
"Huff sudah ku duga ini akan terjadi." ucap Enjel, karena dia sudah tau kalau Enjel tinggal bersama Gerwyn karena permintaan orang tua nya.
"Semua nya sudah terlanjur Om." ucap Enjel. "Bantu saya Enjel. Saya tidak tau harus melakukan apa lagi." ucap Gerwyn.
"Kalau Om Belum benar-benar melupakan Lisa dan berubah menjadi lebih baik. Sebaiknya Om hidup saja sendiri." ucap Enjel.
Gerwyn mendengar kata-kata Enjel membuat nya semakin sedih.
"Mbak kenapa meninggalkan rumah? Bagaimana kalau kak Gerwyn marah?" tanya Ano pada mbak nya.
"Tidak apa-apa, kamu ikut dengan mbak Saja. Pakaian sekolah dan semua barang-barang kamu nanti mbak minta tolong sama Bibik di rumah." ucap sophia.
Dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya dari Adik nya. Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
"Aku gak mau di sini Mbak, aku mau pulang aja." ucap Ano. "Kamu gak sendirian kok di sini, mbak juga disini, mbak gak mungkin ninggalin Ano." ucap Sophia.
Ano hanya diam, dia mengikuti Sophia masuk ke dalam kamar itu. "Mbak Sophia kalau ada masalah harus membicarakan nya dengan baik. Aku gak ingin mbak Sophia dengan kak Gerwyn Marahan." ucap Ano.
"Kamu tidak perlu khawatir dek, mbak baik-baik aja." ucap Sophia. Ano diam.
Gerwyn dan Enjel duduk berdiaman di sofa ruang tamu.
sementara di kamar Bu Linda duduk juga di sofa nya.
"Maafin aku Pah, aku tidak bisa menjaga Gerwyn dengan baik, sekarang dia membuat hati Mamah sangat kecewa sekali." ucap Bu Linda sambil memandangi foto keluarga nya.
Di kantor Vano baru saja selesai meeting tepat jam empat Sore. "Akhirnya selesai juga." ucap nya sambil meregangkan otot-otot nya.
Dia merapikan semua barang-barang nya dan setelah itu keluar dari ruangan nya itu. "Permisi Pak Vano. Ini ada beberapa kerjaan yang harus Bapak periksa." ucap Staf.
"Pak Gerwyn yang harus menandatangi ini, saya akan memberikan pada nya nanti." ucap Vano.
"Baiklah kalau begitu pak." ucap Staf. Vano pun langsung meninggalkan perusahaan itu.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di apartemen nya, namun baru saja sampai di depan tiba-tiba ponsel nya berdering telpon dari klien nya.
"Ya ampun tidak ada selesai nya, aku sudah sangat lelah sekali." batin Vano. Dia pun menjawab nya. Sambil masuk membuka pintu.
Tiba-tiba Hena berdiri di depan Pintu dia mau memeluk Vano namun melihat Vano menelpon tidak jadi. Vano Terkekeh melihat Hena.
__ADS_1
Tidak beberapa lama telpon nya berakhir. Vano mematikan handphone nya Menatap wajah Hena.
"Kenapa kamu tidak Mengabari kalau kamu sudah di rumah?" tanya Vano. Hena tersenyum.
"Aku sudah mengabari kamu, namun mungkin pesan ku tidak kamu baca." ucap Hena.
"Maafin aku, aku sangat lelah. Semua kerjaan kantor harus menangani nya sendiri."' ucap Vano. Hena menarik tangan Vano ke Meja makan.
"Aku beli makanan dari luar untuk makan Malam sama kamu . Kamu juga pasti lapar, ayo Makan sama-sama." ajak Hena.
"Tapi aku mandi dulu yah." ucap Vano. Hena menganguk.
"Kamu sudah mandi?" tanya Vano pada Hena. "Sudah kok." ucap Hena.
"Apa kamu tidak mau mandi sekali lagi?" tanya Vano. Hena menggeleng kan kepala nya. "Sebaiknya kamu ikut dengan aku. Aku kurang bersih kalau mandi sendiri." ucap Vano.
