
"Mamah yakin kamu tidak bisa bertemu dengan nya karena Ano dan teman nya tidak mengijinkan siapa pun masuk untuk melihat nya." ucap buk Linda.
Gerwyn menghela nafas panjang.
"Kita bisa ke sana kalau Hena pergi kerja Mah." ucap Gerwyn.
"Jam berapa dia bekerja? Karena Mamah tiap pagi dan siang kesana dia selalu ada di sana."
"Jam sepuluh malam." ucap Gerwyn.
"Jam sepuluh malam? Pekerjaan seperti apa itu?" ucap buk Linda, Gerwyn tidak menjawab.
Di malam hari nya seperti biasa Gerwyn di kawal oleh polisi ke rumah sakit. Mungkin kalau Gerwyn bukan orang terpandang polisi tidak akan mau menuruti keinginan Gerwyn.
Dan sampai di rumah sakit hanya ada Ano yang ketiduran di sofa menunggu Sophia yang sampai sekarang belum sadar sama sekali.
Dari balik Pintu kaca Gerwyn melihat kedua adik beradik itu ada di dalam.
"Dok apa keluarga istri saya belum datang menjenguk nya?"
Dokter menggeleng kan kepala nya.
"Sudah beberapa hari tidak ada yang datang menjenguk selain buk Hena."
"Boleh saya masuk?"
"Silahkan pak, tapi hanya bapak saja." ucap dokter.
Gerwyn pun masuk dengan tangan di borgol.
Gerwyn menyelimuti Ano dengan tangan nya, walaupun sedikit sulit dia sangat merasa bersalah. Setelah itu dia duduk di pinggir kasur tempat Sophia berbaring.
"Bangun Sophia! Kasihan Ano tidur kedinginan di sini setiap malam, kasihan dia saya mohon bangun lah dan hukum saya." ucap Gerwyn.
Gerwyn memegang tangan Sophia.
"Saya sudah salah paham sebelum nya, ini salah besar saya, mungkin ini tidak bisa di maafkan lagi, saya akan menerima hukuman dari kamu." ucap Gerwyn.
Namun tiba-tiba tangan Sophia bergerak, Gerwyn yang merasa kan pergerakan Sophia langsung melihat mata Sophia yang berkedip-kedip berusaha untuk membuka nya.
"Aarrhhhh!!" Sophia mengalami susah berbicara. Gerwyn mau mengambil gelas berisi air dengan tangan nya yang di borgol namun kesusahan sehingga terjatuh.
Ano langsung terbangun.
"Kak Gerwyn! Ngapain kakak ke sini?"
__ADS_1
"Sophia sudah bangun, tolong berikan air minum." ucap Gerwyn. Ano dengan cepat mengambil Air memberikan nya pada Sophia yang belum sadar sepenuhnya.
"Mbak! Mbak!" Ano membangun kan nya. Sophia membuka mata nya perlahan dia tersenyum melihat Ano yang menangis di samping kiri nya.
Ano memberi kan minum pada Sophia agar lebih segar.
"Mbak gak sakit lagi kan? Mbak sudah bangun? aku kangen." ucap Ano langsung memeluk Sophia.
Air mata Sophia langsung keluar dia mengelus kepala Ano.
"Maaf fin mbak sudah buat kamu sedih, tapi mbak sudah bangun kamu jangan sedih lagi." ucap Sophia.
Sophia menoleh ke arah samping kanan nya ternyata Gerwyn masih ada di sana menatap nya. Sophia melihat tangan dan gelas pecah yang melukai kaki Gerwyn.
Seketika Sophia mengingat kejadian beberapa hari lalu dia membuang pandangan dari Gerwyn.
"Syukur lah kamu sudah bangun, saya minta maaf sudah membuat kamu seperti ini." ucap Gerwyn namun Sophia hanya diam.
"Permisi Pak waktu nya sudah habis, kita harus kembali ke kantor." ucap polisi.
Sophia melihat Gerwyn yang langsung di pegang oleh polisi.
"Saya tidak akan datang lagi ke sini. Saya hanya bisa berharap kamu cepat sembuh dan segera pulang, masalah biaya saya akan menanggung semua nya." ucap Gerwyn.
