Terpaksa Menikah Di Usia Muda

Terpaksa Menikah Di Usia Muda
Hena memutuskan untuk meninggalkan Om Davit


__ADS_3

Vano menunjukkan foto yang ada ponsel nya pada Hena. Hena melihat nya sekilas dan membuang pandangan nya.


"Untuk apa kamu menunjukkan itu pada ku?" tanya Hena.


"Kamu melihat sendiri kan kalau papah tidak pernah setia dengan satu waktu seperti kamu. Lebih baik kamu jauhi papah saya." ucap Vano.


Hena menghela nafas panjang.


"Kenapa harus saya yang harus kamu paksa untuk meninggalkan Om Davit? Bagaimana dengan wanita-wanita nya di luar sana yang lebih sering menghabiskan uang nya." ucap Hena.


"Kenapa kamu sebagai wanita tidak mempunyai harga diri? Kamu sungguh sangat rendahan sekali." ucap Vano..'


"Aku sadar aku sangat rendahan, aku memang sangat rendahan sekali." ucap Hena.


"Aku tau aku siapa. Namun tidak seharusnya kamu memperlakukan saya seperti ini, kamu menuduh saya penghancur rumah tangga orang tua kamu, namun sebelum bertemu saya om Davit sudah memiliki banyak wanita, mungkin aku hanya salah satu nya saja." ucap Hena.


"Saya tidak habis pikir pada kamu." ucap Vano.


"Ada apa lagi dengan saya? Saya akan berhenti mengganggu Om Davit saya tidak Akan bertemu dengan nya lagi. Saya tidak tahan selalu di hina oleh kamu, saya sangat sakit hati." ucap Hena.


Vano mendengar kata-kata Hena terdiam.


"Mulai dari sekarang saya akan mengembalikan semua yang di berikan oleh Om Davit pada kamu. Saya akan menghilang dari kehidupan dia, apa kah setelah saya pergi om Davit kembali kekeluarga nya atau tidak ." ucap Hena.


"Pasti kembali, karena setelah mengenal kamu papah sangat berubah." ucap Vano.


"Semoga saja dia kembali. Kalau tidak kembali kamu harus menyesal seumur hidup sudah menghina saya tampa tau kejelasan hubungan saya dengan Om Davit." ucap Hena.


"Apa yang kamu maksud?" tanya Vano.


"Nanti juga kamu Akan paham sendiri." ucap Hena.


Vano diam.


"Lebih baik kamu segera keluar dari ruangan ku, aku ingin istirahat." ucap Hena mengusir Vano pergi.


"Awas saja kalau aku masih melihat kamu bersama dengan papah, saya akan melaporkan kamu ke orang tua kamu." ucap Vano mengancam Hena.

__ADS_1


Hena hanya diam saja. Vano pun meninggalkan ruangan Hena dengan perasaan sedikit emosi. Hena tiba-tiba menangis dia tidak bisa menahan air mata nya.


Dia mengingat pertama kali bertemu dengan Om Davit dia sangat ketakutan karena di sewa oleh om-om yang sudah sangat Tua.


Namun Om Davit hanya ingin Hena menjadi pendamping pura-pura nya agar bisa melabuhi beberapa mantan nya yang sakit hati di tinggal kan begitu saja. Namun Om Davit sudah sangat menganggap Hena anak nya sendiri sehingga dia sangat sayang sekali.


Begitu juga dengan Hena yang sadar diri, dia membantu Om Davit waktu sakit mengurus nya sampai sembuh karena om Davit sangat baik pada nya.


Om Davit merasa dia di perhatikan tulus oleh Hena akhirnya dia Luluh dan memberikan semua yang di perlukan oleh Hena.


Hena sangat sekali mendapatkan barang-barang dari Om Davit.


Semenjak itu om Davit tidak lagi berpacaran dengan orang lain dia lebih fokus ke perusahaan nya bekerja dan bekerja.


Dia sama sekali tidak pernah meniduri Hena. Justru dia sangat menjaga Hena. Namun dia sengaja bersikap romantis di depan anak nya agar apa tidak ada yang tau intinya agar papah nya bisa membuat anak nya marah.


