Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Keromantisan kita hubungan Hena dan Vano


__ADS_3

"Lisa! Ada apa kamu menelpon ku?" tanya Sophia.


"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu Masih hidup setelah melihat adegan romantis itu."' ucap Lisa.


"Kamu adalah wanita yang sangat jahat, tidak mempunyai Hati!" ucap Sophia. Lisa tertawa.


"Aku akan mendapatkan Gerwyn bagaimana pun caranya." ucap Lisa.


Sophia mematikan ponsel nya begitu saja. "Siapa mbak?" tanya Ano. Sophia Menggeleng kan kepala nya. "Tidak penting kok." ucap Sophia. Ano duduk di samping Sophia.


"Mbak gak boleh pergi seperti ini setelah menjadi istri kak Gerwyn mbak. Walaupun aku masih kecil tapi aku tau yang kakak buat ini tidak baik." ucap Ano.


"Mbak tau mbak salah. Mbak hanya ingin fokus memikirkan Ujian mbak. Kamu tidak tau apa yang terjadi lebih baik kamu diam!" ucap Sophia membentak adik nya.


"Mbak tau kalau kamu pasti di suruh oleh kak Gerwyn kan?" ucap Sophia. Ano terdiam.


"Mbak adalah saudara kamu bukan mas Gerwyn. Tapi kalau kamu ingin pulang ke sana mbak tidak Akan melarang!" ucap Sophia.


Ano diam. "Mbak mau istirahat." ucap Sophia dia berbaring ke tempat tidur nya. Ano melihat ke arah Sophia.


"Maafin aku mbak, aku salah. Aku janji tidak akan membahas nya." ucap Ano berdiri di samping tempat tidur.


Sophia tidak menanggapi nya Sama sekali. Dia membelakangi Ano agar Ano tidak melihat dia menangis.


"Mbak aku minta maaf." ucap Ano sambil menangis. Sophia duduk dia membawa adik nya kedalam pelukannya.


"Mbak tidak marah sama kamu, mbak hanya pusing saja. Kamu istirahat yah." ucap Sophia. Ano menganguk dia pun tidur di pelukan saudara perempuan nya itu.


Hena tengah belajar di ruang tamu di temani oleh Vano yang tidur di pangkuan nya. "Sayang.. Kamu sudah tidur?" tanya Hena.


Vano menatap wajah Hena. "Ada apa?" tanya Vano. "Humm lebih baik kamu pindah ke kamar, aku juga mau pulang." ucap Hena.


"Kenapa pulang? kamu di sini saja menemani aku." ucap Vano. "Tidak bisa sayang. Aku harus pulang ke rumah." ucap Hena.

__ADS_1


"Kamu takut tidur di sini? Aku janji tidak Akan melakukan hal yang tidak kamu ijinkan." ucap Vano. "Bukan masalah itu, kalau aku di sini aku takut Telat ke sekolah." ucap Hena.


Vano tersenyum. "Oh iya aku lupa kalau pacar ku Masih anak sekolah." ucap Vano. Hena Menghela nafas.


"Jangan bercanda." ucap Hena. "Aku tidak bercanda, aku hanya merasa lucu saja pria seperti ku bisa mendapatkan wanita secantik kamu." ucap Vano.


"Humm lebay banget sih, wanita yang lebih cantik dari aku masih sangat banyak." ucap Hena.


"Tapi di Mata aku kamu yang paling cantik." ucap Vano mencium pipi Hena.


Hena tersenyum malu. "Kamu sengaja membuat aku baper kan?" ucap Sophia. Vano menggeleng kan kepala nya dia beranjak dari tidur nya.


"Kamu tidak boleh pulang." ucap Vano mengangkat Hena.


"Apa yang kamu lakukan? Aku mau turun. Nanti aku jatuh." ucap Hena.


"Kamu tidak boleh kemana-mana ucap Vano, dia membawa Hena ke dalam Kamar. Vano membaringkan Hena di kasur.


"Katakan kamu akan tidur di sini! Kalau kamu tidak mau Saya akan melakukan hal yang tidak kamu inginkan." ucap Vano.


