
"Aku Sudah ke sana namun kata nya dia sudah pindah." ucap Riki. "Pindah." ucap Sophia kaget.
Dia tidak bisa membiarkan suami nya Terus mengganggu dia menutup lauspeker ponsel nya.
"Tunggu dulu mas." ucap Sophia. Gerwyn hanya bisa memasang wajah sok polos nya, namun setelah Sophia kembali menelpon dia mengganggu lagi.
"Kalau Hena pindah dia pasti bilang ke aku, tapi kenapa dia tidak bilang apa-apa yah." ucap Sophia Heran.
"Nah itu dia Sophia, aku juga heran." ucap Riki.
"Ya sudah kalau begitu aku akan mencari dia Besok. Ini sudah malam aku sangat mengantuk." ucap Sophia.
"Oke baiklah. maaf sudah mengganggu waktu kamu." ucap Riki.
"Aku sudah bilang untuk tunggu sebentar." ucap Sophia dengan kesal pada Gerwyn yang tidak berhenti meminta perhatian Sophia.
Gerwyn menatap wajah Sophia.
"Kenapa kamu harus marah? apa pria itu lebih penting sekarang?" tanya Gerwyn.
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku bingung kenapa Hena pindah namun tidak bilang apa-apa sama aku." ucap Sophia.
"Mungkin dia membutuhkan waktu untuk bilang sama kamu." ucap Gerwyn.
"Bukan begitu mas, aku merasa tidak ada yang beres pada nya." ucap Sophia.
"Ayo lah Sophia berhenti memikirkan orang lain, saya sudah menunggu Seharian." ucap Gerwyn.
Sophia menatap wajah Gerwyn.
"Tapi mas." ucap Sophia namun Gerwyn menutup mulut Sophia.
"Saya sangat tidak suka ketika bersama saya kamu masih membahas yang tidak seharusnya di bahas. Jangan memikirkan orang lain ketika bersama saya." ucap Gerwyn.
Sophia menghela nafas panjang.
"Aku minta maaf. Tapi aku harus mencari tahu di mana Hena, aku bisa bertanya pada Om Davit." ucap Sophia.
Tiba-tiba Gerwyn mengambilnya ponsel Sophia.
"Saya ada di sini," ucap Gerwyn lagi. "Aku khawatir sama Hena mas." ucap Sophia langsung mengambilnya ponsel nya dari tangan Gerwyn.
Sophia mencari nomor om Davit yang kebetulan dia simpan.
__ADS_1
Gerwyn melihat Sophia fokus pada ponsel nya membuat nya menghela nafas panjang. Dia memasang wajah datar mencoba untuk sabar menunggu Sophia namun sudah sangat lama Sophia tidak kunjung mematikan ponsel nya.
"Kenapa gak di angkat sih sama om Davit?" ucap Sophia.
Dia mencoba lagi namun tidak di jawab.
"Seperti nya dia sudah tidur, Besok aja lah, teman-teman Hena juga belum ada yang membalas pesan ku." ucap nya.
Dia mematikan ponsel nya karena sudah jam 12 malam. Dia menoleh ke arah Gerwyn yang membelakangi nya dan mengatur jarak dengan Sophia.
"Kamu sudah tidur mas?" ucap Sophia memeluk Gerwyn namun Gerwyn tidak menjawab. Sophia memeluk Gerwyn dari belakang.
Keesokan harinya...
"Hoammm...." Sophia bergeliat dia melihat ke samping nya sudah tidak ada suami nya.
Dia melihat jam ternyata sudah jam sepuluh pagi.
"Kenapa aku bisa telat bangun sih? Ya ampun." icy Sophia dia langsung bangun mau menyiapkan baju suami nya terlebih dahulu namun dia melihat tas kerja Gerwyn sudah tidak ada.
"Apa dia sudah pergi bekerja?" tanya Sophia. Dia turun ke bawah.
"Akhirnya kamu bangun juga Sophia. Kamu kelihatan nya sangat kelelahan kamu dari mana saja tadi malam?" tanya Bu Linda.
