
"Humm kamu bisa saja, ya udah tidur yok, aku masih tetap kesekolah besok." ucap Hena. Vano menganguk. setelah mereka tidur bersama.
Namun kali ini Hena tidak menggunakan pembatas lagi di antara mereka, dia tidur di pelukan Vano. Tempat untuk istirahat bagi nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tertidur dengan sangat nyenyak. Sementara Vano belum bisa tidur.
Dia merapikan rambut Hena dengan baik. Dia menarik tangan nya yang sudah sangat keram karena di perbantal oleh Hena.
Namun ketika di tarik Hena bergeliat. Dia menahan tangan Vano.
Setelah Hena kembali nyenyak dia pun menarik tangan nya dengan cepat. "Sudah sangat kram sekali." ucap Vano.
Dia beranjak dari kasur membuka laptop nya. Seperti mengerjakan sesuatu.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Tinggal menunggu hari esok." ucap Vano. Dia menoleh ke arah Hena sambil tersenyum.
Keesokan harinya...
Pagi hari yang cerah Hena bangun. Dia merabah di samping nya ternyata sudah tidak ada Vano.
"Vano.." panggil Hena, dia melihat ke seluruh sudut kamar itu namun tidak ada siapapun. Dia duduk kebingungan mencari Vano.
Dia menelpon nomor Vano namun ternyata handphone nya ada di atas meja. "Kemana sih dia?" ucap Hena, dia turun dari kasur ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi dia melihat ke arah gorden yang belum di buka.
Hena membuka Gorden bagian balkon namun dia sangat kaget melihat ada balon di balkon itu. Dia keluar.
"Happy birthday.." Hena melihat kearah balon yang semakin banyak bertebaran. Dia mengambil salah satu yang dekat ke arah nya.
Ternyata ada tulisan. "Lihat lah ke bawah." tulisan di balon tersebut. Hena melihat ke bawah dan dia tambah terkejut melihat di bawah sudah di dekorasi secantik mungkin dengan foto nya dan nama nya yang terpampang jelas.
Semua orang di bawah memegang huruf masing-masing sehingga menjadi pengucapan selamat ulang tahun. Hena sangat terharu sehingga menutup mulutnya karena terkejut.
"Terimakasih semuanya." ucap Hena dari atas, namun mereka meminta Hena turun. "Tidak mungkin aku turun dengan pakaian seperti ini." batin Hena.
__ADS_1
Dia masuk ke dalam dan ternyata sudah ada gaun yang sangat cantik warna putih di atas kasur nya.
"Pasti ada seseorang yang mengantarkan ini ke sini." ucap nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia turun ke bawah. Dia mengucapkan terimakasih pada semua nya. Dia juga jadi malu.
"Dari tadi aku tidak melihat Vano, dia kemana yah." batin Hena celingak-celinguk.
"Kamu mencari aku?" ucap Vano. Hena berbalik. Dan ternyata Vano di belakang Hena.
"Vano. Kamu mengejutkan aku saja." ucap Hena. Vano tersenyum.
"Kamu suka?" ucap Vano. Hena menganguk. "Kamu merencanakan semuanya ini kan?" ucap Hena. Vano menganguk.
Vano memberikan Satu tangkai mawar pada Hena. "kok hanya satu?" tanya Hena.
"Saya merasa kalau satu jauh lebih romantis." ucap Vano. Hena tersenyum.
Hena melihat semua orang yang pada sibuk. "Hena." panggil Vano. Hena Menoleh ke arah Vano.
"Iyah ada apa?" tanya Vano. Dia lagi-lagi terkejut karena melihat Vano sudah berlutut di depan nya sambil memegang cincin.
"Terima-terima." semua orang bersorak meminta Hena mau.
"Tapi tunangan tidak bisa hanya sepihak seperti ini, orang tua kita belum tahu." ucap Hena. "Aku ingin membuktikan sama kamu kalau aku benar-benar serius sama kamu." ucap Vano.