Hena sudah yakin untuk meninggalkan Om Davit seperti permintaan Vano pada nya, dia sama sekali tidak keberatan karena mungkin itu adalah jalan yang terbaik untuk nya.


Di dalam mobil Vano terdiam sejenak memikirkan masalah nya. "Lantas kalau Hena benar-benar meninggalkan Papah, apa Papah akan mau berubah?" batin Vano dia tidak berhenti memikirkan hal itu.


Dia pun Tidak langsung pulang ke apartemen nya melainkan singgah ke klub Mami.


"Mau minum, saya mau menghabiskan waktu malam yang panjang ini mabuk. Tolong sediakan saya minuman yang bikin kepala fresh Mi." ucap Vano.


"Baiklah pria tampan, minuman segera datang." ucap mami.


Vano juga menyewa wanita untuk menemani nya Minum di sana.


Keesokan harinya Sophia datang ke rumah sakit untuk membantu Hena pulang.


"Hena kamu yakin sudah baikan?" tanya Sophia. Hena mengangguk.


"Aku tidak ingin semakin lama di sini." ucap Hena.


"Baiklah kalau begitu aku bantuin. Orang tua kamu gak ke sini?" tanya Sophia. Hena menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mengijinkan mereka ke sini, karena bisa saja mereka melihat ada Vano atau orang lain yang membuat mereka semakin khawatir, apa lagi ibu aku yang benar-benar Sangat sensitif seperti." ucap Hena.

__ADS_1


Sophia tersenyum.


"Aku paham kok." ucap Sophia.


"Oh iya Sophia aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Om Davit. Agar kamu tidak marah lagi pada ku, agar kamu tidak membenci ku." ucap Hena.


"Aku tidak pernah membenci mu, aku hanya ingin kamu ada di jalan yang baik, meninggalkan kehidupan kamu yang dulu. Aku tau hidup seperti itu tidak akan pernah tenang walaupun kamu mempunyai banyak uang." ucap Sophia.


Hena mengangguk sambil tersenyum.


"Aku paham kok. Terimakasih yah.' ucap Hena.


mereka pun berpelukan. Menunggu dokter untuk melepaskan Infus nya sangat lama sehingga mereka berdua bosan. Tiba-tiba suami Sophia menelpon nya.


"Halo Mas, apa mas sudah sampai? Aku mencoba menelpon tadi malam handphone mas mati." ucap Sophia.


"Sudah sampai kok. Mungkin di sini jaringan sedikit susah saya akan menghubungi kamu Ketika memiliki jaringan yang bagus." ucap Gerwyn.


"Baik mas, mas di sana hati-hati dan semangat kerja nya." ucap Sophia. Gerwyn tersenyum..


"Kamu lagi di mana?" tanya Gerwyn.


"Hari ini Hena keluar dari rumah sakit, Tidak ada yang membantu dia itu sebab nya aku datang untuk membantu nya." ucap Sophia.


"Oohh begitu. Ya udah kalau begitu kamu jangan lupa untuk istirahat, jangan abaikan jam makan yah." ucap Gerwyn.


"Terimakasih suami ku, mas juga di sana jaga kesehatan." ucap Sophia. Panggilan segera di akhiri dengan salam.


"Kamu semakin romantis saja deh." ucap Hena.


Sophia tersenyum. "Memang nya suami kamu kemana?" tanya Hena.


"Dia keluar kota sendirian dan hari ini Vano menyusul nya, dia menyurpei beberapa tempat kerja nya langsung." ucap Sophia.


"Oohh. Bagaimana kalau kamu menginap di rumah ku untuk beberapa hari? Aku butuh teman." ucap Hena.


"Loh orang tua kamu kan di rumah." ucap Sophia.

__ADS_1


"Iyah sih, tapi aku ingin kamu yang nemenin aku, aku tidak bisa bertukar pikiran dengan siapa pun selain kamu, aku mohon yah." ucap Hena.


__ADS_2