
"Maafin aku yah om sudah menghindari Om, aku hanya ingin yang terbaik untuk hubungan Om dengan keluarga." ucap Hena.
Mami tersenyum dia pun mengambil foto mereka.
"Akhirnya mereka bertemu setelah beberapa lama." Mami membuat postingan di IG nya.
Kebetulan Vano tengah memeriksa Ig nya, namun dia terkejut sekali melihat Postingan Ig Mami itu.
"Hena!" ucap nya. Dia mengambil kunci mobil dan juga Jaket segera menemui Hena. Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai.
Ia masuk Vano melihat Papah nya yang tengah memegang tangan Hena. "Apa yang kamu lakukan di sini Hena?" tanya Vano. Hena Terkejut sekali.
Dia melepaskan pegangan tangan Om Davit dan langsung berdiri. "Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Hena.
"Pulang!" ucap Vano. Hena memegang tangan Vano yang terlihat sudah sangat marah.
"Kamu mau membawa kemana Hena?" tanya Om Davit.
Vano tidak menjawab. "Tunggu dulu Vano, Papah mau berbicara dengan kamu." ucap Om Davit.
"Maaf Pah aku tidak bisa." ucap Vano menarik tangan Hena keluar. Om Davit terdiam.
"Ada apa dengan mereka om?" tanya mami. Om Davit Menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak tau. Tidak biasa nya Vano semarah itu melihat saya bersama Hena, dan dia membawa Hena pergi." ucap Om Davit.
"Sudah lah Om tidak perlu di pikirkan, minum saja agar lebih rileks." ucap Mami. Vano dan Hena masuk ke dalam mobil.
"Sakit Vano!" ucap Hena.
"Ngapain kamu ke sini? Kamu ngapain bertemu dengan papah?" tanya Vano. "Aku tidak sengaja bertemu dengan Om Davit." ucap Hena.
"Tidak sengaja? Jelas-jelas aku melihat kamu sangat romantis dengan Papah." ucap Vano. "Jangan salah paham dulu." ucap Hena.
"Kamu Ijin keluar dengan teman-teman kamu, namun ternyata kamu ke Club ini, aku tidak suka kamu kembali ke sini." ucap Vano.
__ADS_1
"Aku minta Vano. Aku hanya ingin menenangkan Fikiran ke sini." ucap Hena. "Menenangkan Fikiran atau mencari pria yang bisa tidur dengan kamu?" ucap Vano.
Hena terdiam langsung dia menatap wajah Vano.. Hati nya begitu sakit mendengar kata-kata Vano. "Aku minta maaf kalau aku membuat kamu marah, aku minta maaf." ucap Hena mau keluar dari mobil namun langsung di tahan oleh Vano.
"Mau kemana kamu? Kamu mau masuk bertemu dengan papah lagi?" ucap Vano. "Lepaskan aku, aku sudah bilang aku tidak sengaja bertemu dengan Om Davit, aku hanya ingin menenangkan pikiran ke sini." ucap Hena.
Gerwyn menahan tangan Hena dan mengunci pintu. "Jangan membuat aku semakin marah Hena!" ucap Vano. Hena diam.
Dia bersandar ke kursi mobil dan memalingkan pandangannya ke arah kiri nya. Vano melihat Hena diam dia pun menjalan kan mobil nya meninggal Club itu.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di apartemen. Vano turun terlebih dahulu dan membuka pintu mobil bagian Hena.
"Ayo turun." ucap Vano. Hena turun. "Aku mau pulang ke rumah ku." ucap Hena. Vano menghela nafas panjang. "Tidak bisa, kamu baru saja melakukan kesalahan namun sekarang kamu mau pergi begitu saja?" ucap Vano.
Hena tidak mendengar nya. Dia memesan Grab dan tidak beberapa lama akhirnya datang. Namun Vano menahan pintu mobil.
"Maaf Pak. Ambil saja uang ini dan pergi." ucap Vano memberikan uang pada supir itu.
"Apa-apaan Sih. Aku mau pulang." ucap Hena. "Kamu tidak boleh pulang." ucap Vano.