"Aku mohon lepaskan aku. Aku bisa telat ujian kalau aku tidur di sini." ucap Hena.


"Kau mau pulang atau tetap di sini?" ucap Vano mau mencium bibir Hena. Namun tiba-tiba di tahan oleh Hena.


"Oke baiklah, aku akan tidur di sini. Tapi kamu harus tanggung jawab membangun kan aku pagi-pagi." ucap Hena.


Vano tersenyum. "Nah gitu dong. Kamu calon istri yang penurut." ucap Vano mencium singkat bibir Hena.


Hena kaget karena di cium. Melihat wajah kaget Hena membuat Vano tersenyum. "Aku susah bernafas kalau kamu di atas ku, lebih baik kamu minggir aku tidak Akan kemana-mana." ucap Hena.


"Baiklah." ucap Vano, dia pun beranjak dari atas Hena. Dia menutup pintu kamar. "Kasur di sini hanya satu, Apa kita harus satu tempat tidur?" tanya Hena.


"Humm tidak ada yang salah kan? Sebelum nya juga kita sudah pernah satu Kasur bukan?" ucap Vano menatap wajah Hena.

__ADS_1


"Huff berhenti lah membahas itu, aku tidak mau membahas itu lagi." ucap Hena. "Kamu mau kemana?" ucap Vano menahan tangan Hena yang berdiri.


"Kau janji tidak akan membahas nya lagi. aku minta maaf." ucap Vano. "Kamu selalu berbicara seperti ini, namun tetap saja kamu mengulangi nya lagi!" ucap Hena mengawas kan Tangan Vano namun tidak sengaja dia terjatuh ke kasur dan menarik tangan Vano.


Lagi-lagi Vano berhasil mencium Hena. Kedua nya sama-sama Terkejut kali ini. Mata nya bertemu.


Vano melepaskan bibirnya dari bibir Hena. "Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Vano. Hena menggeleng kan kepala nya.


Vano menatap wajah Hena. "Maaf kan aku Hena Aku tidak kuat menahan nya." ucap Vano langsung mencium bibir Hena dengan ganas.


Hena dengan baik membalas nya. Sehingga ciuman mereka semakin dalam.


Kedua nya kehabisan nafas. Vano melepaskan nya sementara Hena Masih ingin melanjutkan nya. Vano melihat ekspresi Hena tersenyum.


Hena menyosor bibir Vano dan kedua nya mulai menghayati peran masing-masing. Vano tidak bisa menahan hasrat nya lagi.


Namun tiba-tiba Vano melepaskan Hena, dia langsung duduk. Hena keheranan. "Ada apa?" tanya Hena. "Aku minta maaf. Aku tidak bisa menepati janji ku." ucap Vano.


Hena Menghela nafas panjang.


"Kamu mempermainkan ku kalau seperti ini." ucap Hena. Vano melihat Hena.


"Aku tidak ingin kamu berfikir kalau aku mencintai kamu hanya karena nafsu." ucap Vano. Hena tersenyum dia mendekati Vano.


"Enggak kok, aku mengerti kok." ucap Hena. "Kamu tidak apa-apa?" ucap Vano. Hena menganguk. Vano langsung mendorong Hena tidur lagi. Dan terjadi lah pertempuran di kasur itu.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sudah lelah. Hena tidur di lengan Vano. "Kalau aku sedikit kasar maafin kau yah." ucap Vano.


"Aku suka kok. Aku tidak pernah merasakan melakukan hal seperti ini bahagia, namun kali ini aku merasa sangat bahagia." ucap Hena.


"Kamu mau Kan menikah dengan aku?" tanya Vano. Hena terdiam langsung. "Apa yang kamu katakan? Aku rasa kita tidak perlu membahas itu untuk saat ini." ucap Hena.


"Karena orang tua aku?" ucap Vano. Hena diam.

__ADS_1


"Aku tidak mau membahas itu sayang, aku hanya ingin bersama kamu untuk saat ini." ucap Hena.


"Ya udah kalau begitu ayo tidur, besok pagi kamu harus bangun untuk ke sekolah." ucap Vano memeluk Hena.


__ADS_2