Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Episode 255


__ADS_3

"Hena tidak salah mah," ucap Vano. "Jangan mencoba membela dia! Tinggal kan wanita ini, mamah kamu dekat-dekat dengan wanita ini lagi!"


"Enggak bisa mah, aku mencintai Hena. Aku mohon dengar penjelasan kami dulu." ucap Vano. Namun tiba-tiba Mamah nya sesak nafas dan kejang-kejang.


"Mamah.. Mamah .." panggil Vano sangat khawatir. "Ini semua karena kamu dan wanita itu, Kalian sangat jahat!" ucap Enjel.


Vano sangat panik dia langsung membawa orang tua nya ke rumah sakit.


Hena, dan Juga Vano, serta Enjel menunggu di luar. Vano tidak bisa duduk tenang.


"Kamu duduk saja, Tante pasti baik-baik saja." ucap Enjel.


Vano menatap Enjel. "Kamu kan yang membawa Mamah ke apartemen ku?" tanya Vano. "Kenapa tiba-tiba kamu menuduh ku seperti ini?" ucap Enjel.


"Kamu tidak perlu berpura-pura tidak tau seperti itu. Kamu kan yang sengaja melakukan ini?" ucap Vano.


"Sudah jangan ribut, ayo fokus pada kesehatan Mamah kamu." ucap Hena menahan Vano.


"Kalau bukan karena kamu, Mamah tidak akan masuk rumah sakit seperti ini." ucap Vano. "Seharusnya kamu tidak menyalah kan aku seperti ini, justru aku tidak tau dari mana Tante tau, dia meminta ku untuk mengantarkan aku ke apartemen kamu. hanya itu saja." ucap Enjel.


"Kamu sengaja melakukan ini kan? Kamu jujur saja!" ucap Vano. "Untuk apa aku melakukan ini? Aku tidak ingin Tante sakit seperti ini." ucap Enjel.


"Sudah Vano jangan ribut di rumah sakit." ucap Hena.


"Seharusnya kamu yang sadar kalau ini semua karena kamu, sudah tau kalau Tante mengenal wanita ini, namun bisa-bisa nya kamu berhubungan dengan dia." ucap Enjel.


"Tidak ada urusan nya dengan kamu, tidak perlu kamu ikut campur!" ucap Vano. "Aku ikut campur karena aku perduli pada kamu dan juga Tante." ucap Enjel.


"Aku tidak mau kamu di permainan oleh wanita ini, Sama seperti yang di lakukan dia pada Om Davit." ucap Enjel.


"Hena tidak pernah mempermainkan Saya. Kamu tidak perlu menambah kata-kata, atau mengikut campuri semua nya!" ucap Om Davit yang baru saja datang.


"Hena adalah perempuan baik-baik, dia sudah saya anggap seperti Anak kandung saya sendiri." ucap Om Davit.


"Aku tidak mengerti cara berfikir Om dan Vano seperti apa sehingga mau bergaul dengan wanita seperti ini." ucap Enjel.


Namun tiba-tiba Dokter keluar. "Bagaimana keadaan Mamah saya Dok?" tanya Vano.

__ADS_1


"Semua nya baik-baik saja Pak, hanya saja Pasien sangat syok sehingga sesak nafas. Pasien harus banyak istirahat." ucap Dokter.


"Apa kami sudah boleh masuk?" tanya Vano.


"Lebih baik hanya dua orang saya yang masuk. Bergantian juga tidak masalah, tidak bisa ramai-ramai." ucap dokter.


Vano dan Enjel langsung masuk.


"Yang Sabar yah." ucap Om Davit pada Hena. "Om bagaimana bisa tau kalau istri Om di sini?" tanya Hena.


"Om tau dari orang suruhan om yang mengawasi Istri Om." ucap Om Davit.


"Maafin aku Om sebelum nya sudah membohongiku om tentang mengenai aku dengan Vano." ucap Hena.


"Awal nya Om sangat terkejut, om tidak tau bagaimana jalan nya tapi om mendukung hubungan Kalian." ucap Om Davit.


Hena tersenyum. "Terimakasih banyak yah Om." ucap Hena.


"Ma.., bagaimana keadaan mamah?" tanya Vano memegang tangan mamah nya.