"Puas kamu!" ucap Hena mendorong Vano dan berjalan duluan masuk. "Kamu yang salah kenapa kamu marah kepada saya?" ucap Vano.
"Aku sudah menjelaskan aku tidak sengaja. Namun kamu menuduh ku hal yang tidak kefikiran sama ku. Bahkan tidak ada tujuan seperti itu." ucap Hena.
"Aku sadar kalau aku wanita yang tidak baik dulu, namun aku sudah berusaha berubah, namun kamu dengan mudahnya menuduh ku. Hati ku sangat sakit." ucap Hena.
Vano terdiam. Melihat Air mata Hena keluar. Dia mau menghapus nya namun di tepis oleh Hena.
"Saya sangat cemburu melihat kamu dengan Papah. Saya tidak bisa kehilangan kamu." ucap Vano.
"Aku tidak mau berbicara dengan kamu." ucap Hena. Dia keluar dari kamar. Vano Menghela nafas dia duduk di pinggir kasur.
"Apa yang telah aku katakan pada Hena?" ucap Vano, dia mengingat lagi saat emosi dia mengeluarkan kata-kata yang pasti akan menyakiti perasaan kekasih nya Itu.
Dia mengusap wajah nya. Tidak terasa sudah tengah malam Vano tidak melihat Hena masuk ke dalam kamar. Dia memeriksa keluar.
__ADS_1
Ternyata Hena tidur di sofa. Bahkan dia sangat kedinginan sehingga meringkuk. "Aku sangat jahat kepada dia." batin Vano.
Vano akhirnya mengendong Hena ke dalam kamar.
Di tempat lain Gerwyn sedang membaca buku nya namun dia ketiduran.
Sementara Sophia dia sedang mengoles kan minyak kayu putih ke pinggang, dan kepala nya. Dia tidak bisa tidur karena kepala nya sangat pusing sekali.
"Apa yang terjadi pada badan ku? Kenapa sudah dua hari ini lemas sekali." batin Sophia. Dia melihat Ano yang sudah tidur nyenyak.
"Aku sudah makan dengan teratur. Aku juga merasa tidak ada yang salah dengan makanan ku. Hanya saja setelah selesai makan mual." ucap nya sendiri.
Dia mencoba untuk tidur setelah badan nya terasa enakan.
Baru saja tertidur namun tiba-tiba mual lagi. Dia berlari ke kamar mandi dia sudah hampir pingsang di kamar mandi. Untung saja ada Ano yang bangun dan melihat Sophia terduduk di lantai.
"Mbak! Mbak kenapa?" tanya Ano. "Badan mbak sangat Lemas sekali." ucap Sophia. Ano panik dia pun membantu mbak nya keluar dari dalam kamar mandi.
Ia panik melihat Sophia yang sudah sangat pucat dan tidak bertenaga. Dia mengambil ponsel Sophia dan menelpon Hena namun tidak di jawab oleh nya karena handphone nya ada di luar.
Dia menelpon Riki namun tetap saja tidak di jawab, akhirnya dia pun menelpon Gerwyn walaupun dia takut di Marahin mbak nya.
Di telpon sekali tidak di jawab di telpon kedua kali Gerwyn bergeliat dia membuka mata nya namun baru sadar kalau dia tidur sambil memegang buku.
"Siapa yang menelpon malam-malam?" batin Gerwyn.
Dia mengambilnya handphone yang ada di atas nakas. "Sophia!" ucap nya. "Ini sudah jam Dua malam kenapa dia menelpon ku?" ucap nya.
Dia ragu untuk menjawab nya namun dia juga tidak mungkin mengabaikan nya. Dia pun menjawab.
"Mbak Sophia, kak." ucap Ano langsung. "Ada apa dengan mbak Sophia?" tanya Gerwyn.
"Mbak Sophia tiba-tiba sakit, dia sangat lemas." ucap Ano.
"Kamu tenang yah, jangan meninggalkan mbak Sophia sendiri, kakak akan ke sana." ucap Gerwyn.
__ADS_1