"Terserah setelah ini kita bertunangan lagi tidak masalah, namun saya ingin mengikat kamu dengan cincin ini." ucap Vano.
"Sosweett banget sih..." Semua orang sangat iri karena ketulusan Vano. "Kamu mau kan berjuang bersama ku?" ucap Vano.
"Tapi aku rasa bukan sekarang waktunya, kita harus membicarakan kepada orang tua kita, aku tidak ingin mengecewakan kamu." ucap Hena.
"Aku hanya mau kamu menerima cincin ini, setelah kamu menerima ini aku akan sangat senang." ucap Vano.
"Terima...." Semua orang sudah bersorak.
"Kenapa kamu meminta ku di depan orang seperti ini? Aku sangat malu Vano." ucap Hena. Vano melihat ke sekeliling nya.
__ADS_1
"Biar semua orang tau kalau kamu milik ku, dan aku milikmu." ucap Vano. Hena semakin malu. "Kamu mau kan?" tanya Vano.
Hena terdiam sejenak. Dan akhirnya dia mengangguk. Vano sangat senang begitu juga orang yang menyaksikan itu.
Vano mengambil tangan Kiri Hena mau memasang kan cincin di jari manis Hena. Namun tiba-tiba seseorang menampar tangan Vano dan cincin itu jatuh entah kemana.
"Mamah." ucap Vano Terkejut. Dia datang bersama Enjelita yang mendorong kursi roda nya sampai ke dekat Vano dan Hena.
Semua orang sangat terkejut termasuk Hena yang sudah sangat takut sekali.
"Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan Dengan wanita murahan ini?" ucap mamah nya Vano sangat marah sekali.
"Kamu membuat keluarga malu saja." ucap Mamah nya.
"Mamah jangan salah paham dulu, aku akan menjelaskan semuanya mah." ucap Vano. "Tidak ada yang perlu di jelaskan. Mamah sudah melihat kamu melamar wanita pelakor ini, wanita murahan dan wanita yang tidak mempunyai rasa malu seperti ini."
Hati hena mendengar itu sangat sakit sekali. "Mah aku mohon dengerin aku dulu." ucap Vano.
Tiba-tiba Mamah nya mendorong Hena.
"Apa yang mamah lakukan?" ucap Vano membantu Hena berdiri..
"Kamu membela wanita ini? kamu membela dia yang sudah merebut papah kamu dari keluarga kita, menghancurkan rumah tangga mamah?"
"Bukan begitu mah, aku minta waktu mamah untuk mendengarkan penjelasan aku dengan Hena." ucap Vano.
"Mamah tidak pernah bersedia, mamah sangat jijik melihat wanita ini, dan bisa-bisa nya kamu berpacaran dengan dia sekarang?"
"Mamah tidak akan pernah setuju kamu dengan dia."
"Hena tidak seperti yang mamah pikir kan mah." ucap Vano.
"Guna-guna apa yang kamu lakukan kepada anak dan suami saya? Saya tidak kenal kamu, saya tidak mempunyai salah sama kamu, namun kenapa kamu merebut anak dan suami saya?" ucap Mamah nya Vano.
"Saya minta Maaf Bu." ucap Hena. "Saya sangat membenci kamu, saya berharap tidak pernah bertemu dengan kamu, namun ternyata berani-beraninya setelah suami saya yang kamu dekatin dan sekarang anak saya!" ucap Mamah Vano.
"Hena tidak salah mah," ucap Vano. "Jangan mencoba membela dia! Tinggal kan wanita ini, mamah kamu dekat-dekat dengan wanita ini lagi!"
__ADS_1
"Enggak bisa mah, aku mencintai Hena. Aku mohon dengar penjelasan kami dulu." ucap Vano. Namun tiba-tiba Mamah nya sesak nafas dan kejang-kejang.
"Mamah.. Mamah .." panggil Vano sangat khawatir. "Ini semua karena kamu dan wanita itu, Kalian sangat jahat!" ucap Enjel.