sophia namun ternyata Sophia tidak ada di kamar, namun pakaian nya sudah ada di atas kasur. "Kemana dia?" batin Gerwyn.
dia melihat ke kamar mandi sudah ada air hangat di dalam bak mandi. Dia tidak mempunyai alasan untuk memanggil Sophia ke kamar.
Dia segera menyelesaikan mandi nya. Dia keluar namun tak juga menemukan Sophia.
Dia ke kamar Ano, dan ternyata tidak ada juga dia melihat Ano yang sedang belajar.
"Ano lagi apa?" tanya Gerwyn.
"Aku lagi menggambar gedung yang sangat tinggi." ucap Ano sambil menunjuk kan pada Gerwyn.
"Wahhh Bagus sekali, kakak bisa menebak kalau ini adalah Gedung rumah sakit yang terbesar di kota ini." ucap Gerwyn menarik kursi dan duduk di samping Ano.
"Betul sekali." ucap Ano.
"Kamu suka seperti nya menggambar, bagaimana kalau besok sepulang kerja kakak beliin alat menggambar." ucap Gerwyn.
"Kakak serius?" tanya Ano, Gerwyn mengangguk.
"Tapi ada syaratnya." ucap Gerwyn. "Apa kak?" Gerwyn langsung berbisik ke telinga Ano dia langsung setuju.
Mereka pun keluar dari kamar.
"Bik lihat Sophia gak?" tanya Gerwyn.
"Non Sophia berada di kamar Ibu Den." ucap Bibik. Mereka pun langsung ke kamar Buk Linda.
"Permisi Mah." sapa Gerwyn. Sophia yang sedang memijat-mijat kaki buk Linda menoleh ke arah Sophia.
"Ada apa?" tanya buk Linda.
__ADS_1
"Ih mamah judes banget sih." ucap Gerwyn. Buk Linda Menghela nafas panjang.
"Kalau tidak ada yang penting lebih baik kamu keluar deh." ucap buk Linda pada Gerwyn. Dia pun bersama Ano langsung keluar.
"Huff Ibu kok jadi pemarah Gitu yah kak?" tanya Ano.
"Humm kalau begitu kita cari cara lain saja." ucap Gerwyn.
Mereka pun mencari cara agar rencana mereka berhasil membawa Buk Linda keluar namun mereka tidak mendapatkan ide sama sekali.
Kedua nya Duduk lemas di sofa. Sophia baru saja keluar dari kamar.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Sophia, mereka berdua menoleh ke arah Sophia.
"Akhirnya kamu keluar juga. Aku sama Ano mau minta bantuan kamu." ucap Gerwyn.
"Bantuan apa?" tanya Sophia. Gerwyn membisikkan ke telinga Sophia.
"Gak! Gak aku gak setuju pak, nanti kalau terjadi apa-apa sama Tante Linda bagaimana?" ucap Sophia.
"Kamu tenang saja." ucap Gerwyn.
"Aku gak mau, kalau terjadi apa-apa aku juga yang repot." ucap Sophia. Gerwyn langsung mengancam.
Sudah malam. Sophia berhasil membawa Buk Linda keluar.
"Udah Tante ikut saja," ucap Sophia terus membantu buk Linda keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Kalau nanti Gerwyn tidak melihat kita di rumah dia pasti akan marah-marah sama kamu." ucap Buk Linda.
"Tante jangan khawatir, ayo masuk saja." ucap Sophia membantu buk Linda masuk ke dalam mobil.
Tidak beberapa lama di dalam mobil Sophia menutup mata buk Linda.
"Tante jangan khawatir aku tidak akan berbuat jahat, ikut saja arahan ku." ucap Sophia. turun dari mobil.
"Tante sudah siap?" tanya Sophia. Buk Linda mengangguk.
"Buruan mata Tante sudah tidak sabar." ucap buk Linda.
Setelah membuka mata nya buk Linda terdiam sambil membulat kan mata nya melihat orang yang di depan nya.
Ada Ano dan Gerwyn yang berpakaian ala pangeran dan Ano memegang bunga sementara Gerwyn memegang kue.
"Selamat ulang tahun pernikahan ke 32 Mamah." ucap Gerwyn. Buk Linda menetes air mata nya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku tau ini akan membuat Mamah sedih, tapi Mamah Akan lebih sedih kalau tidak ada yang merayakan nya, karena di dalam hati ku Mamah sama Papah selalu ada begitu juga di hati Mamah Papah selalu hidup." ucap Gerwyn.
Buk Linda tersenyum.
"Terimakasih yah nak, kamu sudah memberikan kejutan ini pada Mamah. Mamah tidak tau harus mengatakan apa, inti nya Mamah suka." ucap buk Linda.
Sebelum meniup lilin dia berdoa dan untuk almarhum suaminya. Setelah meniup lilin mereka berpelukan, tidak terasa air mata Gerwyn keluar.
Buk Linda menoleh ke arah Sophia dan Ano.
"Kamu sangat Tampan memakai baju seperti ini Ano." ucap buk Linda mencubit pipi Ano. Ano tersenyum.
"Kak Gerwyn merencanakan semuanya buk, dia juga yang memilih baju Ano, dan juga baju Mbak Sophia." ucap Ano.
Buk Linda tersenyum menoleh ke Gerwyn.
Gerwyn langsung memeluk ibunya. "Aku ingin Mamah cepat sembuh, sehat seperti dulu lagi." ucap Gerwyn. Buk Linda mengangguk.
Buk Linda melihat dekorasi yang sudah di tata dengan sangat bagus.
"Dulu Papah kamu juga tiap tahun membuat kejutan seperti ini, sekarang Mamah merasa dia ada di sini bersama kita." ucap Buk Linda sambil berjalan terus menyusuri Taman yang sudah di hias.
Gerwyn dan Ano berjalan bersama sementara Sophia memilih untuk duduk di kursi taman yang sudah di sediakan.
Gerwyn melihat Sophia duduk sendirian dia mendekati nya.
Namun di dului oleh Ano, Ano memberikan Bunga mawar merah pada Sophia.
"Ini untuk mbak Sophia." ucap Ano sambil duduk di samping Sophia. Sophia tersenyum.
"Mbak sudah Lama pacaran dengan kak Adit, tapi kak Adit tidak pernah membuat kejutan pada mbak yang seperti ini, aku yakin kalau kak Adit memberikan kejutan Mbak Sophia pasti sangat senang." ucap Ano.
"Ya pasti senang lah, tapi kamu tau sendiri mbak sama kak Adit sama-sama sibuk." ucap Sophia.
Ano mengangguk.
"Mbak Sophia kapan bilang sama kak Adit kalau mbak sudah menikah?" Sophia diam.
"Mbak Tidak boleh menyembunyikan nya lebih lama, nanti kalau kak Adit tau sendiri dia akan lebih Marah." ucap Ano.
"Huff Entah lah, mbak juga bingung." ucap Sophia.
"Oh iya mbak tadi waktu keluar sama kak Adit kami tidak sengaja bertemu dengan Kak Liam." ucap Ano.
"Hah! Di mana?" tanya Sophia.
__ADS_1
"Di Cafe Mbak, dia bersama dengan Bibik dan juga paman seperti nya mereka sangat bahagia dan tidak biasa nya juga mereka makan di tempat mahal." ucap Ano. Seketika Sophia mengingat di saat kakak nya mau menjual rumah peninggalan Ayahnya.