
"Gerwyn lihat istri Loe datang," ucap Bibi. Gerwyn menoleh ke arah mamah dan juga istri nya.
"Nanti saja kita lanjutkan." ucap Gerwyn. Vano menganguk dia langsung menyudahi penjelasan nya. Sophia mendekati Gerwyn dan memeluk nya.
"Kenapa kamu baru datang? Saya sangat merindukan kamu, saya juga mengkhawatirkan kamu." ucap Gerwyn.
"Aku istirahat di rumah mas." ucap Sophia.
Memeluk Gerwyn begitu hangat. "Maafin aku yah mas baru bisa datang." ucap Sophia. Gerwyn menganguk sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu saya dengan Hena akan pulang pak." ucap Vano. "Kenapa begitu cepat? aku baru saja sampai." ucap Sophia pada Vano.
"Aku juga Masih merindukan Hena." ucap Sophia.
"Biar kan saja Sophia. Mereka sudah lama di sini." ucap Gerwyn. Sophia akhirnya mengijinkan mereka pergi.
Sophia menoleh ke arah Bibi. "Sebaiknya aku juga pulang." ucap Bibi. Gerwyn menghela nafas panjang. "Seperti nya kak Bibi masih marah yah kepada ku." ucap Sophia pada suami nya. Gerwyn Menggeleng kan kepala nya.
"Sudah tidak perlu di pikirkan." ucap Gerwyn.
"Malam ini aku yang akan menjaga Mas Gerwyn di sini mah, Mamah istirahat saja yah." ucap Sophia.
"kamu yakin? Kamu sedang hamil jadi harus banyak istirahat." ucap Bu Linda. "Mamah jangan khawatir." ucap Sophia.
"Baiklah kalau begitu Nak. Mamah pulang dulu yah." ucap Bu Linda. Sophia dan Gerwyn menganguk. Setelah Bu Linda pergi Sophia duduk di kursi di samping tempat tidur suami nya.
"Mas aku minta maaf, aku minta maaf aku sangat menyesali perbuatan ku sendiri, aku sangat minta maaf." ucap Sophia.
"Semua nya sudah berlalu, lupakan saja, buat itu sebagai pelajaran untuk kedepannya." ucap Gerwyn. Sophia tersenyum sambil mengangguk.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Ini semua sudah ditakdirkan seperti ini." ucap Gerwyn. "Kalau kamu tidak selamat aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri mas, aku selalu kefikiran." ucap Sophia.
"Sssttt... Tidak perlu berfikir yang tidak-tidak!" ucap Gerwyn. Sophia mengerti dan menganguk.
"Aku tidak tega melihat mas tidur di rumah sakit seperti ini..Dan luka ini membuat ku tidak bisa melupakan kejadian itu!" ucap Sophia.
"Sudah-sudah! Jangan membahas nya lagi." ucap Gerwyn.
__ADS_1
Gerwyn mengelus perut Sophia. "Kamu pasti sering sakit, sekarang bagaimana keadaan kamu?" tanya Gerwyn.
"Seperti yang Kamu lihat mas, kepala ku lebih sering pusing, aku juga tidak berselera untuk makan. Aku tidak tau kenapa." ucap Sophia.
"Itu adalah efek mengandung sayang.." ucap Gerwyn. "Nanti kalau aku perpisahan aku takut gak bisa ikut Mas." ucap Sophia.
"Kalau tidak bisa jangan di paksain." ucap Gerwyn.
"Aku masih pengen ikut Mas. Aku sangat ingin berkumpul untuk terakhir kalinya sama teman-teman ku." ucap Sophia.
"Kalau begitu kamu harus menjaga kesehatan kamu dengan baik, saya mengkhawatirkan kamu." ucap Gerwyn. "Iyah mas." ucap Sophia.
"Oh iya saya mendengar kamu pergi ke kantor Polisi melihat kakak dan juga ayah kamu." ucap Gerwyn. Sophia menganguk.
"Aku Hanya mengantarkan makanan mas." ucap Sophia. Gerwyn terdiam sejenak.
"Apa kamu baik-baik saja setelah pulang dari sana?" tanya Gerwyn. Sophia menganguk sambil tersenyum.
