Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Okta kembali ke Indonesia


__ADS_3

"Ini adalah umur Tante yang ke 60 tahun, sudah Tua Tante tapi tidak juga di berikan menantu perempuan yang mau hidup dengan Tante di sisa umur Tante." ucap Mamah nya Frans.


"Loh kenapa Tante berbicara seperti itu? Bukan nya Tante sudah mempunyai menantu Ibu nya Enjelita?" ucap Sophia.


"Tuhan lebih sayang pada nya sehingga cepat mengambil nya. Rumah ini sudah lama tidak di sentuh oleh Seorang menantu, jadi Tante sangat berharap Frans cepat menikah."


Sophia menoleh ke arah Frans yang berbicara dengan kakak nya di Meja makan.


"Ini Kak Frans yah Tante?" tanya Sophia melihat foto anak laki-laki yang terpajang di dinding.


"Iyah, siapa sangka dia bisa tumbuh menjadi sangat tampan sekarang." Sophia Mueller Tersenyum.


"Ya udah makan dulu yok, Tante tadi Masak Banyak."


Mereka pun Makan bersama. Setelah selesai makan Sophia membantu membersihkan Meja makan.


"Tante aku harus Cepat pulang, kasihan Ano tidak ada yang jemput dari sekolah." ucap Sophia.


"Sekalian saja dengan Supir yang menjemput Enjelita," ucap Kakak laki-laki Nya Frans.


"Gak usah Kak, lagian saya juga harus cepat pulang." ucap Sophia. "Kenapa buru-buru sih Sophia? Kamu gak Betah yah di rumah Tante?"


Sophia seketika terdiam, dia melihat ke arah Frans namun Frans Seperti tidak perduli. "Duduk kah beberapa jam lagi, biar saja Ano di bawa ke sini." ucap Mamah nya Frans.


Sophia tidak enak karena sudah orang tua akhirnya dia pun mau.


Di tempat lain.


"Ano tadi Mbak Sophia bilang kamu pulang Bareng supir nya Enjel yah, mbak Sophia lagi di rumah Enjel sekarang." ucap buk Ena.


Ano melihat Enjel yang baru saja keluar.


"Tapi buk."


"Sudah tidak apa-apa. Kalian tidak boleh bertengkar terus, ayo ibu antar ke mobil." ucap buk Ena. Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sama.


"Gak apa-apa kan aku numpang? Aku tidak Akan mengganggu kamu kok." ucap Ano. Enjel menoleh ke arah Ano tiba-tiba menawarkan minuman.


"Minum saja." ucap Enjel. "Terimakasih." ucap Ano menerima nya.


"Tumben sekali akhir-akhir ini kamu tidak mengganggu aku, pasti di bilangin sama Om Frans kan?" ucap Enjel, Ano dengan polos nya mengangguk.


"Aku suka sama kamu, aku mau berteman namun kamu tidak mau, kata om Frans seseorang gak bisa di paksa akhirnya aku tidak mau mengganggu kamu lagi." ucap Ano.

__ADS_1


Enjel Menghela nafas panjang.


"Aku minta maaf kalau sudah membuat kamu tidak nyaman." ucap Ano.


"Sebenarnya aku sangat ingin berteman dengan kamu, selain kamu pintar aku juga ingin belajar melukis sama kamu." ucap Ano.


"Aku tidak pandai melukis, justru aku yang harus belajar melukis sama kamu." ucap Enjel.


"Kalau begitu ayo belajar melukis sama-sama lain kali." ucap Ano.


"Siapa bilang aku mau melukis bareng kamu." ucap Enjel. Ano langsung diam.


"Tapi aku mau lomba melukis sama kamu." ucap Enjel. Ano tersenyum. "Jadi sekarang kita temenan?" tanya Ano. Enjel mengangguk.


"Kalau di pikir-pikir kamu juga baik, semua yang membuly aku bukan karena kamu. aku minta maaf." ucap Enjel. Ano mengangguk sambil tersenyum.


Mereka berdua jadi akur setelah satu mobil.


Gerwyn di Kantor nya. Tepat jam tiga Sore Bibi mendatangi nya ke kantor.


"Bro apa kabar?" tanya Bibi. "Seperti yang kamu lihat baik-baik saja." ucap Bibi.


