Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Perawatan agar suami semakin senang


__ADS_3

Nona Lisa terdiam karena kata-kata Vano. "Saya hanya ingin tau bagaimana hubungan nya sekarang dengan Okta?" ucap Nona Lisa.


"Saya kurang tau Nona." ucap Vano.


"Baiklah kalau begitu saya Akan Permisi." ucap Vano meninggal Nona Lisa begitu saja.


Nona Lisa memasang wajah kesal.


"Huff biasa nya dia tidak pernah seperti itu kepada saya, sekarang sangat sombong sekali!" ucap Nona Lisa.


Dia pun masuk ke dalam. Sementara koper dan barang-barang lain nya sudah di dalam di antar kan oleh Vano tadi.


"Enjel, hari ini aku lupa seharusnya aku menjenguk Hena ke Rumah sakit." ucap Sophia baru ingat.


"Yah tapi aku belum selesai, ada beberapa perawatan lagi Belum, aku sudah membayar nya lagi." ucap Enjel.


"Ya udah kalau begitu aku saja yang pergi, kamu di sini sendirian gak apa-apa kan?" tanya Sophia.


"Ya jangan dong, aku ikut deh." ucap Enjel.


"Udah dulu ya mbak, kalau ada waktu saya akan mampir lagi, Terimakasih banyak." ucap Enjel.


Mereka pun segera menuju ke rumah sakit.


"Oh iya emang hena sakit apa?" tanya Enjel. "Dia operasi usus buntu." ucap Sophia.


"kok bisa? emang nya dia makan apaan?" ucap Enjel. "Aku juga tidak tau, tapi tidak heran sih soal nya dia tidak pernah mengatur pola makan dan juga makan sembarangan." ucap Sophia.


Enjel diam. "Enjel, jangan Bilang ke mamah atau suami ku kalau perawatan itu." ucap Sophia.


"Baiklah-baiklah. Tapi bagaimana rasanya di bersihkan? Rasanya nya seru kan?" tanya Enjel.


Sophia Menghela nafas panjang.


"sakit banget, tapi Demi suami tercinta aku rela." ucap Sophia. Enjel terkekeh.


"Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka bertanya terlebih dahulu di mana ruangan Hena setelah itu mereka sampai.


"Assalamualaikum." sapa Sophia masuk ke dalam namun ternyata di dalam hena tidak sendirian melainkan bersama om Davit.


"walaikumsalam! Akhirnya kamu datang juga Sophia." ucap Hena. Mereka langsung berpelukan.

__ADS_1


"Maafin aku yah telat datang nya. Kamu sekarang bagaimana keadaan Nya?" tanya Sophia.


"Sudah lebih baik, gak parah-parah banget kok, Tidak ada yang perlu di khawatir kan." ucap Hena. Sophia Menghela nafas panjang.


"Enjel! kamu di sini juga?" tiba-tiba om Davit berbicara. Enjel melihat Om Davit Tersenyum.


"Iyah Om. Aku sudah beberapa hari di sini, om kok bisa di sini?" tanya Enjel sambil memeluk om Davit.


Sophia yang melihat itu seketika memasang wajah heran. Hena memerhatikan wajah Sophia yang terlihat tidak suka.


"Ya ampun nih om-om mau Ngembat Enjel juga? Dasar om-om gatal." batin Sophia.


"Bagaimana kabar orang tua kamu? Apa sebelum nya kamu sudah bertemu dengan Vano?" tanya Om Davit.


"Sudah kok Om. Kabar Ibu dan Ayah sangat baik." ucap Enjel.


"Alhamdulillah kalau seperti itu." ucap Om Davit.


"Lalu bagaimana kabar Tante Om? aku sudah Rindu pada nya, Vano janji Akan membawa ku ke sana namun dia sama sekali tidak menepati janji nya." ucap Enjel.


"dia sangat sibuk. Kamu tau sendiri om Gerwyn kamu seperti apa." ucap Om Davit.


"Huff pakai jelek-jelekin nama suami ku lagi." batin Sophia.