"Sudah nak. Apa dia tidak ijin dulu sama kamu?" tanya Bu Linda. Sophia diam.
"Ano tidak mau sarapan karena bukan kamu yang Masak." ucap Bu Linda. Sophia merasa malu sekali karena tidak bangun pagi.
"Lalu apa Mas Gerwyn juga tidak mau Makan?" tanya Sophia.
"Gak tau kenapa wajah nya terlihat sangat murung, bahkan dia tidak banyak berbicara seperti biasa, dia terlihat seperti marah namun sudah lah mungkin dia sedang ada masalah, Dulu bahkan lebih parah. Ada masalah atau tidak dia tidak Akan pernah tersenyum." ucap Bu Linda.
Sophia menghela nafas panjang.
"Ya Allah kenapa aku ceroboh sekali sih, aku sangat malu." batin Sophia. Kalau bisa menghilang dia akan menghilang saja.
"Ya udah kalau begitu kamu mandi gih, lihat tuh penampilan kamu berantakan banget." ucap Bu Linda. Sophia baru saja ternyata rambut nya seperti singa, baju nya keriput.
"Mamah mau kemana? Apa mau aku temenin?" tanya Sophia melihat tidak biasa nya Mamah mertua nya rapi.
"kamu di rumah aja istirahat, kamu juga pasti Lelah belajar dan baru saja ujian. Mamah hanya ingin jalan-jalan saja." ucap Bu Linda.
Sophia terdiam.
__ADS_1
"Ya udah mamah berangkat. Assalamualaikum." Bu Linda pun meninggalkan Sophia.
"Walaikumsalam." ucap Sophia dia duduk di sofa sambil memegang kepala nya.
Dia mengingat kejadian tadi malam.
"Pasti mas Gerwyn marah soal itu. Ya ampun..." dia jadi bingung harus berbuat apa.
"Aku harus segera siap-siap ." ucap nya dia pun langsung masuk ke kamar setelah rapi dan juga cantik dia keluar dari kamar.
"Non Sophia mau kemana?" tanya Bibik.
"Saya ada urusan di luar. Nanti kalau Ano sudah pulang tolong bilang saya Akan pulang terlambat." ucap Sophia.
Dia meninggal kan rumah itu. Dia menuju ke rumah sahabat nya. Sampai dia sana dia kaget melihat rumah itu tidak ada orang lagi.
"Permisi pak, sebelum nya yang menempati rumah ini kemana yah?" tanya Sophia pada pak security.
"Oohh mbak Hena seperti nya sudah pindah ke kontrakan." ucap Security.
"Kenapa bisa pindah?" tanya Sophia.
"Saya juga tidak tau pasti mbak, soalnya dia hanya meminta saya untuk menjaga rumah ini." ucap Security lagi.
"Apa Bapak tau di Mana dia mengontrak rumah?" tanya Sophia lagi.
Security tidak tau karena Hena merahasiakan nya.
"Ya udah kalau begitu terimakasih banyak yah Pak. Saya permisi Dulu." ucap Sophia.
Di tempat lain Om Davit berdiri di depan pintu gerbang dia melihat istrinya yang sedang berjemur menikmati panas matahari pagi bersama Suster yang menjaganya.
"Apa dia masih mau memaafkan ku? Apa dia masih mau menerima ku?" ucap Om Davit. Tiba-tiba ponsel nya ada yang menelpon dari wanita simpanan nya.
Dia langsung menolak panggilan itu. Dia bahkan mengirimkan pesan kalau dia ingin mengakhiri hubungan, bahkan tidak menghiraukan permintaan wanita itu menginginkan barang mewah.
Om Davit melihat wajah istri nya membuat nya sangat sedih. Namun tiba-tiba Ada mobil yang datang yang dia tau pasti itu adalah mobil Anak nya Vano.
Dia masuk ke dalam mobil nya.
Dari jauh dia melihat Vano turun dari mobil itu namun di bantu oleh beberapa orang. Dan dia masih memakai baju rumah sakit dan juga banyak perban di badan nya.
"Ada apa dengan Vano?"ucap Om Davit.
__ADS_1