"Aku sangat merindukan ayah ku mas, melihat nya dengan sangat dekat sudah membuat Rindu ku terobati." ucap Sophia.
"Bagus lah kalau kamu baik-baik saja, apapun yang terjadi kamu harus mengatakan nya kepada saya, jangan mencoba menyembunyikan nya."' ucap Gerwyn. Sophia tersenyum.
"Loh bukannya kamu tadi sebelum ke rumah sakit udah makan?" tanya Hena.
"Udah sih tapi masih lapar." ucap Vano.
"Aku hanya memiliki mie dan juga telor, memang nya kamu mau?" tanya Hena.
"Mau," ucap Vano. "Ya udah kalau begitu ayo." ucap Hena, Tampa merasa curiga dia membawa Vano masuk ke apartemen nya. Namun tiba-tiba Vano mengunci pintu dan mengantongi kunci nya.
"Kamu jangan aneh-aneh!" ucap Hena pada Vano.
"Aku hanya lapar, buruan masak." ucap Vano.
Hena menganguk dia segera ke dapur tidak lupa menukar pakaian nya jadi pakaian yang sedikit longgar agar lebih leluasa bergerak.
Vano mendekati Hena yang sedang mengiris bawang.
__ADS_1
"Aku akan membantu kamu." ucap Vano berdiri di belakang Hena dan memeluk nya membuat Hena terkejut.
"Kamu hanya membuat ku tidak nyaman kalau seperti ini. Aku bisa melakukan nya sendiri." ucap Hena. "Saya akan membantu." ucap Vano kekeh tetap memegang tangan Hena.
"Apa sih yang sedang kamu lakukan?" ucap Hena kesal karena Vano to biasa nya seperti itu.
"Saya tidak melakukan apa, aku sudah sangat lapar, aku membantu kamu agar cepat masak." ucap Vano.
"Kamu membuat ku lebih Lama kalau seperti ini." ucap Hena. Vano tersenyum.
"Aku hanya membantu. Sudah lanjut saja masak." ucap Vano. Dia tidak melepaskan Hena selama memasak sehingga hena Sadar kalau Vano lagi terangsang.
"Menjauh dari ku." ucap Hena setelah merasakan nafas Vano di lehernya, dan juga benda keras di bagian bawah nya Vano tersentuh pinggang nya.
"Kenapa sayang?" tanya Vano. "Kamu jangan aneh-aneh yah!" ancam Hena. Vano tersenyum.
"Baiklah aku akan menunggu di meja. " ucap nya dan duduk di meja makan. Matanya tidak berhenti menatap Hena.
Celana pendek dan juga kaus oblong yang di pakai oleh Hena membuat nya semakin bernafsu.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak bisa mengontrol diri seperti ini?" ucap Vano.
"ini mie nya, kamu Makan dulu, aku akan mandi sebentar." ucap Hena, Vano hanya diam. Hena masuk ke kamar namun dia terkejut karena tiba-tiba Vano datang dan membaringkan nya di kasur.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Hena. "Apa kamu tidak mengerti yang aku maksud?" ucap Vano. Hena menatap nya bingung. Wajah nya sudah merah dan keringatan.
"Aku sudah menyiapkan mie yang kamu mau, karena kamu lapar." ucap Hena.
"Saya lapar bukan berarti ingin mengisi perut, saya lapar ingin memakan kamu." ucap vano, Hena membulat kan mata nya.
"Dari awal kita sudah sepakat tidak akan seperti ini, kenapa kamu tiba-tiba jadi seperti ini?" ucap Hena. Dia mendorong Vano.
"Saya mohon. Seperti nya saya salah Makan." ucap Vano.
"Salah Makan?" ucap Hena, Vano menganguk.
"Jangan bilang minuman yang di berikan Kak Bibi Sama kamu tadi?" ucap Hena karena gerak-gerik Bibi mencuriga kan pas mengambar minuman dari luar.
__ADS_1
"Huff seperti nya pak Bibi sengaja." ucap Vano. Vano juga baru ingat dan sadar itu adalah perbuatan Bibi.