"Oh iya titip Hena yah, Om Ada urusan di luar. Kalian berbicara lah. Permisi." ucap Om Davit. Dia pergi Sophia bisa bernafas lega.


"Huff syukur lah dia sudah pergi." ucap Sophia. "Kamu tidak boleh seperti itu Sophia. Dia adalah orang tua kamu harus menghormati nya." ucap Enjel. Sophia hanya diam saja tidak perduli.


"Sophia jangan seperti itu. Om Davit sudah banyak membantu ku, dia juga membayar kan semua biaya rumah sakit ku." ucap Hena.


"Orang tua kamu kemana?" tanya Sophia.


"Aku meminta mereka pulang karena kelihatan tidak bisa tidur di sini, mereka sangat kelelahan juga." ucap Hena.


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya tidak suka ketika dia di sini." ucap Sophia.


"Emang Om Davit melakukan apa Sama kamu? Dia sangat lah baik." ucap Enjel.


Sophia menggeleng kan kepala nya.


"Tidak apa-apa kok, aku hanya sedikit kurang nyaman ketika ada orang lain di Sini." ucap Sophia.

__ADS_1


"Sudah-sudah jangan permasalah kan itu lagi, aku minta maaf kalau aku sudah membuat kalian tidak suka." ucap Sophia.


"Oh iya nih aku bawain roti kesukaan kamu, ada minun juga. Intinya kamu harus cepat sembuh karena sebentar lagi kita akan ujian." ucap Sophia.


Enjel dan juga Hena tertawa kecil. "Kamu bisa saja, kamu mengancam ku untuk sembuh karena mau ujian. Kamu sungguh teman yang jahat." ucap Hena.


Sophia tertawa. "Nih aku suapin untuk kamu, semoga saja kamu suka." ucap Sophia. Dia pun menyuapi Hena.


Cukup Lama mereka di sana akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena sudah sore.


Enjel harus packing barang-barang Nya untuk besok.


"Kami pulang dulu yah Hena, aku Akan datang lagi Besok." ucap Sophia. Hema tersenyum sambil mengangguk.


"Iyah Sophia. Makasih yah sudah mau datang melihat ku di sini." Ucap Hena.


"Kamu cepat sembuh yah." ucap Enjel.


Mereka pun meninggalkan rumah sakit.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. "Loh Ayah, ibu kenapa belum mengemasi barang-barang?" tanya Enjel Heran.


"Kita tidak jadi pulang besok nak, melainkan Minggu depan. Ibu, Sama ayah dan Juga Bibi kamu masih ada acara besok." ucap Ibu nya.


"Oohh ya udah deh buk, padahal aku sudah buru-buru pulang dari Rumah sakit." ucap Enjel. "Dari Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Buk Linda.


"Hena Mah, dia operasi usus buntu, jadi nya kami ke sana." ucap Sophia. "Oohh, apa keadaan nya sudah baikan sekarang?" tanya Buk Linda.


"Lumayan mah, soal nya belum boleh pula dari Rumah sakit." ucap Sophia.


"Kamu juga harus mengatur Pola makan jangan jadi seperti hena Mamah khawatir." ucap buk Linda, Sophia tersenyum sambil mengangguk.


"Ya udah mah kami ke kamar Dulu yah." ucap Sophia meninggalkan mereka di ruang tamu. Sampai di kamar dia memeriksa ponsel nya.


"Aku tidak ada melihat ponsel ku seharian, bagaimana kalau mas Gerwyn marah kalau aku tidak membalas pesan nya." ucap Sophia.


namun setelah di buka ternyata tidak ada pesan dari dia.


"Tumben banget tidak ada pesan dari dia? Biasanya dia selalu heboh." batin Sophia.


Tapi dia merasa lega karena tidak ada yang di pikirkan. Dia berbaring di kasur.

__ADS_1


"Huff akhirnya aku bisa bertemu dengan kasur ini juga." ucap Sophia. "Maafin aku yah hena tidak bisa di sana untuk kamu, karena aku masih belum bisa menerima kamu bersama Om Davit." batin Sophia.


__ADS_2