Namun Mamah nya melepaskan tangan nya dari Vano. "Kamu tidak pernah memperdulikan perasaan Mamah, kamu tidak sayang sama Mamah, lebih baik kamu pergi dari sini." ucap Mamah nya.


"Kalau kamu mencintai mamah jauhi perempuan itu, Mamah tidak mau mempunyai calon menantu seperti dia." ucap Mamah nya.


"Hena adalah wanita yang baik mah, aku sangat mencintai dia." ucap Vano. "Seperti nya pikiran kamu sudah di cuci oleh wanita itu. Bisa-bisa nya wanita yang menjual diri dan juga berpacaran dengan om-om wanita baik?" ucap mamah nya.


"Tidak seperti itu mah." ucap Vano. "Jadi seperti apa? Menurut kami bagaimana? Apa itu Masih adalah wanita baik?" ucap Mamah nya.


"Keluar dari ruangan ini kalau kamu memilih wanita itu. Kalau kamu memilih Mamah dengerin kata-kata mamah. Tinggal kan wanita itu."


"Aku Tidak akan meninggal kan Hena, aku juga tidak akan meninggalkan Mamah, aku akan membuktikan sama mamah kalau Hena pantas menjadi menantu Mamah." ucap Vano.


"Keluar kamu dari sini!" ucap Mamah nya.


"Lebih baik kamu keluar No." ucap Enjel. "Kamu juga keluar Enjel. Tante ingin sendiri."


Enjel menganguk mereka pun keluar dari sana.

__ADS_1


"Kenapa keluar? Bagaimana keadaan Mamah!" tanya om Davit. "Tante ingin sendiri Om." ucap Enjel. Om Davit menghela nafas panjang.


"Ini semua salah papah, karena papah kamu dan Hena menanggung semua nya." ucap Om Davit. "Tentu ini semua karena kesalahan papah." ucap Vano.


"Jangan ribut di rumah sakit Vano, aku mohon." ucap Hena. "Kalau bukan karena papah, mungkin mamah tidak akan seperti ini." ucap Vano lagi.


"Papah minta maaf, Papah akan mencoba memperbaiki semua nya." ucap Om Davit.


Vano Menghela nafas panjang dan duduk di samping Hena. Dia bersandar di pundak Hena.


Enjel melihat itu. "Tidak biasa nya Vano terlihat nyaman seperti itu ketika bersama wanita." batin Enjel.


Di tempat lain Gerwyn baru saja pulang mengantarkan Ano ke sekolah. "Kalau kamu sudah selesai siap-siap lebih baik kita langsung berangkat ke rumah sakit. Kita sarapan di luar saja." ucap Gerwyn pada Sophia sambil membuka pintu.


Namun dia terkejut melihat Sophia Masih berbaring.


"Huff Kenapa belum siap-siap?" tanya Gerwyn ketika Sophia menoleh ke arah nya.


"Aku malas banget mas, aku bahkan tidak berselera mau ngapain aja." ucap Sophia.


"Tidak ada alasan, ayo saya bantu ke kamar mandi." ucap Gerwyn langsung menggendong Badan Sophia ke kamar mandi.


"Buruan." ucap Gerwyn. "Humm.." Jawab Sophia. Gerwyn menunggu di luar.


Tidak beberapa lama Sophia keluar dari kamar mandi dia langsung mencari pakaian untuk nya.


"Kamu seperti ini saja?" tanya Gerwyn. "Humm apa yang salah?" tanya Sophia.


"Kamu sangat pucat sekali." ucap Gerwyn mengambil Lipstik dan membuat ke bibir Sophia.


Dia juga mengambil syal untuk istri nya.


"Kalau begitu kita berangkat. Kamu sudah siap kan?" ucap Gerwyn. Sophia menganguk.


"Aku yakin kalau aku tidak hamil." ucap Sophia sambil berjalan turun ke lantai bawah..


"Hamil atau tidak saya tidak mempermasalahkan itu, saya sangat khawatir karena kamu sangat lemas dan pusing seperti ini." ucap Gerwyn.

__ADS_1


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah sakit.


"Kita pulang saja yah mas, aku takut di suntik kalau aku benar-benar sakit." ucap Sophia.


__ADS_2