Bibi duduk di depan Gerwyn.


"Aku ada kabar untuk kamu." ucap Bibi.


Bibi menghela nafas panjang.


"Belum juga selesai ngomong. Dengerin dulu." ucap Bibi.


Gerwyn diam.


"Okta kembali ke Indonesia sendiri tanpa suami nya." ucap Bibi. Gerwyn terdiam. "Yang serius Bi!" ucap Gerwyn.


"Bercanda!" ucap bibi seketika Gerwyn mau menghajar Bibi.


"Dia memang pulang ke Indonesia tapi sama suami nya, dan di kabar kan sekarang dia hamil beberapa Minggu." ucap Bibi. Gerwyn langsung diam.


"Tumben banget ekspresi loe biasa saja? Apa jangan-jangan sudah move on yah? Dan tadi gua denger loe bilang istri Loe marah? Sudah takut istri nih sekarang." ucap Bibi.


"Kamu harus tau sekarang aku dengan Sophia baikan." ucap Gerwyn dengan senang memberi tahu Bibi.


"Huff Aku ketinggalan deh." ucap Bibi.

__ADS_1


"Pantesan saja kamu sudah lama tidak terdengar ikut gabung di tongkrongan kita, ternyata sudah punya mainan baru!" ucap Bibi.


Gerwyn langsung memukul kepala Bibi.


"Jangan berbicara sembarangan yah! Istri ku bukan mainan." ucap Gerwyn.


"Ya ampun segitu nya banget, Iyah aku tau, aku hanya bercanda." ucap Bibi.


"Terus apa kamu sudah unboxing pertahanan istri kamu? Aku yakin sih itu sangat enak dan juga sangat hot." ucap Bibi.


Gerwyn semakin marah ketika Bibi membayang kan istri nya.


"Dasar sialan loe yah, keluar dari ruangan ku." ucap Gerwyn. Bibi tertawa.


"Aku hanya bercanda. Aku ke sini mau ngasih undangan kakak aku lahiran. Jadi mereka berharap kamu bisa datang." ucap Bibi.


"Kapan acara nya?" tanya Gerwyn. "Besok." ucap Bibi.


"Wahh kamu sudah mempunyai keponakan saja." ucap Gerwyn. Bibi tersenyum.


"Kamu sendiri kapan mau punya anak? Aku sangat tidak sabar melihat betapa ganteng nya anak Kalian nanti."' ucap Bibi.


"Berhenti mengangumi istri ku, banyak wanita lain yang akan kamu bahas." ucap Gerwyn melempar Bibi dengan kertas.


Bibi tertawa dia tidak berhenti membuat Gerwyn cemburu.


"Maaf-maaf." Ucap Bibi.


"Aku sudah tidak Mood untuk bekerja, ayo minum Kopi di bawah." ajak Gerwyn.


Bibi mengikuti Gerwyn Keluar.


"Haii cantik. Boleh kenalan?" tanya Bibi pada staf yang kebetulan berpasangan dengan mereka.


Siapa yang coba yang tidak suka pada Bibi, wanita itu menjawab nya dengan baik dan juga memberikan nomor telepon. Gerwyn melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Teman nya itu.


"Oh iya bro akhir-akhir ini gua lihat loe jarang keluar. Kemana saja? Apa sangat betah di rumah saja bersama istri mu?" tanya Bibi.


"Aku Dari rumah paman dan Bibik ku, mereka yang merawat Mamah di sana, jadi aku ke sana untuk membantu mengantar kan mamah terapi." ucap Gerwyn.


"Sudah sangat lama papah loe meninggal namun tetap saja Tante Linda sakit. Sungguh sangat jagat orang yang membunuh Om." ucap Bibi.


Gerwyn terdiam seketika dia kembali mengingat dendam nya pada keluarga Sophia.

__ADS_1


"Sudah jangan membahas itu lagi, kamu sengaja membuat aku emosi saja." ucap Gerwyn.


"Aku tidak biasa melihat wajah Sabar dan sifat kamu yang sekarang, seperti nya Sophia benar-benar bisa mengubah seorang Gerwyn yang terkenal sangat pemarah, tegas dan juga tiada ampun bisa berbicara dengan tenang." ucap Bibi.


__ADS_2