Namun Sophia tidak menjawab nya.
"Kak Gerwyn di laporkan ke polisi atas kecelakaan yang di sebabkan oleh kak Gerwyn pada mbak." ucap Ano.
Sophia terlihat sangat terkejut kalau Gerwyn di tahan karena dia.
"Mbak tidak perlu memikirkan kak Gerwyn, dia pantas mendapatkan itu. Dan aku tidak setuju mbak pulang ke rumah itu lagi, aku mau mbak Berpisah dengan Kak Gerwyn." ucap Ano.
"Besok yah bahas nya, mbak masih sangat pusing." ucap Sophia karena kepala nya masih sangat sakit.
Ano mengangguk. Keesokan harinya Hena datang dia sangat senang mendengar teman nya itu sadar, dan teman-teman sekolah serta guru juga datang menjenguk Sophia.
Setelah mereka pulang Sophia baru bisa berbicara pada Hena.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa suami kamu tidak datang? dia sudah di tahan oleh polisi." ucap Hena.
"Kamu yang melaporkan nya?" Hena mengangguk.
"Jangan bermain-main pada orang seperti dia Hena, aku tidak mau kamu kenal imbas dari permasalahan kami."' ucap Sophia.
"Aku tidak perduli siapa dia, walaupun dia membunuh ku namun aku tidak terima perlakuan dia pada kamu, kalau dia biarkan saja bersifat kasar dia tidak akan menghargai kamu." ucap Hena.
__ADS_1
Sophia menghela nafas panjang.
"Jangan membawa nya ke jalur hukum Hena, percuma saja orang seperti dia gampang keluar dari tempat seperti itu dan membalas dendam pada kamu."
Hena terdiam.
"Aku hanya ingin dia menyesal apa yang di lakukan pada kamu Sophia. Kamu hampir saja kehilangan nyawa kamu karena dia."
"Sudah-sudah jangan di bahas lagi. Sekarang buk Linda di mana?"
"Aku tidak mengijinkan keluarga pak Gerwyn masuk, aku tidak percaya pada mereka," ucap Hena.
Sophia memegang kepala nya.
"Ya Allah Hena kenapa kamu melakukan itu pada buk Linda?" ucap Sophia.
"Aku mau kamu fokus pada kesehatan kamu sekarang, setelah itu kita pulang ke rumah kamu, aku yang Akan mengurus kamu sampai sembuh aku gak mau kamu pulang ke sana lagi." ucap Hena.
"Makasih yah sudah perduli sama aku," ucap Sophia memegang tangan Hena. Hena tersenyum dia memeluk Sophia.
Sementara buk Linda datang mengunjungi anak nya.
"Ayo nak kita pulang yah, Mamah akan membayar agar kamu keluar, Mamah gak tega melihat kamu di sini, Mamah sepanjang malam menangis." ucap buk Linda.
Gerwyn menggeleng kan kepala nya.."Aku harus menanggung ini semua mah, ini adalah kesalahan ku."
"Tapi buka seperti ini cara nya nak, kamu bisa meminta maaf dan berbuat baik pada istri kamu." ucap buk Linda.
"Tidak mungkin dia memaafkan aku mah, bahkan dia tidak mau melihat wajah ku." ucap Gerwyn.
"Apa kamu sudah menemui nya?" Gerwyn mengangguk.
"Dia sudah sadar mah,"
"Syukur lah kalau sudah bangun, lebih baik kita pulang dan meminta maaf pada nya." ucap buk Linda.
Gerwyn Menggeleng kan kepala nya.
"Aku mohon Mah biar kan aku menebus kesalahanku seperti ini." ucap Gerwyn.
Buk Linda terdiam dia hanya bisa menangis.
"Seandainya saja aku begitu tega seperti Ayah kamu Sophia, aku tidak akan keperdulian kamu, tapi aku tidak Setega pria itu." batin Gerwyn.
Dia menangis tiba-tiba karena mengingat jenazah almarhum papah nya yang penuh dengan darah di pelukan nya.
__ADS_1
Dia meminta tolong pada orang yang di sana namun tidak ada yang perduli