
"Huff kamu sangat mudah terpengaruh hanya karena perhatian sedikit saja." ucap Hena.
"Bukan seperti itu Hena, mau bagaimana pun aku tidak mungkin membiarkan pak Gerwyn, dia adalah suami aku." ucap Sophia.
Hena menghela nafas panjang.
"Aku sangat kesal dengan tanggapan kamu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi kan saran atau dukungan sama kamu. Tapi tetap saja aku tidak setuju kamu mengeluarkan dia dari penjara." ucap Hena.
Sophia memegang tangan Hena.
"Berikan aku saran dong, aku hanya punya kamu saat ini tempat untuk bertukar pikiran. Aku bingung." ucap Sophia.
"Buat sekarang lebih baik kita jangan membahas nya dulu, aku akan membantu menukar perban di tangan kamu, kalau yang di kepala Besok kamu harus kontrol dulu." ucap Hena.
Sophia mengangguk.
"Malam ini kamu tidur di sini aja yah. Aku takut kefikiran terus dan tidak bisa tidur." ucap Sophia. Hena mengangguk.
"Tapi aku harus memakai baju kamu, aku tidak membawa pakaian sama sekali." ucap Hena.
Sophia melihat pakaian Hena yang sangat Seksi.
"Huff bagaimana tanggapan mertua ku kalau mempunyai teman seperti kamu? Melihat pakaian kamu saja dia pasti sudah berfikir yang tidak-tidak." ucap Sophia.
Hena terkekeh.
"Aku tidak tau kalau ada mertua kamu, kamu seharusnya memberi tahu aku, dan aku mencari pakaian yang sopan." ucap Hena.
Sambil membahas tentang mereka Hena juga Menganti perban Sophia.
Keesokan harinya kebetulan hari Sabtu Hena libur dia mengantar kan Sophia kontrol ke rumah sakit, sementara Ano dengan buk Linda di rumah.
"Buk lihat lukisan ku." ucap Ano pada buk Linda.
"Sini biar ibu lihat." ucap buk Linda.
Ano melukis sebuah rumah yang terlihat sangat besar.
"Rumah? Apa ini rumah lama Ano?" tanya buk Linda.
Ano menggeleng kan kepala nya.
"Bukan Buk, ini adalah rumah impian aku untuk mbak Sophia. Aku akan membeli rumah seperti ini agar kami berdua tinggal dengan tenang tampa ada yang ganggu." ucap Ano.
Buk Linda kebingungan. "Dan yang satu nya apa?"
"Ini adalah cita-cita Ku suatu saat nanti." ucap Ano.
__ADS_1
"Ini apa?" tanya buk Linda karena kurang paham.
"Ini adalah seorang jaksa. Dia mampu menegakkan kebenaran membuat keputusan dan sangat tegas. Aku ingin seperti itu agar bisa melindungi mbak Sophia." ucap Ano.
"Apa Semua nya Ano lakukan untuk Mbak Sophia!" Ano mengangguk.
"Karena mbak Sophia juga aku bisa menyelesaikan sekolah SD." ucap Ano. Buk Linda jadi semakin penasaran kenapa identitas Sophia semakin tidak jelas.
Buk Linda ingin bertanya tentang orang tua Sophia namun takut kalau Ano Akan berfikiran lain, akhirnya dia memilih untuk diam saja.
"Menurut ibu aku cocok jadi apa?" tanya Ano.
"Loh kata nya mau jadi Jaksa, kok malah nanya lagi? Itu sudah sangat Cocok untuk kamu, Ibu sangat mendukung nya karena suatu saat nanti orang yang bersalah harus di berikan hukuman yang setimpal." ucap Buk Linda.
Ano tersenyum.
"Di sisi lain Ibu juga ingin kamu menjadi Dokter muda yang sangat pintar, bisa menolong siapa saja." ucap buk Linda. Ano tersenyum.
"Mbak Sophia juga ingin seperti itu buk, tapi tidak apa-apa dia akan mencari suami dokter." ucap Ano.
