Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Rumah Sophia mau di jual oleh Paman dan bibik nya


__ADS_3

Sophia sudah menunduk karena takut.


"Kenapa kamu membawa adik kamu ke sini?"


"Di rumah dia tidak mempunyai teman Pak. Maafkan saya."


"Saya tidak butuh maaf kamu!" ucap Darel kesal.


Sophia terdiam sementara Ano melihat tatapan tajam Gerwyn pada Sophia membuat nya juga takut.


Gerwyn meninggalkan Sophia begitu saja di luar.


Sophia hendak menahan Gerwyn namun sudah keburu di tutup oleh Gerwyn.


"Huff apa yang harus aku lakukan!" ucap Sophia.


"Mbak kenapa di marahin sama Om tadi?" tanya Ano.


"Gak apa-apa kok dek, lebih baik kita pulang yah." ucap Sophia membawa Adik nya pulang karena percuma saja di sana.


Namun sebelum pulang Sophia di ajak ketemuan oleh Adit di Cafe tempat nya bekerja, kebetulan Sophia lewat sana akhirnya dia pun singgah.


"Om Adit." ucap Ano melihat Adit menunggu mereka dari tadi.


Adit langsung memeluk Ano


"anak ganteng, om sangat rindu sama Ano." ucap Adit mencubit pipi Ano yang imut.


Sophia dan Ano main sebentar di sana,


Keesokan harinya Sophia sudah bisa fokus sama sekolah dan ngurus Adik nya.


Tiga hari kemudian Sophia baru saja pulang dari sekolah, Semua sudah didiskusikan kalau mereka akan magang Dua Minggu lagi.


Sophia pulang membawa makanan untuk Adik nya.


"Loh kok ada motor Paman sama Bibik?" batin Sophia melihat motor yang di depan rumah.


"Assalamualaikum Ano."


"Walaikumsalam." jawab wanita paruh baya yang duduk di depan TV.


Sophia melihat paman dan istri nya ada di sana. Itu adalah adik dari Ibunya.


"Paman sama Bibik ngapain di sini?" tanya Sophia.


"Apa salah nya kalau kami datang ke sini? Ini masih rumah mbak paman!"


"Sophia menghela nafas panjang.


"Langsung saja apa yang mau Bibi dan paman lakukan di sini?" tanya Sophia.

__ADS_1


"Kamu duduk lah dulu."


Sophia duduk.


"Kedatangan kami ke sini mau memberi tahu kamu kalau rumah ini akan di jual."


Sophia membelalakkan matanya terkejut.


"Apa-apaan maksud Paman? Aku tidak mau!" ucap Sophia.


"Tidak ada pilihan lain lagi kakak kamu sedang dalam penjara karena kasus tambrak lari."


Sophia menghela nafas panjang sambil mengucap.


"Ya Allah apa yang telah terjadi."


"Kenapa begitu banyak cobaan yang engkau berikan pada hamba." batin Sophia menahan air mata nya.


"Kalau bisa hari ini kamu sudah mencari kontrakan baru, dan pindah ke sana secepat nya."


"Kenapa paman dan bibi tidak punya hati sedikit pun? Kalian sangat ingin aku menderita!" ucap Sophia.


"Ini karena keadaan! Dari mana paman mendapatkan uang untuk ganti rugi Serta menebus Motor kakak kamu." ucap Paman nya.


"Seandainya di posisi kak Liam sekarang adalah aku, mungkin Paman dan Bibi tidak seperduli ini." ucap Sophia.


"Diam kamu! Bisa-bisa nya dalam situasi seperti ini kamu protes." ucap Paman nya.


"Baiklah kalau begitu, aku Akan keluar dari rumah ini, satu hal yang harus paman ingat kalau tanggapan paman pada ku salah." ucap Sophia langsung masuk ke kamar.


Dia membangun kan Ano untuk merapikan semua baju-baju nya.


"Loh mbak kenapa semua pakaian di masukkan ke dalam koper?"