"Tapi lebih baik lagi kalau kamu mandi sendiri. Aku akan memanaskan makanan yang sudah dingin." ucap Hena.
"Kamu yakin gak mau ikut?" tanya Vano. Hena menggeleng kan kepala nya.
"Apa kamu benar-benar yakin?" tanya Vano lagi. "Buruan mandi sana!" ucap Hena.
"Tunggu sebentar yah sayang." ucap Vano. Hena tersenyum. Vano pun masuk ke dalam kamar.
Hena membantu menggantung kan baju Vano yang di letakkan di atas sofa. Namun tiba-tiba ponsel nya berdering telpon dari Mamah nya.
Dia mau menjawab namun takut orang tua nya Curiga. Kalau tidak di jawab Siapa itu adalah hal yang penting.
Namun dari pada menambah masalah Vano akhirnya dia mengabaikan itu. Tidak beberapa lama Vano keluar dari kamar sambil mengusap kepala nya dengan handuk kecil.
"Kenapa kamu harus membeli makanan sebanyak ini?" tanya Vano melihat makanan yang di atas meja.
"Aku tidak bisa masak, jadi nya aku hanya bisa membeli." ucap Hena. Vano tersenyum.
Mereka pun makan saling Suapan.
"Hari ini Pak Gerwyn dalam keadaan pikiran yang kacau, sudah beberapa kerjaan yang tertunda karena Pak Gerwyn. Dan aku yang harus menyiapkan semua nya." ucap Vano.
"Pagi tadi Pak Gerwyn ke sekolah menemui Sophia. Seperti nya mereka ribut. Dan Sophia hari ini mencari penginapan tidak mau pulang ke rumah." ucap Hena.
__ADS_1
Vano Menghela nafas panjang. "Semoga saja tidak ada masalah yang serius. Kalau ini Terus berkelanjutan kantor akan terkena masalah lagi sama seperti hal sebelum nya." ucap Vano.
"Kira-kira kenapa yah? Aku juga tidak tega melihat Sophia seperti ini." ucap Hena. Vano diam.
"Dalam sebuah hubungan pasti ada saja cobaan nya." ucap Vano.
Hena terdiam sejenak. "Sama hal nya seperti kita." ucap Vano. Hena menunduk kan kepala nya.
"Aku tidak tau bagaimana selanjutnya dengan hubungan kita, aku tidak ingin selalu di sembunyikan seperti ini, namun kalau di publish kita sendiri yang akan terkena masalah nya." ucap Hena.
Vano mengelus rambut istri nya. "Tapi kamu harus tau kalau aku sangat mencintai kamu, tidak mungkin aku meninggalkan kamu. Aku akan berusaha berbicara dengan orang tua ku soal kita." ucap Vano. Hena menganguk.
"Sudah jangan sedih lagi, ayo lanjut Makan." ucap Vano.
Di balkon penginapan Sophia dia sedang membaca buku dengan fokus.
"Mbak ponsel mbak berbunyi." ucap Ano berteriak dari dalam.
"Jawab saja," ucap Sophia.
"Ini gak ada nama nya mbak." ucap Ano. Sophia masuk dan melihat nomor baru yang menelpon nya.
"Ini pasti Mas Gerwyn. Dia menelpon ku dengan nomor baru." batin Sophia. Dia pun menolaknya.
Lagi-lagi di telpon dengan nomor yang sama.
Sophia Menghela nafas panjang. "Lebih baik aku menjawab saja dari pada dia membuat ku pusing dan tidak bisa fokus belajar." ucap Sophia.
"Halo! Ada apa lagi mas?" ucap Sophia.
"Haiiii... Aku bukan Gerwyn." ucap wanita yang berbicara di balik Ponsel nya.
"Lisa! Ada apa kamu menelpon ku?" tanya Sophia.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu Masih hidup setelah melihat adegan romantis itu."' ucap Lisa.
"Kamu adalah wanita yang sangat jahat, tidak mempunyai Hati!" ucap Sophia. Lisa tertawa.
"Aku akan mendapatkan Gerwyn bagaimana pun caranya." ucap Lisa.
__ADS_1