Buk Linda terdiam.
"Apa kamu tidak setuju Mbak Sophia dengan kak Gerwyn?"
"Kak Gerwyn awalnya baik, tapi dia sangat jahat sama mbak Sophia, aku tidak suka itu." ucap Ano.
"Hena kamu sudah punya pacar yah? Kenapa kamu dari tadi sibuk Sama handphone sih? Aku kamu abaikan." ucap Sophia.
Hena mematikan handphone nya.
"Adik ku meminta ku untuk pulang karena Ibu dan ayah ingin bertemu dengan ku." ucap Hena.
"Yahh terus kalau kamu pulang, yang nemanin aku Siapa?" tanya Sophia.
"Hanya sebentar saja, setelah ibu aku sehat lagi aku akan pulang." ucap Hena.
Sophia menghela nafas panjang sambil memasang wajah cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong, kan masih ada Adit. Dia bilang mau kok nemanin kamu." ucap Hena.
"Aku sih gak masalah, tapi aku menghargai mertua aku Hen, bagaimana kalau dia tau aku mempunyai pacar." ucap Sophia.
"Kamu ribet banget sih Hen, suami kamu saja mempunyai pacar, justru menjadi kan kamu istri pura-pura nya agar bisa menutupi semua kebusukan nya?" ucap Hena.
"Atas nama Sophia!" Ucap perawat.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Sophia kaget karena melihat wajah dokter itu.
"Duduk Sophia! Kenapa kamu malah melamum seperti itu?" tanya Hena. Sophia langsung sadar dan berbaring agar bisa di periksa.
"Kalau begitu saya tunggu di luar yah dok." ucap Hena.
"Kenapa wajah nya tidak asing yah, aku seperti melihat wajah nya." batin Sophia.
"Perban kepalanya akan diganti yah," ucap dokter itu, Sophia hanya mengangguk.
Tidak beberapa lama setelah selesai di ganti.
"Semua nya sudah mulai membaik, apa ada keluhan lain?" tanya dokter, Sophia menjelaskan semuanya, Obat pun di berikan.
Waktu mau membayar ternyata sudah di bayar.
"Sophia dan hena kaget siapa yang membayar. Namun tidak mau ambil pusing karena itu pasti Gerwyn akhirnya mereka pulang.
Sebelum pulang Sophia dan Hena singgah dulu di tempat teman nya, tempat yang biasa Ano di titipkan.
Cukup lama mereka di sana, Sophia dan Hena pulang.
"Aku sudah sangat bosan di rumah saja, kapan yah aku bisa lanjut magang, aku takut nilai aku gak bagus." ucap Sophia.
"Kamu jangan khawatir karena atasan pasti mengerti dan tentunya ada toleransi dari mereka." ucap Hena.
Sophia mengangguk paham.
Setelah mengantar kan Sophia pulang Hena pun kembali pulang ke Kost nya, dia harus siap-siap untuk pulang kampung.
Sudah lama dia tidak pulang kampung, akhirnya ada kesempatan, dia Ijin dua hari pada atasan nya.
Di malam hari nya Sophia duduk sendirian di teras rumah, buk Linda datang dan duduk di samping Sophia.
"Apa kata dokter tentang perkembangan kesehatan kamu?" tanya buk Linda.
"Eh Tante, buat kaget saja."
"Lagi ngelamun nin apa? Kangen Gerwyn yah?" Sophia tertawa kecil saja.
"Kata dokter semua nya sudah membaik, kontrol sekali lagi aku sudah bisa sembuh." ucap Sophia.
"Bagus lah kalau begitu. Tante juga senang mendengar nya." ucap Buk Linda.
"Tante dari mana? Kok kelihatan nya rapi." ucap Sophia karena dari tadi memang tidak melihat buk Linda.
"Oohh Tante habis pulang dari kantor polisi memeriksa keadaan suami kamu yang demam karena tidak mau makan sama sekali." ucap buk Linda. Sophia mendengar itu seketika terdiam.
__ADS_1