"Kita akan pindah dari sini, karena rumah ini akan di jual oleh paman untuk ganti rugi masalah yang di buat oleh kak Liam." ucap Sophia.


Ano terdiam dia hanya bisa mengikuti perintah Mbak nya.


Tampa pamit atau mengatakan apapun dia menarik koper keluar.


."Sophia! Kamu sama sekali tidak punya sopan santun, kalau mau pergi harus pamitan dan beri tahu di mana kamu akan tinggal."


"Untuk apa? Agar kak Liam datang dan Paman sama Bibik mengganggu hidup ku lagi? Aku Capek hidup di keluarga seperti ini."


"Dasar anak kurang ajar! Ini sebab nya orang tua kalian meninggalkan kalian." ucap Paman nya.


Sophia menarik tangan Ano langsung pergi begitu saja. Dia sebelumnya sudah memesan taksi dan langsung naik.


"Mbak kita akan kemana? Kalau kita tidak tinggal di rumah bagaimana kita bisa membayar kontrakan."


Sophia hanya diam saja, dia sangat emosi dengan Pamam sama Bibik nya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang bisa di katakan mewah, sangat jauh berbeda dari rumah mereka yang sebelumnya.


"Mbak ini rumah siapa?" tanya Ano.


"Buat sementara kita tinggal di sini, dekat ke sekolah kamu dan juga dekat dari tempat mbak Magang Minggu depan."


Sophia ternyata sudah merencanakan itu, dan juga sudah membayar sewaan rumah itu selama dua bulan.


Ano ikut menurun kan barang-barang. Kali ini Sophia tidak banyak berbicara seperti biasa pada Ano. Kali ini Ano harus mengerti keadaan Sophia yang sudah sangat pusing.


Di malam hari nya Sophia duduk di teras sendiri an.


Seketika dia mengingat Paman nya yang mau menjual rumah itu.


"Persetujuan Ayah? Sekarang saja Ayah tidak tau rimba nya di mana." batin Sophia. Dia membuka Handphone nya dan melihat postingan kakak nya yang baru saja sedang minum bersama wanita-wanita malam.


"Ck sudah ku duga ini hanya lah akal-akalan mereka." ucap Sophia.


Dia tau kalau paman nya menjual rumah itu hanya karena ingin uang bukan karena Liam punya masalah dan tentunya mereka sudah berdiskusi bersama.


Sophia tersenyum tipis..


"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan rumah itu di jual, karena terlalu banyak kesedihan, penderitaan di sana."


Tiba-tiba Ano datang.


"Mbak aku lapar."


"Tunggu dulu mbak sangat lelah."


Ano melihat Mbak nya kecapean dia pun menunggu sebentar di ruang tamu.


Namun sudah lama namun Sophia belum bergerak dia pun berjalan ke dapur melihat sesuatu yang bisa di makan.


Dia melihat ada mie instan dan telor, dia berencana Akan memasak itu.


Sebelum memasak kan mie ke dalam wadah, air di tunggu sampai mendidih dulu setelah mendidih baru di masukkan mie nya, tapi tidak sengaja tangan Ano menyenggol wadah Air panas dan semua nya jatuh ke lantai.


"Aaaa panas-panas." teriak Ano.


Sophia yang sedang melamun terkejut dengan suara dari dapur, dia langsung berlari ke dapur.


"Ya ampun Ano! Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat dapur berantakan." ucap Sophia marah.


"Maafin aku mbak, aku tidak sengaja." ucap Ano.


"Kamu sudah tau mbak banyak masalah, mbak capek dan pusing sekarang kamu Malah menambah pekerjaan Mbak Saja." ucap Sophia.


"Maafin aku mbak. Aku akan membersihkan nya."


"Tidak perlu! Lebih baik kamu makan sana, mbak sudah memesan makanan!"

__ADS_1


Ano tidak ingin mbak nya tambah marah akhirnya dia pun langsung ke kamar mandi mencuci tangan dan kaki nya dan makan ke ruang tamu.


__ADS_2